Apa cara terbaik untuk menghilangkan insomnia?

Dilihat 2,76 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Saya menderita insomnia yang melelahkan setidaknya selama 4 tahun (ingatan saya kabur tentang masa-masa itu - hei! saya kurang tidur, ayolah!). Saya mencoba hampir semua solusi yang ada di pasar - sleep hygiene, pengobatan alami, ayurveda/siddha (Sekolah Pengobatan India), rezim latihan yang melelahkan termasuk senam aerobik dan kardiak, meditasi, diet khusus, semua pil di pasar mulai dari Alprazolam (Xanax) hingga Zolpidem Tartatare dan bahkan suplemen Melatonin. Psikoterapi dan yoga sambil menyanyikan mantra-mantra (saya putus asa!). Singkat cerita - TAK ADA SATUPUN YANG BERHASIL!


Mungkin, lebih tepatnya, obat-obat itu manjur untuk beberapa saat saja dan saya akan menjadi kebal terhadap obat-obatan itu dan semuanya kembali seperti semula! Saya sedih - keluar dari pekerjaan, sering menggerutu, depresi dan membuat orang lain depresi, saya berjalan layaknya hantu di antara orang-orang.


NAMUN KEMUDIAN, saya menemukan sesuatu yang mengatasi masalah saya dengan efektif dan sejak itu saya tak punya masalah dengan tidur. Sekarang, saya ragu mungkin saya justru berkembang ke arah sebaliknya atau Hypersomnia! Itu benar-benar manjur dan anda tak perlu keluar uang sepeser pun, tak perlu menemui seorang pun, atau berpindah dari tempat duduk anda sedikit pun!


Sebenarnya saat itu saya menemukan solusinya saat Chennai dihantam banjir. Saya sedang berkunjung ke Chennai untuk sebuah wawancara dan terperangkap banjir. Saya berenang (tidak, tidak kok!) ke rumah bibi saya. Ia tinggal di lantai pertama sendirian dan sedih. Saya tak punya baju ganti, begitu juga ia tak punya baju untuk laki-laki. Lalu ia memberi saya sebuah handuk, yang saya belitkan di sekitar pinggul dan merebahkan diri di atas Divan (Sofa India).


Ketinggian air mencapai jalan raya dan penghuni yang lain dengan cepat meninggalkan rumahnya. Jadi saat itu hanya ada saya, diri saya sendiri, arthritis, bibi saya yang menjanda tanpa anak dan percakapannya dengan dirinya sendiri. Listrik mati dan transportasi tak berfungsi, jadi benar-benar tidak ada jalan keluar dari situasi itu, kecuali jika saya mau berjalan melewati air setinggi dada - pergi tak tahu kemana - yang saya memang tak melakukannya!


Perlahan, seiring tenggelamnya matahari, atau kapanpun itu sinar matahari masih tersisa (saat itu juga masih hujan!) dan hari mulai gelap, kegelisahan saya untuk tidur mulai datang. Saya makan malam dengan lampu lilin, yang disajikan bersama bibi saya yang menggaruk-garuk berlebihan (bibi saya juga punya kondisi kulit yang (semoga!) tak menular). Saya minum air dan kembali beristirahat di atas divan, masih dengan berbalut handuk. Seluruh bagian rumah basah dan gelap dan amat sangat sunyi kecuali suara hujan turun. Saya duduk dan memandang kegelapan, tak ada yang terjadi. Lebih banyak lagi kekosongan. Beberapa nyamuk mendengung di telinga saya. Lagi-lagi kosong. Saya hanya duduk di sana seperti orang bodoh dan tak tahu apa-apa, bosan dan menunggu sesuatu terjadi, tapi benar-benar tak ada apapun yang terjadi. Saya menatap layar handphone - baterainya sudah sekarat, berkedip-kedip, hampir mati - mati!


Kemudian saya berbaring, lelah dan kehabisan akal. Pikir saya, ini adalah malam terpanjang dalam hidup saya. Selimutnya kekecilan dan tak mampu menutupi kedua ujung tubuh saya. Saya tenggelam dalam suatu banjir yang mengasihani diri saya sendiri. Malam berlalu. Tidak tidur atau kurang tidur. Tak terasa waktu berlalu begitu saja, bagi saya kelihatannya, dalam keabadian hujan. Saya merindukan orangtua, anjing peliharaan, rumah, berjarak 150km dari neraka-air ini, semuanya bahagia, terpisah oleh jarak tak terbatas.


Lalu tiba saatnya sarapan pagi, semuanya masi dalam kondisi yang sama! Saya tak mampu membedakan satu momen dengan momen yang lainnya! Saya pikir saya akan jadi gila. Makan siang dan makan malam. Tak ada bedanya, dan akhirnya malam kedua tiba. Lelah dan ngantuk -- mengantuk -- hmm, saya pikir ini menarik dan berbaring dan lo! Esok paginya saya terbangun -- Saya benar-benar terbangun dari tidur yang menyegarkan. Itu cukup menjadi musibah yang mengerikan, yang saya pikir tak akan terjadi lagi. Namun malam berikutnya datang juga, dan saya tidur seperti bayi. Dua malam tidur nyenyak itu adalah berkah surga. Menarik.


Hujan telah reda dan air mulai turun. Hari keempat, pagi, matahari muncul dan saya mendapatkan bis yang pertama untuk keluar kota dan berhasil pulang ke rumah. Saya ceritakan semuanya kepada orang-orang, tapi tetap merahasiakan solusi-tidur saya. Saya ingin mengetesnya sekali lagi. Saat senja, saya beristirahat di kamar dan duduk, ya memang sebelum waktunya tidur dan saya menunggu - hanya menunggu - bukan untuk tidur. Saya menunggu dan ya, tibalah saatnya. Tidur malam yang ketiga. Yang keempat dan kelima dan terus menerus.



Jadi jika anda belum bisa menebak rahasianya. Rahasianya adalah kegelapan dan kebosanan. Saya lantas mempelajari jika memang ternyata faktanya itu adalah suatu bentuk pengobatan, tebak apa, ya memang itu adalah: Scototherapy atau "Terapi Kegelapan". Ini kutipan dari artikel wikipedia pada topik yang sama: Terapi gelap, disebut juga scototherapy, terapi pembatasan cahaya dan kegelapan, adalah suatu pengobatan yang melibatkan eliminasi semua cahaya, atau semua cahaya biru, pada lingkungan subjek, dalam jangka waktu beberapa jam sebelum waktu tidur. Terapi gelap memanipulasi ritme circadian yang bereaksi pada hormon dan neuro transmiter. Baru-baru ini (2005) diusulkan untuk mengkombinasikan manipulasi kronobiologis dari terapi cahaya/gelap dan/atau tidur/bangun dengan pengobatan psikofarmakologis untuk depresi sekaligus untuk ritme circadian penderita kelainan tidur. https://en.wikipedia.org/wiki/Dark_therapy - ini artikel lengkapnya.


Lihat betapa akuratnya hal itu bekerja bagi saya. Itulah mengapa saya memutuskan untuk menyimpan ceritanya sebagai bagian dari jawaban saya. Faktanya itu MANJUR dan apa yang bisa anda pikirkan tentang efek sampingnya? Terhuyung-huyung di pagi hari, pikiran jernih kembali, tubuh yang segar.


Satu hal penting yang ingin saya tambahkan pada Terapi Gelap yang sudah ada yakni kombinasi dengan kebosanan di dalamnya. Anda cukup duduk dan menunggu dan menunggu dan menunggu di kegelapan, tak peduli berapa lama, pada saatnya anda akan tertidur. Itulah mengapa saya ingin mengubah namanya menjadi Terapi Taedium, yang berarti Kegunaan Terapeutik dari Kebosanan (Therapeutic Use of Boredom). Lebih jauh lagi menggunakan apa yang disebut sebagai "Tujuan Paradoksikal" atau mencoba untuk tidak tidur mungkin membantu. Improvisasilah, Eksperimen, dan Atasi itu semua.


Ini langkah-langkah sederhananya :

  1. Cari tempat yang nyaman untuk duduk, tapi anda juga bisa berbaring di atasnya. Idealnya di atas ranjang
  2. Pastikan, hanya ada sedikit atau sama sekali tidak ada cahaya. Lebih baik tidak ada
  3. Tidak ada gangguan. Tak ada yang menarik perhatian di sekitar anda
  4. Jangan minum kopi sebelum bereksperimen
  5. Makan malam yang ringan - lebih baik dilayani oleh bibi yang punya penyakit kulit!
  6. Pakaian minim - yang nyaman untuk anda
  7. Tak ada jam atau kaca di dalam kamar
  8. Tak ada gangguan dari luar
  9. Cukup waktu untuk eksperimen. Idealnya saat liburan.
  10. Tanpa sugesti diri sendiri
  11. Duduk dan tunggulah, tak peduli berapa lamanya
  12. Berbaringlah saat anda merasa mulai mengantuk
  13. SANGAT SANGAT PENTING: JANGAN MENAHANNYA! (Anda layak tidur nyenyak. Setidaknya tubuh anda patut mendapatkannya!)
  14. Yang terbaik. Sebagaimana mereka mengatakan: "Alam adalah dokter terbaik - setidaknya untuk Insomnia!"

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang