Apa efek dari bukti perselingkuhan pada persidangan perceraian?

Dilihat 8,07 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Tidak semua pernikahan berjalan sesuai dengan apa yang telah anda pikirkan selama ini. Mungkin ada beberapa hal yang membuat anda tidak betah dengan suami atau istri anda, sehingga terbesit untuk melakukan perceraian. Menjalin ikatan pernikahan tidaklah mudah. Tidak hanya itu, saat anda ingin menyerah pada pernikahan anda, proses perceraian pun bukan suatu hal yang mudah. Anda harus melalui beberapa proses sebelum dinyatakan resmi bercerai. Proses tersebut pada umumnya akan memakan waktu beberapa bulan, tergantung data-data anda. 

Sidang perceraian dapat dilakukan jika terdapat alasan-alasan untuk melakukannya, penggugat bisa dari pihak istri maupun suami. Selain itu anda juga membutuhkan dana untuk jasa advokat, guna membantu anda untuk memperoleh kesepakatan-kesepakatan dalam hukum. 


perceraian



Perceraian dalam Hukum Indonesia


Di tiap negara memiliki hukum yang mengatur soal perceraian, tak terkecuali Indonesia. Perceraian memiliki hukum tersendiri yang diatur dalam UU Perkawinan No. 1 tahun 1974. Dalam pasal 39 dalam UU tersebut dijelaskan syarat-syarat melakukan perceraian, diantaranya sebagai berikut :

  1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
  2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri. 
  3. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersendiri.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang mengatur tata cara perceraian menyebutkan alasan-alasan terjadinya perceraian, yakni :

  • Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; 
  • Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya; 
  • Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung; 
  • Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain; 
  • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri; 
  • Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

proses perceraian


Alasan yang sering anda dengar adalah karena pasangan merasa tidak cocok atau terjadinya perselingkuhan. Nah, jika suami atau istri anda berselingkuh, anda bisa menjeratnya dengan pasal perselingkuhan yang diatur dalam pasal 284 KUHP. Suami atau istri anda nantinya akan terkena hukum pidana, tergantung dari keputusan hakim di persidangan. Namun, pasal 284 KUHP ini tidak dapat dituntut jika tidak ada pengaduan baik dari pihak suami ataupun pidak istri yang dirugikan. 


Jawaban singkatnya ialah semua ini akan bergantung pada yurisdiksi anda, namun, secara umum, ketidaksetiaan bisa menjadi faktor penentu dalam pembagian aset. Suami atau istri pasti memiliki alasan dalam melakukan perselingkuhan


Deskripsi sebelumnya menjelaskan efek perceraian tanpa cacat secara tidak tepat. Perceraian tanpa cacat ada di 50 negara bagian. Semua perceraian tanpa cacat diartikan sebagai perceraian saat salah satu subjek menginginkan perceraian, dimana subjek tersebut bisa bercerai tanpa harus membuktikan bahwa subjek terlibat lainnya telah melakukan kesalahan. Perkara ini identik dengan perceraian yang dilakukan berdasar alasan 'perbedaan yang tidak bisa diatasi'. 


Kendati begitu, cara-cara menyelesaikan perceraian tidak berpengaruh pada pembagian aset. Banyak yurisdiksi yang menganggap perceraian dengan kecacatan seperti kekerasan serta ketidaksetiaan bisa jadi hanya rekayasa. Pada intinya, beberapa negara bagian telah mengikuti peraturan ketat soal properti bersama (yaitu, properti yang terpisah akan diberikan 100% pada pemilik individualnya, sedangkan properti bersama akan dibagi 50/50). Sedangkan negara bagian lain, bahkan untuk pembagian properti bersama bisa diatur berdasarkan asas keadilan, seperti misalnya apa suatu subjek bertanggung jawab atas berakhirnya pernikahan ini. 


cerai karena selingkuh


Dan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, beberapa negara bagian mengijnkan suatu subjek untuk mengajukan permohonan cerai dengan kecacatan, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembagian aset. Jika suami Anda menggunakan aset yang seharusnya milik Anda ataupun milik bersama saat pernikahan untuk membiayai pihak ketiganya, hal ini juga bisa berdampak pada pembagian aset. 


Jadi hal ini sangat mungkin, bergantung tempat Anda tinggal, dimana pasal perselingkuhan bisa menjadi faktor penentu dalam penyelesaian akhir perceraian. Terlebih lagi, perlu untuk diingat bahwa apapun hukum di negara bagian Anda, hampir semua perceraian -bahkan yang diperebutkan- diselesaikan dengan pernjanjian tengah. 


Jika salah satu objek dan pengacaranya hendak menegosiasikan suatu resolusi, termasuk pembagian aset, resolusi ini akan diberikan kepada hakim untuk persetujuan, mengingat bahwa terjadinya perselingkuhan dalam suatu rumah tangga bisa memberikan pengaruh dalam negosiasi perjanjian akhir yang diinginkan. Anda harus terlebih dahulu berbicara dengan pengacara. Hal seperti perselingkuhan, meskipun didukung dengan bukti, tidak akan memberikan dampak signifikan pada proses perceraian dan pembagian aset di sebagian negara bagian. Namun, pada umumnya secara universal, dan beberapa negara bagian, bukti solid dari perselingkuhan bisa membantu proses kasus perceraian. 


pasal perselingkuhan


Jadi jika berbicara mengenai hukum, baik proses perceraian ataupun hal lainnya, maka yang diperlukan adalah bukti. Kita tidak bisa semena-mena menuntut hanya karena dugaan atau asumsi semata saja. Apapun yang anda bicarakan di depan hukum tanpa adanya bukti dianggap hal yang tidak berdasar. Apabila anda mengatakan bahwa suami anda berselingkuh, disinilah peran bukti perselingkuhan itu akan digunakan. 


Namun, jika anda tidak bisa membuktikannya, anda tidak bisa membawa kasus perselingkuhan yang anda alami kepada hukum. Perlu anda ingat bahwa tidak semua perceraian dikarenakan adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu pihak. Jika istri atau suami mampu memaafkan saat salah satu pihak selingkuh, maka perceraian tidak akan terjadi. 


Apabila anda ingin menuntut pihak yang berselingkuh dan memiliki bukti yang kuat atas perselingkuhan yang dilakukan oleh suami atau istri anda, maka anda berhak untuk menjeratnya dengan pasal perselingkuhan sesuai dengan yang tertera di atas. Jadi, anda harus tahu dengan pasti bagaimana gelagat orang yang berselingkuh. Kemudian untuk tindakan lebih lanjut, semua tergantung dengan keputusan diri anda masing-masing.


Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang