Adakah objektivitas dalam estetika?

Dilihat 1,96 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Jika berbicara tentang objektivitas dalam estetika, jawaban yang bermunculan pun sangat banyak. Estetika itu sendiri bervariasi secara luas, karena kita tumbuh berkembang dalam ruang lingkup bahasa dan kebudayaan yang luas pula. Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya.


Secara umum, estetika adalah cabang filsafat yang membahas keindahan, sedangkan pandangan setiap manusia tentang keindahan itu pun beraneka ragam. 


Ada banyak pendapat tentang estetika menurut para ahli, salah satunya menurut seorang ahli yang bernama K. Kuyupers. Menurut beliau, estetika adalah segala hal yang berlandaskan pada sesuatu dengan pengamatan. Hal itu sama seperti bagaimana pendapat kita tentang suatu musik, film atau buku, itu semua terbentuk berdasarkan nilai estetis dalam pikiran kita dan nilai estetis setiap orang tidaklah sama.


Kembali lagi ke pertanyaan "apakah ada objektivitas dalam nilai estetika?" Di bawah ini saya akan menjelaskan bagaimana unsur estetika dan hubungannya dengan objektivitas seseorang.

      


estetika


Objektivitas Dalam Estetika


Karena otak membentuk kerangka estetika dan manusia memiliki otak yang serupa, maka kemungkinan terdapat semacam estetika yang umum. 


Di sini saya berspekulasi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli vs Ramachandran, tapi saya curiga bahwa estetika umum apapun yang kita miliki tingkatannya sangat rendah


Yang saya maksud adalah adanya kombinasi warna atau bentuk yang memiliki efek yang sama terhadap otak yang normal, misalnya Hamlet, saya meragukan bahwa kita semua akan meresponya dengan cara yang sama. 


Jadi dari tingkatan di mana kita cenderung menilai seni, saya akan mengatakan bahwa hampir tidak ada yang namanya objektivitas dalam estetika. Tidak ada bukti mengenai keberadaan hal tersebut. Bukti yang ada hanyalah orang-orang yang mengaku menilai estetika secara objektif. 


Jika saya benar, maka jarak terdekat kita dengan objektivitas dalam estetika adalah:


  1. Estetika dimiliki oleh sekelompok orang yang otoriter. Misalnya, "Sebagian besar para ahli setuju bahwa..." hal ini tidak bisa dibilang objektif. Hal tersebut bergantung pada satu orang yang secara subjektif memutuskan bahwa para ahli memiliki kewenangan. Jika saya mengatakan, "Saya tidak peduli apa yang dikatakan oleh 100 orang ahli" saya mungkin akan terlihat aneh, tapi siapa yang bisa bilang bahwa saya salah?
  2. Kerangka estetika yang sewenang-wenang. Misalnya, jika anda memutuskan dengan alasan apapun, untuk menggunakan kerangka yang lebih menghargai hal yang abstrak dibanding gambaran jelas lalu 'secara objektif' (dengan kata lain, mengacu pada kerangka daripada penilaian pribadi) maka anda akan lebih memilih Jackson Pollack daripada Edward Hopper. Hal ini hampir sama dengan point pertama, anda secara subjektif memilih untuk menggunakan kerangka tertentu di luar diri anda.
  3. Estetika yang didasarkan pada trend kebudayaan. Orang-orang yang dibesarkan dengan cara yang sama cenderung memiliki nilai-nilai yang sama, 'irama' yang sama, dsb. Jadi mereka cenderung memiliki selera yang sama. Selera tersebut 'objektif' (atau terlihat objektif) dalam artian bahwa "SEMUA ORANG setuju bahwa The Beatles adalah band yang paling bagus!" Semua orang menjadi 'orang yang penting' bagi orang yang membuat penilaian estetik. Menurut mereka, penilaian tersebut memang objektif, seperti point pertama dan kedua, penilaian tersebut objektif dikarenakan faktor eksternal di luar dirinya; sebuah trend yang tidak dia mulai. Secara tidak langsung, nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka itu membangun suatu unsur estetika dalam diri suatu individu.

(Kita seringkali salah menganggap 'objektif' dengan "sesuatu yang berasal dari luar diri kita" dan hal ini tidak mengherankan. Jika sesuatu berasal dari luar diri anda, anda tidak bisa langsung menunjuk ke sumbernya, sehinggal hal tersebut terasa objektif).


Untuk melihat lebih dalam point ketiga; jika anda membesarkan atau mendidik seseorang dengan cara tertentu, orang tersebut CENDERUNG akan memiliki selera tertentu: ada banyak orang yang tidak menyukai Shakespeare. Tapi jika anda membesarkan seseorang dalam lingkungan yang sering menggunakan berbagai macam kata-kata, membawanya melihat pertunjukan Shakespeare, mendukungnya untuk menulis, maka kemungkinan besar dia akan menjadi seperti Shakespeare.


Kurang lebih, inilah yang disebut dengan 'kecanggihan'. Jika anda mengenalkan seseorang sejak usia dini pada berbagai macam alat musik, termasuk musik klasik, dia cenderung akan besar sebagai orang yang menganggap musik klasik sebagai bentuk musik yang paling 'tinggi'. 


Tapi apakah dia benar bahwa musik klasik memang lebih baik dari, katakanlah musik disko atau hip hop? Dari segi apa dia bisa dibilang benar? 


Dia memang sangat menyulai musik klasik, orang-orang yang membesarkannya juga sangat menyukai jenis musik itu, tapi lalu kenapa? Pada akhirnya yang bisa kita simpulkan hanya bahwa orang yang dibesarkan dengan cara tertentu cenderung memiliki selera yang sama. 


Dari rangkuman segala hal yang saya tulis di atas, selain dari beberapa hal yang sangat sederhana adalah bahwa tidak ada yang namanya objektivitas dalam estetika. Saya sangat terbisasa dengan pemikiran ini selama bertahun-tahun. Begitu terbiasanya sampai-sampai pikiran bahwa ada yang namanya objektivitas dalam estetika merupakan hal yang aneh bagi saya. 


Tapi saya masuk dalam golongan minoritas. Ketika orang-orang mendengar pandangan saya, mereka biasanya akan berkata, "Apa kamu BENAR-BENAR mengatakan bahwa Mozart jauh lebih unggul dari Justin Bieber atau Shakespeare lebih baik dari Dan Brown bukan merupakan hal yang objektif? Yang benar saja!"


                                  shakespeare

Ya, saya memang berpendapat demikian. Karya Shakespeare memang memiliki kualitas yang berbeda dari Dan Brown, dan banyak dari kualitas tersebut dapat diukur secara objektif: 


Karya Shakespeare lebih memiliki banyak lapisan, lebih menggunakan banyak permainan kata, dst. Tapi kalau anda mengatakan bawah "karena itulah karyanya lebih baik" anda menambahkan pertimbangan nilai yang tidak intrinsik terhadap karya itu sendiri. Anda mengatakan bahwa semakin berlapis-lapis dan tinggi suatu karya, maka karya tersebut lebih baik. Anda tidak memliki bukti untuk hal itu.


Tentu anda bisa saja mendefinisikan 'lebih baik' sebagai 'lebih banyak lapisan', tapi anda hanya bermain kata-kata. Namun begitu, saya tetap merasa bahwa Shakespeare lebih baik. Saya rasanya ingin berteriak, "Dia memang lebih baik" saya rasa hal ini (ketika seseorang merasa sesuatu benar secara fundamental tapi tidak memiliki bukti untuk menguatkan pernyataannya) cenderung menunjukkan sesuatu yang penting. 


Memang tidak benar-benar menunjukkan bahwa objektivitas dalam estetika benar-benar ada. Tidak ada (selain mengenai warna dan garis yang sederhana).


   

the beatles


Justru saya pikir hal tersebut menunjukkan kekuatan yang luar biasa dari seni. Ketika anda melihat (atau mendengar atau semacamnya) sebuah karya yang mempengaruhi anda secara mendalam, tapi rasanya hal tersebut tidak mempengaruhi anda. Tapi seolah-olah merupakan hal yang umum. 


Ketika seseorang mengatakan, "Saya sangat menyukai The Beatles" kelihatannya sangat tidak signifikan untuk menjelaskan apa yang saya pikirkan ketika mendengar mereka mengatakannya. Ketika saya mengatakan, "Banyak orang yang sangat menyukai The Beatles" kedengarannya juga sangat sepele.

Lebih terdengah tepat untuk mengatakan "The Beatles memang luar biasa!" walaupun belum tentu demikian. Mereka tidak luar biasa dari sisi yang objektif. 


Jika anda mengatakan, "Tidak, mereka tidak luar biasa" tidak ada cara objektif yang bisa saya lakukan untuk saya mengatakan bahwa anda salah. Saya bisa mengatakan, "Banyak orang yang setuju dengan saya" atau "Mereka banyak mendapatkan pujian" tapi anda bisa saja mengatakan, "Lalu kenapa?" pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa, "Mereka meang hebat" tanpa mendeskripsikan kualitas objektifnya. 


Saya merasa bahwa kebutuhan untuk menempatkan objektivitas dalam estetika berhubungan dengan dua hal:


  1. Bagaimana perasaan anda ketika menggunakan kata-kata yang mendeskripsikan The Beatles (atau apapun). "Saya sangat menyukai mereka" saja tidak cukup untuk hal ini. Anda ingin memperlihatkan bagaimana membuat jiwa anda tersentuk. MEREKA.LUAR.BIASA.
  2. Keinginan yang mendalam untuk terhubung dengan orang lain. Jika The Beatles mempengaruhi saya secara luar biasa, tidak mungkin mereka tidak mempengaruhi orang lain dengan cara yang sama. Mereka PASTI melakukannya. Jika anda mengatakan bahwa mereka tidak mempengaruhi anda, anda hidup dalam penyangkalan, bodoh, dsb. Pokoknya, orang NORMAL pasti terpengaruh oleh mereka seperti yang saya rasakan.


Jika anda kembali berpikir tentang adakah objektivitas dalam estetika, semua itu kembali lagi ke pribadi orang masing-masing. Namun bagaimanapun hal ini akan tetap jadi perdebatan tergantung ke arah mana cara pikir suatu individu itu terarah.


Semoga ini membantu : )


Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang