Apa indikasi/gejala awal bahwa seorang bayi/balita memiliki asma?

Dilihat 625 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Asma adalah suatu kondisi kronis dimana terjadinya penyempitan dan pembengkakan saluran napas disertai produksi lendir yang berlebihan dari saluran napas tersebut. Kondisi ini menyebabkan anak sulit bernapas, timbul gejala batuk, serta napas yang sesak dan berbunyi seperti siulan (mengi). Para ahli mengkategorikan kondisi ini sebagai gangguan kesehatan serius.


    


Asma dapat menyerang tanpa memandang usia, bahkan pada bayi dan usia balita sekalipun. Bahaya dari serangan asma pada bayi atau balita lebih besar ketimbang pada orang dewasa. Penyakit asma pada bayi dan balita menimbulkan kemungkinan efek fisik yang lebih berat. Namun gambaran klinis pada bayi dan balita sangat bervariasi. Intesitas dan berat ringannya serangan dapat berubah setiap waktu sehingga terkadang sulit mendiagnosanya. Bahkan dapat salah mendiagnosa. Akibatnya upaya pengobatan asma pun menjadi tidak maksimal. Hal itu dikarenakan penyebab dasar asma belum diketahui, jadi sebaiknya kita memang harus mengenal gejalanya. Namun sayangnya seperti yang telah disebutkan diatas gejala asma pada bayi atau balita sangatlah sulit di deteksi dikarenakan gejalanya hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. 

Nah, dalam artikel ini akan diuraikan penjelasan singkat mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara mengenai gejala asma pada populasi tertentu. Dengan membaca artikel ini sampai akhir, anda akan mendapatkan kesimpulan apa saja gejala asma yang kerap kali muncul pada bayi dan balita. Mari kita simak :


Faktor Pemicu Asma

Pertanyaan diatas adalah sebuah pertanyaan dimana bagi para dokter dan peneliti akan senang jika bisa menjawabnya dengan pasti. Namun sayangnya mereka memang belum bisa memberikan jawaban pasti.

Mengi (napas berbunyi)  yang dialami bayi dan balita adalah masalah umum di seluruh dunia; hampir 50% anak-anak dilaporkan mengalami mengi di tahun pertama kehidupan mereka. Hal ini biasanya akan membaik atau hilang dengan sendirinya, hanya sekitar 20% dari mereka yang akan terus mengalami mengi pada masa kanak-kanaknya.

Meskipun kita tahu bahwa mengi yang sering kambuh bisa menandakan adanya asma pada anak, namun kemampuan kita untuk mendeteksi atau memastikan bahwa gejala tersebut adalah gejala asma sangatlah terbatas. Oleh karena itu disini saya akan menguraikan beberapa faktor yang mungkin menjadi pemicu asma dari berbagai macam penelitian.  Namun sebelumnya kita harus mengetahui Indeks Prediktif Asma (API) yang merupakan indikator dalam penentuan penelitian tersebut. Berikut uraianya :

       


  • Indeks Prediktif Asma/Asthma Predictive Index (API)

Indeks Prediktif Asma (API) merupakan panduan untuk menentukan mana anak-anak kecil yang akan memiliki asma yang cenderung persisten.

Penelitian dari sekelompok anak-anak di Tucson, USA  yang mengalami mengi setidaknya sekali dalam tiga tahun pertama kehidupan.

  1. Kriteria mayor: Penyakit eksim atau sejarah asma pada keluarga
  2. Kriteria minor: Rinitis alergi, mengi selain pilek, Eosinofilia ≥4%

Keterangan : 

  1. Indeks lepas = setiap mengi+X; X=1 kriteria mayor atau 2 kriteria minor. 
  2. Indeks ketat = sama seperti indeks lepas, tapi dengan mengi yang lebih sering frekuensinya. 

Anak-anak dengan positif indeks lepas 4X, atau positif indeks ketat 7X lebih cenderung memiliki asma yang aktif.

 
  • Isle of Wight (Pulau Wight)

Informasi yang dikumpulkan secara prospektif dari populasi kelahiran di Pulau Wight, Inggris menunjukan bahwa  ada 4 faktor yang independen untuk memprediksi asma:

  1. Infeksi dada yang berulang di usia dua tahun
  2. Sejarah asma pada keluarga
  3. Tes tusuk kulit hasilnya positif, setidaknya pada satu makanan dan/atau adanya alergen inhalan (reaksi alergi pada substansi tertentu bulu binatang, debu, serbuk bunga dan lain-lain) pada usia empat tahun
  4. adanya gejala Infeksi saluran pernapasan 

Jika indeks bernilai 9X maka akan terjadi peningkatan resiko mengi berkepanjangan hingga usia 10 tahun dan itu terjadi pada anak-anak yang memiliki keempat faktor risiko diatas, dengan riwayat setidaknya satu episode mengi dalam empat tahun pertama kehidupannya. Mengi yang berkepanjangan hingga usia 10 tahun terdeteksi sebesar 83% pada anak-anak dengan keempat faktor risiko diatas, dan mengi yang tidak berkepanjangan (sementara) terdeteksi sebesar 80% pada anak-anak yang tak memiliki faktor-faktor risiko tersebut.


  • Environment and Childhood Asthma /ECA (Norwegia)

Data yang berasal dari studi kasus Environment and Childhood Asthma pada kelompok kelahiran di Norwegia menghasilkan kriteria berikut ini untuk dua tahun pertama kehidupan :

  1. Jumlah dari episode
  2. Gejala bertahan berbulan-bulan
  3. Banyaknya jumlah rawat inap akibat obstruksi bronkus (paru obstruktif)

Anak-anak dengan gangguan obstruksi bronkus selama dua tahun pertama kehidupannya secara signifikan memiliki resiko asma yang lebih tinggi pada usia 10 tahun dibandingkan mereka yang tidak memiliki gangguan obstruksi bronkus (masing-masing , 36% banding 6%). Ada hubungan linier antara nilai indeks yang tinggi dan risiko asma pada usia 10 tahun

 
  • The Prevalence and Incidence of Asthma and Mite Allergy (PIAMA)

Data yang berasal dari studi kasus Prevalence and Incidence of Asthma and Mite Allergy (PIAMA) pada kelompok kelahiran di Belanda mengidentifikasi ada 7 faktor risiko asma pada anak-anak usia 7-8 tahun, yaitu:

  1. Jenis kelamin laki-laki
  2. Kondisi paska dilahirkan
  3. Tingkat pendidikan orangtua menengah/rendah
  4. Frekuensi terjadinya mengi
  5. Mengi/ Dispnea (Sesak) selain pilek
  6. Adanya laporan dari orang tua mengenai infeksi serius pada anak
  7. Dokter mendiagnosa terjadinya eksim 

Anak-anak dengan nilai indeks yang  tinggi memiliki peningkatan risiko terkena asma di usia 7-8 tahun jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki nilai indeks yang rendah (masing-masing 42% banding 3%.


   


Itulah informasi mengenai studi klinis yang telah dilakukan di beberapa negara. Namun,harus anda ketahui bahwa asma pada anak balita masih bisa diatasi walaupun memang masih belum bisa disembuhkan. Tetaplah tenang ketika mengatasi asma pada bayi atau balita. Dengan menjaga gejala asma agar tetap dapat terkontrol dengan baik, lakukanlah kunjungan yang rutin ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih serius.(Baca: Bisakah penderita asma pergi ke gym?)


Terjawab 7 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang