Apa itu musik dangdut dan kenapa ulama muslim menentangnya?

Dilihat 496 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

http://en.wikipedia.org/wiki/Dangdut

Dangdut adalah aliran music dari Indonesia yang diadaptasi dari musik Malaysia, arab, dan hindu. Dikembangkan di akhir 1960 dan 1970 diantara pemuda bekerja di jawa, tapi dimulai dari akhir 1990 menjadi luas dan mengikuti kelas bawah dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina selatan.


Musik dangdut adalah salah satu dari aliran music Indonesia yang terkenal. Sangat lazim dan ternyata memiliki asal yang kuat di dalam budaya dari negaranya. Kebanyakan resepsi pernikahan (dari kebanyakan etnik, kelas kebawah, tapi jarang ada di kelas atas), perkumpulan massa, dan bahkan kampanye partai politik memakai music dangdut.


Di beberapa titik, music dangdut dijadikan alat untuk menyebarkan ajaran dan pesan-pesan islam. Raja dangdut yang diangkat, rhoma irama, yang menjadi pemusik dangdut terbesar di tahun 70an dan 80an, meneguhkan hal-hal seperti sex diluar nikah, korupsi, narkoba, dan perjudian menggunakan agama.


Tapi, seperti kebanyakan hal popular, dangdut memiliki kotroversinya sendiri.

Kebanyakan kritik mengatakan bahwa dangdut berkembang menjadi terlalu seksual. Kualitas yang melekaat dari siaran langsung yang mana music dangdut dimainkan untuk menarik orang-orang. Tidak berbeda dari siaran langsung yang lain, kan? Tapi sering pertunjukan dangdut mengenakan pakaian yang tidak semestinya (di standar Indonesia pastinya). Namun pakaiannya minim, yang membuat orang-orang marah (orang muslim, ulama muslim, dan banyak lagi di internet) adalah bagaimana cara pertunjukan dangdut. Di Indonesia disebut ‘goyangan’ atau (diterjemahkan secara harfiah) goyang. Penyanyi dangdut yang terkenal memiliki goyangannya sendiri. Seperti Inul Daratista dengan goyang ngebor dan Dewi Persik dengan goyang gergaji. Mereka biasanya cabul dan ada beberapa orang yang memberikan uang kepada penyanyi supaya menjadi semakin cabul.


Saya membaca ini di suatu tempat kalau semakin jauh dari ibukota, maka semakin vulgar yang ditunjukkan.

Jadi itu biasanya tidak tepat di beberapa usia, dan mengganggu ku kalau kebanyakan pertunjukan ada di public (balai kota, dan tempat public), mungkin tidak ada batasan umur untuk melihat pertunjukkan (walaupun ada, tidak begitu dilakukan).

Saya jauh dari ulama muslim, jadi jangan mengiraa jaaban saya tepat sama dengan para ulama, saya disini hanya mengkritik tentang dangdut dari sudut pandang saya sendiri.


Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang