Apa hal paling romantis yang pernah dilakukan seseorang untukmu?

Dilihat 1,68 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Hanya 15 hari mengenal satu sama lain melalui chatting dan obrolan lewat telepon, kami tahu kami punya chemistry. Dia tidak pernah menghakimi saya karena cacat yang saya miliki, kenyataannya dia mengatakan bahwa dia tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai "buta warna sebagian" yang saya derita. Kami selalu mengobrol melalui whatsapp hampir sepanjang hari.


Pada suatu hari, percakapan kami berlangsung seperti ini:

Dia : "Jadi kamu mau kita pergi kemana di kencan pertama?"

Saya yang gembira: "Itu kan kota kamu, coba kamu pilih tempatnya, masa' aku yang harus pilih?"

Dia:"Ok. Ada tempat yang bagus yang pie apelnya enak banget. Kamu suak pie apel?"

Saya: "Aku suka yang manis - manis. Tapi kalau makan aku suka berantakan, apalagi kalau pakai sendok dan garpu. Kalau kamu ga ngerasa malu, ya.. ajak aku ke sana"

Dia: "Okeee.. Emang kamu biasanya seberantakan apa kalau makan?"

Saya yang bingung: "Hmm.. Biasanya sih ga. Tapi kalau misalnya berantakan, ga parah juga sih. Paling ngejatuhin sesuatu ke lantai."

Dia : "Yaaahh.. Asal kamu ga nyiram aku pake secangkir kopi sih aku ga masalah."

Saya:"Haha.. Emangnya menurut kemungkinan kalau aku bakal ngelakuin itu ga lebih tinggi daripada ngejatuhin makanan?"

Dia: "Hmmm.. Iya juga ya.. Tapi aku ga bakalan macem - macem deh, janji."

Saya: "Ok, kasih tau tanggal, waktu dan tempatnya ya."

Dia:"Kamu yang tentuin tanggalnya, nanti aku jemput."

Saya: (tersenyum) "Ok ☺️" 

Tanggal 18 Maret 2016 jam 15:35, saya keluar dari apartemen dan menelepon dia,


Saya:"Kamu dimana?"

Dia:"Pas di depan apartemenmu"


Saya melihat ke kanan dan dia ada di sama, duduk di atas mototnya dengan helm di kepalanya sembari tersenyum lebar. Saya langsung mengenalinya. Saya berjalan ke arahnya pelan - pelan, berusaha keras agar tidak terjatuh.


Saya:"Halo"

Dia:"Hai. Udah siap buat jalan?"

Saya:"Iya. Kamu ga susah cari alamatku kan?"

Dia:"Ga kok. Aku sering pergi ke gereja deket sini."

Saya:"Wah, kebetulan banget"

Kami berbicara mengenai berbagai hal selama di perjalanan. Dia parkir motornya.
Saya:"Aku boleh pegang tangan kamu ga?"

Dia:(dalam nada yang dibuat terkejut)"Wah, cepet banget".

Saya merasa malu dan memukul lengannya dengan main - main dan memegang tangannya.

Saya: "Geer deh. Penglihatan aku ga bagus. Kalau aku jatoh kamu harus bayar biaya pengobatanku."


Dia tertawa dan memegang tanganku. Kemi berjalan ke restoran. Kami masuk ke restoran dan baunya enak sekali di dalam sana. Pilihan yang bagus, dia punya selera yang bagus. Kami duduk dan pelayan datang memberikan menu makanan. Saya mulai membacanya dengan serius.

Dia:"Aku pesen pie apel, kamu?"

Saya:"Aku mau coba pie coklat Austria, kelihatannya menarik".


Kami memesan dan saya memperhatikannya dengan gugup, berusahan fokus pada keistimewaannya di dalam pencahayaan lampur restoran yang redup. Saya sadar dia menatap tepat ke mataku. Dengan gugup saya berpaling dan mengatakan agar dia tidak memandang saya. Kemi berbincang - bincang dan tertawa mengenai lelucan yang konyol. Setelah beberapa waktu, pie kami datang. Ketika saya mulai menggunakan garpu saya untuk makan pie, dia sadar bahwa saya kesulitan.


Dia: (mengambil garpunya dan memotong pie saya)."Sini aku bantuin. Buka mulut kamu". 


Dia menyuapi saya sepotong besar pie. Setengahnya masuk ke mulut saya, setengah lagi jatuh ke atas meja, di atas hp saya! Saya mengatakan kepadanya kalau saya akan makan sendiri. Dia setuju. Sebelum saya bahkan sempat berpikir untuk mengambil potongan lain, lampunya mati!


Dia: "Hmmm.. Ga ada pilihan lain selain aku nyuapin kamu kan?"

Saya: "Hmm.. Ok, tapi jangan banyak - banyak ya"

Dia: "Maaf ya, aku belum pernah ngelakuin ini sebelumnya"


Saya tahu dia tidak berbohong dengan melihat usaha yang dia lakukan setiap menyuapi saya. Setiap kali menyuapi dia bertanya "Segini gapapa?", "Atau mau lebih kecil lagi?". Dia sungguh manis dan menawan! Setelah beberap suapan, segalanya menjadi lebih alami bagi kami. Saya terus berbicara dan dia terus bergantian makan dan menyuapi saya. Lampu kembali menyala setelah kami selesai makan pie. Kami tertawa, kami membicarakan hal yang serius, itu merupakan kencan pertama terbaik yang pernah saya alami.


Saya adalah orang yang percaya diri meskipun saya buta warna parsial. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya gugup dan kehilangan kepercayaan diri, seperti makan dengan orang baru, pergi ke tempat  baru sendirian dimana saya tidak tahu situasinya. Saya merasa nyaman dengan teman - teman dan keluarga karena mereka tahu seandainya makan saya berantakan, itu karena saya tidak dapat melihat dengan jelas dan mereka akan mengabaikannya. Tapi kalau saya bersama dengan orang baru, saya akan merasa malu kalau menjatuhkan atau menumpahkan sesuatu.

Tapi bersamanya saya merasa sangat nyaman. Saya terhanyut oleh kepolosannya (lebih ke tingkah anak - anak) dan kesederhanaannya. Dia tidak berusaha berpura - pura dan menurut saya itu sangat manis. Menyuapi saya pie coklat yang sangat lezat pada kencan pertama kami merupakan hal paling romantis yang pernah dilakukan seseorang untuk saya!

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang