Apa efek samping dari suntik anti-D pada janin?

Dilihat 3,93 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1


Sebagaimana kita ketahui Setiap orang terlahir dengan golongan darah A, B, AB atau O. Pengelompokan darah tersebut diklasifikasikan berdasarkan kandungan protein yang bernama Rhesus. Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Golongan darah dengan rhesus positif ditandai dengan simbol (+) di belakang golongan darah, contoh: A+, B+, AB+, O+. Sebaliknya, bila  golongan darah Anda digolongkan sebagai rhesus negatif (Rh-), biasanya ditandai dengan simbol (-) di belakang golongan darah Anda, contoh: A-, B-, AB-, dan O-.


Rhesus adalah nama yang diambil dari nama salah satu kera yang banyak ditemui di Cina dan India. Kera rhesus ini juga menjadi alat eksperimen Landsteiner dan Weiner dulu. Mereka lah yang menemukan Antigen Rhesus. Sebelum ditemukan antigen ini, orang-orang masih beraggapan bahwa darah A bisa ditransfusikan dengan sesama A. begitu juga dengan darah yang lainnya, terkecuali O yang bisa ditransfusi kemana saja.


Faktor Rh menggambarkan adanya partikel protein (antigen D) di dalam sel darah seseorang. Bagi yang ber-Rh negatif berarti Anda kekurangan faktor protein dalam sel darah merahnya. Sedangkan yang ber-Rh positif memiliki protein yang cukup. Delapan puluh lima persen dari populasi kita memiliki faktornya dan memiliki Rh positif. Sisanya 15 persen tak memiliki faktor tersebut dan memiliki Rh negatif. Rhesus negatif sering dijumpai pada ras Kaukasian atau orang-orang kulit putih. Sedangkan di Indonesia, orang dengan rhesus negatif jumlahnya diperkirakan hanya kurang dari satu persen dari total seluruh populasi. 


Efek Perbedaan Rhesus antara Ibu dan Janin


Sebenarnya, faktor Rh tidak berimbas langsung pada kesehatan. Namun bila seorang wanita dengan rhesus negatif mengandung bayi dari pasangan yang mempunyai rhesus positif, maka ada kemungkinan sang bayi mewarisi rhesus sang ayah yang positif. Dengan demikian akan terjadi kehamilan rhesus negatif dengan bayi rhesus positif. Kondisi ini biasa disebut inkompatibilitas Rh. Ketika si ibu memiliki Rh- sedangkan si janin memiliki Rh+, maka tubuh ibu akan mengenali Rh+ tersebut sebagai sesuatu yang asing di tubuh si ibu. maka ada risiko yang terjadi pada anak Anda. Inilah yang menimbulkan ancaman pada janin yang dikandung. 


Kondisi yang meliputi terjadinya perbedaan Rhesus pada ibu dan bayi dalam kandungan menimbulkan ketidakcocokan. Kasus ketidak cocokan bisa mengakibatkan kerusakan  pada sel darah merah bayi dalam kandungan, atau yang disebut dengan erytroblastosis foetalis dan hemolisis. Ketika ilmu kediktokteran belum semaju saat ini, Hemolisis pernah menjadi merupakan penyebab umum kematian janin dalam rahim, disamping hydrop fetalis, yaitu bayi yang baru lahir dengan keadaan hati yang bengkak, anemia dan paru-paru penuh cairan yang dapat mengakibatkan kematian.


Pada dasarnya ketika seorang wanita mengandung, darah janin di dalam kandungan tidak mengalami kontak langsung dengan darah ibunya. Selama di dalam kandungan, janin dilindungi oleh plasenta yang bertugas sebagai penghalang antara sel-sel darah merah ibu dan janin. Namun, meskipun telah dilindungi oleh plasenta, terkadang masih ada kemungkinan kecil kondisi darah janin masih dapat melintas ke dalam pembuluh darah ibunya. 


Oleh sebab itulah seorang ibu dengan rhesus negatif dan memiliki peluang untuk mengandung bayi dengan rhesus positif perlu segera memeriksakan diri ke dokter kandungan. Karena dalam beberapa kasus tertentu, jika Ketidakcocokan atau inkompatibilitas Rh tidak dicegah, keadaan ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi, diantaranya: Kerusakan otak pada bayi, masalah dengan kesehatan mental, pergerakan, pendengaran, dan kemampuan bicara pada aak, kejang-kejang, gagal jantung, bahkan kematian pada bayi.


Umumnya, resiko terjadinya dampak negatif akibat perbedaan Rhesus antara ibu dan janin lebih sering terjadi pada kehamilan kedua. Pasalnya, tubuh seorang wanita baru akan memproduksi antibodi atau anti-rhesus pasca kehamilan pertama. Pembentukan ini terjadi antara 42 hingga 72 jam pasca persalinan. 


Metode Injeksi Rh-immune globulin/Rhogam


Bagi Anda seorang ibu yang sedang mengandung tidak perlu khawatir akan hal ini. Saat ini pengobatan modern telah menemukan perawatan untuk masalah ini.  Ibu yang memiliki rhesus negatif dengan janin yang berhesus positif akan diberikan imunisasi bayi berupa injeksi obat Rh-immune globulin (Rhogam), atau lebih dikenal dengan suntik anti-D. 


Rhogam ini akan menghancurkan sel darah merah janin yang beredar dalam darah ibu sebelum sel darah merah itu memicu pembentukan antibodi yang dapat menyeberang ke dalam sirkulasi darah janin. Dengan demikian sang janin akan terlindung dari serangan antibodi.


Namun, perlu diketahui bahwa kita perlu melakukan pemesanan untuk injeksi Rhogam ini. Hal ini disebabkan karena langkanya kejadian kehamilan dengan rhesus negatif, sehingga tidak semua apotik menyediakan injeksi RhoGam ini. Bahkan kerapkali pasien harus memesan terlebih dahulu minimal 5-7 hari sebelum dibeli.


Apa Efek Samping dari Suntik Anti-D (Rh-immune globulin/Rhogam) pada Bayi?



Suntik Anti-D/Rhogam pada sebagian banyak kasus akan diberikan pada awal trimester pertama usia kehamilan, sebelum bayi lahir dan maksimal suntikan Rhogam untuk ibu sebaiknya diberikan dalam waktu maksimal 72 jam setelah melahirkan. 


Pemberian imunisasi bayi yang dilakukan dengan tepat, dapat meningkatkan peluang angka keselamatan bagi janin hingga 99.93 persen. Pada kasus keguguran, aborsi, dan terminasi pun injeksi ini perlu diberikan. Injeksi rhogam terus diulang pada setiap kehamilan untuk menghindari telah terbentuknya antibody melalui kebocoran darah pada janin. Tidak seperti antibodi yang akan bertahan seumur hidup, rhogam akan habis dalam beberapa minggu, karena itu, ia cukup aman bagi janin.


Suntik anti-D (Rh-immune globulin/Rhogam) tidak memiliki efek samping negatif apapun pada bayi. Bahaya imunisasi menggunakan injeksi Rhogam saat seseorang hamil/ melahirkan sampai saat ini belum pernah terjadi. Sang Ibu juga masih bisa menyusui setelah injeksi tanpa efek samping apapun.


Sedangkan bagi sang Ibu sendiri, mungkin merasa lemas atau tegang di tempat diberikannya injeksi. Hal ini akan berlalu dalam beberapa jam. Ada kalanya bisa terjadi panas atau gatal-gatal namun ini hal pun sangat langka terjadi. Jadi bahaya imunisasi dengan diberikannya suntik Anti-D pada Ibu tidak memiliki efek samping apapun baik untuk ibunya maupun bayi itu sendiri. 


Di sisi lain, untuk beberapa kasus pemberian suntik anti-D tidak perlu dilakukan. Beberapa kasus khusus tersebut antara lain?

1. Kehamilan muda dibawah 7 minggu, kecuali dalam kondisi tertentu.

2. Janin juga memiliki rhesus negatif, hal ini dipastikan bila ayah janin juga memiliki rhesus negatif.

3. Tubuh seorang ibu yang mengandung telah memproduksi antibodi.

4. Seseorang yang sudah dipastikan tidak akan mengalami kehamilan atau melahirkan.



Lazimnya, seorang calon ibu akan menjalani serangkaian tes kesehatan untuk menghindari adanya pelbagai kemungkinan negatif saat kehamilan. Oleh sebab itu, untuk menjaga keselamatan dan kesehatan bayi, alangkah baiknya untuk melakukan tes darah sebelum kehamilan. Hal ini akan sangat berguna bagi calon ibu untuk mengetahui peluang terjadinya kelainan atau faktor gen yang tidak diinginkan sejak dini. Tentunya mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?? Semoga bermanfaat!!

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang