Apa itu virus zika dan bagaimana penularannya?

Dilihat 653 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Ancaman terhadap umat manusia datang dalam berbagai ragam bentuk dan salah satunya berupa virus-virus penyebab penyakit yang mematikan. Setelah flu burung dan Ebola, dunia sedang menghadapi epidemi mematikan yang lainnya, yakni virus Zika. Virus ini telah menyebar di Meksiko, Brasil, Panama dan negara-negara tetangganya, tapi para ahli kedokteran meyakini hanya masalah waktu saja virus ini akan tersebar di negara lainnya juga. Lalu, apa itu virus Zika?




Berikut saya akan mengulas mengenai apa itu virus Zika dan juga bagaimana penularan virus Zika ini.


Apa itu Virus Zika dan Penularannya


Dalam istilah biologi, virus Zika adalah anggota dari jenis Flavivirus yang juga menyebabkan Demam Berdarah Dengue, Demam Kuning, Nil Barat, Chikungunya. Kasus pertama yang sudah dipastikan sebagai infeksi virus Zika dilaporkan pada tahun 1947 dalam seekor monyet di hutan Zika, Uganda (Afrika). Nama hutan inilah yang menjadi asal mula nama virus Zika. Kasus infeksi manusia pertama muncul ke permukaan di Nigeria pada tahun 1952. Menyusul kemudian adanya laporan dari Asia dan Eropa namun jumlahnya tidak mengkhawatirkan. Akan tetapi di tahun 2007, jumlah pasien yang signifikan dilaporkan di Brasil dan sejak saat itu jumlah tersebut terus meningkat.


Virus ini sudah menyebar ke daerah timur melewati Samudra Pasifik ke Polinesia dan Perancis, lalu ke Pulau Paskah pada tahun 2014, Pada tahun 2015, virus zika sudah memasuki wilayah Amerika Tengah, Karibia, dan meluas ke area  Amerika Selatan dan menjadi sebuah wabah besar yang menyerang warga. Pada Januari 2016, dikeluarkanlah sebuah tuntunan perjalan oleh Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat untuk negara-negara yang mengalami wabah tersebut, tuntunan ini mencakup langkah-langkah pencegahan yang sudah dimaksimalkan dan juga adanya pertimbangan khusus bagi wanita untuk menunda kehamilannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, janin yang terserang virus Zika memiliki kemungkinan untuk mengalami mikrosefalus saat dilahirkan. Organisasi-organisasi kesehatan dan badan pemerintah lainnya juga memberikan peringatan yang serupa, sementara negara-negara seperti Kolombia, Ekuador, El Salvador, dan Jamaika, menganjurkan para wanitanya untuk menunda kehamilan sehingga risiko penularan terhadap janin dapat ditekan, juga jika wanita tersebut terjangkit akan lebih muda untuk dideteksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpendapat bahwa penyakit yang berhubungan dengan virus Zika di Amerika Latin pada akhir tahun 2015 hingga Januari 2016 telah menjadi sebuah keadaan barurat bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, WHO mengumumkan Status Darurat Kesehatan Internasional.




Virus Zika adalah virus yang dibawa serangga, nyamuk Aedes, yang juga merupakan pembawa virus Dengue dan Chikungunya. Nyamuk ini menjadi terinfeksi setelah menggigit penderita yang telah terjangkit virus tersebut. Nyamuk ini sangat aktif di siang hari dan hidup serta berkembang biak di dalam maupun luar ruangan yang dekat dengan manusia, terutama di wilayah yang terdapat genangan air. Walaupun jarang, virus Zika juga dapat ditransmisikan dari seorang ibu ke bayinya. Virus Zika berkemungkinan ditularkan dari seorang ibu hamil pada janin di dalam kandungannya. Dapat pula bayi tertular pada waktu persalinan. Seorang wanita hamil dengan virus Zika dapat menginfeksi janinnya dan menyebabkan microcephaly (kondisi di mana lingkar kepala lebih kecil dari ukuran normal), juga dapat menyebabkan kerusakan otak pada janin. Hingga saat ini, kasus penularan virus Zika melalui proses menyusui belum ditemukan sehingga ahli medis tetap menganjurkan ibu yang terinfeksi untuk tetap menyusui bayinya.


Selain itu, terdapat beberapa laporan virus Zika yang penularannya terjadi melalui tranfusi darah dan hubungan seksual. Namun tidak diketahui apakah itu memang benar, sebab penelitian telah menunjukkan bahwa virus Zika mungkin dapat menular melalui seks yang tidak terlindungi dengan seseorang yang terinfeksi, tapi sejauh ini tak ada kasus seperti itu yang telah dilaporkan.




Jangka waktu yang dibutuhkan untuk proses inkubasi virus ini masih belum jelas diketahui, namun kemungkinan proses tersebut terjadi selama dua hingga tujuh hari semenjak pasien terjangkit virus ini (terkena gigitan nyamuk penjangkit). Gejala-gejala penyakit Zika dapat menyerupai gejala penyakit dengue dan chikungunya, serta dapat berlangsung beberapa hari hingga satu minggu. Dari lima orang yang terinfeksi virus Zika, satu orang menjadi sakit akibat virus ini. Gejala yang timbul ketika seseorang terinfeksu virus ini antara lain adalah demam, nyeri sendi, konjungtivitis (mata merah), dan ruam. Meski jarang ditemukan, pernah terjadi kasus yang lebih parah yang memerlukan penangan dari tenaga ahli di rumah sakit dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sehingga walaupun sejauh ini tidak ditemukan seorangpun pasien yang meninggal karenanya, virus Zika masih dianggap sebagai ancaman besar berikutnya bagi umat manusia. 


Penularan virus Zika adalah melalui nyamuk Aedes yang lahir di area lembab dan rawa-rawa oleh sebab itu penyebarannya merajalela di negara-negara tropis. Kebanyakan negara dunia ketiga adalah negara-negara tropis yang kekurangan higien dan sumber medis sehingga membuat mereka menjadi tempat beranak pinak virus ini. WHO meyakini bahwa tinggal menunggu waktu saja sebelum virus ini melanda dunia dalam cengkeramannya. Virus ini sulit untuk didiagnosa, dan belum adanya obat spesifik untuknya makin memperburuk keadaan.


Zika tidak memiliki perhatian keamanan dari populasi global seperti saat kita memandang Ebola dan ia tidak seharusnya dianggap ancaman yang sama seperti itu. Akan tetapi jika tidak dapat dikuasai pada waktunya maka ia akan menjadi mutan yang lebih mematikan yang mungkin menyebabkan kekacauan sama seperti virus Ebola. Oleh karena itu penting sekali bagi masyarakat untuk memahami apa itu virus Zika, bagaimana penularannya, apa saja gejalanya dan cara mendeteksinya, pengobatan bagi orang yang terjangkit virus Zika, juga cara pencegahannya karena bagaimana pun juga, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang