Apa kejadian horor yang pernah Anda alami di kehidupan nyata?

Dilihat 361 • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1

Kejadian/cerita horor adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Banyak kejadian-kejadian aneh dan kejadian-kejadian tak terduga diluar logika manusia dan juga sulit diterima oleh nalar manusia.

Banyak orang yang bilang ketakutan berasal dari ketidaktahuan. Mungkin ada benarnya juga, akan tetapi hal itu agak tidak tepat dalam kisah/cerita horor nyata. Karena justru ketakutan itu muncul ketika kita mengetahui ada kejanggalan dari sebuah kejadian .

Menonton film horor mungkin sudah cukup membuat Anda tidak bisa tidur karena terus terbayang-bayang dan atau mungkin menjadi takut pergi ke kamar mandi sendiri, tetapi bagamana jika kisah/cerita horor nyata tersebut dialami oleh diri anda sendiri.? Pernahkah terbayangkan oleh anda ?

Berikut akan saya kisahkan cerita horor yang pernah saya alami beberapa puluh tahun yang lalu, walaupun kejadian tersebut sudah berlangsung lama, akan tetapi tetap membayangi saya sampai saat ini. 

Nah bagi anda penggemar cerita-cerita horor, pasti penasaran apa sih cerita horor nyata yang saya alami itu? Yuk, simak baik-baik cerita ini sampai habis dan singkirkan rasa takut anda ya!


Pengalaman yang sangat mengerikan

Saya mempunyai pengalaman mengerikan ketika saya masih anak-anak yang mempengaruhi saya sampai saat ini, dan sekarang saya berusia 50 tahun. Saya berjumpa dengan 'makhluk' yang saya percaya itu adalah iblis atau mungkin itu hanyalah sekedar bentuk imajinasi pikiran saya saja. Tetapi kalau dikatakan itu adalah imajinasi saja, tidak masuk akal juga, karena menurut saya tidak ada seorang pun anak kecil yang mampu menjelaskan secara jelas dan terperinci tentang ' makhluk ' tersebut sedetail saya. Perlu diketahui, saat itu kami jarang melihat televisi dan hanya mempunyai 2 saluran tv saja; kejadian ini terjadi sebelum adanya The Exorcist, Nightmare On Elm Street dan film-film Stephen King . Satu-satunya yang ada dalam benak saya tentang iblis adalah dia seorang lelaki berjubah merah yang memiliki kaki seperti kambing, lengkap dengan ekor dan tanduk. Tetapi "makhluk" yang saya jumpai sama sekali tidak seperti itu. Sangat berbeda. Untuk menceritakan kisah ini secara lengkap, saya harus memulainya dengan memberikan gambaran dan latar belakang.

   

Saigon 1967

Saigon, Vietnam

Ketika saya berusia sembilan tahun, saya beserta keluarga  tinggal di Saigon, Vietnam. Pada saat itu sedang terjadi Perang Vietnam. Kami tinggal disana dari tahun 1967 sampai dengan 1972 (kami adalah orang Amerika). Pada suatu hari (akhir pekan) kami sekeluarga pergi berjalan-jalan untuk beberapa hari. Sudah lama memang kami merencanakan untuk berwisata seperti ini.  Seorang teman dari ayah saya, -dia seorang pria Vietnam-,  telah mengatur semuanya, dan kami sekeluarga pun diantar untuk melihat beberapa tempat menarik baik di dalam kota maupun di luar kota.

Sebenarnya pada saat itu saya sudah merasa tidak enak badan, tetapi memang tidak begitu parah, jadi saya tetap bisa ikut pergi. Hari terus berjalan, namun keadaan saya semakin memburuk. Seperti yang saya katakan tadi, kami memang sudah merencanakan wisata ini untuk waktu yang lama, jadi jika saya kembali pulang ke rumah, orang tua saya pun harus ikut pulang, begitupun dengan ketiga saudara saya. Kami semua memang benar-benar ingin agar acara ini dapat berjalan dengan baik, oleh karenanya, meskipun sakit saya berusaha bertahan.Saat itu saya merasakan sakit tenggorokan dan mungkin demam; saya ingat, saya merasa sangat sakit. 

Sebenarnya kami memiliki klinik medis di pos Angkatan Darat, akan tetapi pada saat itu ada beberapa alasan yang membuat kami tidak pergi kesana. Saya agak lupa alasannya mengapa kami tidak pergi ke klinik tersebut,  mungkin pada saat itu, kliniknya tutup atau terlalu jauh atau juga mungkin waktu untuk menunggu antrian terlalu lama. Apapun alasannya, yang terjadi pada saat itu adalah teman Vietnam kami merekomendasikan seorang dokter, yang menurutnya sangat terpercaya.


Dokter Cina Fu Manchu



Saya ingat sekali dokter tersebut adalah seorang pria Cina yang sudah tua dan memiliki kumis Fu Manchu (kumis lurus yang tumbuh ke bawah melewati bibir dan di kedua sisi dagu dan memanjang ke arah jari-jari kaki). Dia memberikan resep bubuk yang dicampur dengan air;  saya tidak ingat apakah pada saat itu dia memberikan obatnya secara langsung atau kami yang membelinya di apotik. 

Singkat cerita, akhirnya kami kembali ke rumah dan orang tua saya mencampur obat dari dokter tersebut dan saya langsung meminumnya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana dia membuat obat ini; -saya seorang yang sangat pemilih dalam makanan; memiliki selera yang sangat sensitif terhadap rasa, akibatnya pada saat itu saya menjadi sangat kurus-.  Mungkin pada saat itu saya terlalu lemah untuk berargumen tentang obat tersebut. Tetapi yang saya rasakan, saya mulai mengalami gejala yang aneh setelah beberapa kali meminum obat itu, sayangnya hal tersebut diabaikan oleh keluarga saya. Perlahan-lahan saya mulai sulit mengendalikan lidah, akibatnya saya tidak bisa berbicara, mata saya rasanya seperti tergulung, hanya bisa melihat ke atas, jadi yang bisa terlihat hanyalah langit-langit, saya seperti kehilangan kesadaran.

Sebenarnya masuk akal kenapa orang tua saya mengabaikan hal ini. Kakak laki-laki saya, yang beda usianya hampir satu tahun diatas saya, dia adalah teman saya bermain. Kami berdua kompak sebagai tim tetapi kadang suka bertengkar satu sama lain. Sebenarnya kami bukanlah anak yang nakal, tapi kami memang senang menggoda atau menjahili orang lain. Sehingga baik orang tua saya maupun kakak saya benar-benar berfikir bahwa apa yang terjadi pada saya dianggap hanyalah berpura-pura saja dan kakak saya mengambil kesempatan ini untuk menggoda saya. Bahkan, ibu saya sudah tidak sabar untuk menghukum saya karena menganggap saya sudah keterlaluan (berperilaku dengan sangat aneh). Adik saya yang paling kecil, masih balita. Saya ingat, ketika itu dia sedang berargumen dengan ayah saya, jadi mungkin dia tidak terlalu memperhatikan perubahan dalam diri saya. Saya menangis dan terus mencoba untuk berkomunikasi dengan dia, akan tetapi tidak berhasil.


Jatuh Pingsan

Pada suatu hari kami sekeluarga pergi makan keluar. Kami makan di sebuah rumah makan di ruang terbuka, tiba-tiba saya jatuh ketika sedang melihat ke atas atap. Tetapi disatu sisi saya merasa sangat lega, karena akibat kejadian tersebut akhirnya disitulah keluarga saya menyadari bahwa saya benar-benar sakit dan sungguh-sungguh berusaha untuk menolong saya. Saya ingat, saat ayah berjalan menaiki tangga rumah sakit sambil membawa saya di dalam pelukannya. 


Di Saigon terdapat Rumah Sakit yang dikelola oleh orang Australia.Selanjutnya yang saya ingat adalah selang oksigen telah terpasang di hidung, saya benci akan hal itu, tetapi saya tidak sanggup untuk melepaskannya. Saya juga ingat ketika melihat kuku ibu yang berwarna merah disebelah saya, dan hal itu membuat saya tenang karena berarti Ibu ada di dekat saya. Banyak tes yang harus dijalani. Sakitnya jarum suntik yang harus saya rasakan, tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, tidak bisa menangis. Suntikan tulang belakang dan sakit yang sangat mendalam yang belum pernah saya rasakan seumur hidup saya. Ketika mereka menarik cairan (suntikan) keluar, saya dipegang erat-erat, saya menahan rasa sakit yang luar biasa. Sampai saat ini saya masih merasa sangat sensitif dengan tulang belakang saya.

Kemudian saya juga dibawa ke dalam kamar oleh seorang suster (mungkin dia membawa saya sebelum diberikan suntikan spinal/tulang belakang) . Dia memakai topi suster dan mengenakan 'name tag' (kartu nama yang dipasang di dada). Untuk beberapa alasan saya merasa agak nyaman dengan kehadirannya. Saya dibaringkan diatas tempat tidur, termometer dimasukkan kedalam anus saya dan saya dibiarkan seorang diri selama beberapa jam. 

Hari berganti malam, dan tidak ada seorang pun yang datang. Perasaan saya  sangat marah, takut, sakit, sepi sendiri. Semua bercampur menjadi satu. Akhirnya datanglah seorang suster masuk ke kamar saya dan mencabut termometer itu, dan untuk pertama kalinya, saya merasa membenci orang dewasa.




Kenyataan yang Menakutkan

Akhirnya berminggu-minggu saya harus  tinggal di rumah sakit. Ketika itu, saya hanya dapat menggerakkan mata saya, itupun sesekali saja. Tetapi saya merasa beruntung, karena banyak orang yang mengalami sakit seperti ini tidak dapat menggerakkan matanya sama sekali.

Selama di rumah sakit keluarga saya sering datang berkunjung. Tetapi tidak ada satupun yang tahu bahwa sebenarnya saya sudah benar-benar sadar, jadi mereka tidak mengetahui bahwa saya dapat mendengar dengan jelas semua pembicaraan mereka dan mengetahui semua hal yang mereka lakukan terhadap diri saya. Di samping tempat tidur, saya mendengar dokter menjelaskan kepada orang tua saya, bahwa saya sedang mengalami koma, hal ini disebabkan karena obat yang diberikan oleh dokter sebelumnya (dokter Cina) adalah antipsikotik dan dosisnya adalah untuk laki-laki dewasa. Obat tersebut telah masuk ke dalam otak dan kemungkinan saya sadar dari koma amatlah tipis. Tetapi, jika itupun terjadi (sadar dari koma), maka kemungkinan besar saya akan mengalami kerusakan otak yang sangat parah. 

Saya tidak dapat mengungkapkan bagaimana perasaan saya ketika mendengar hal itu. Saya merasa terperangkap di dalam tubuh yang lumpuh, merasakan sakit, tidak bisa bergerak dan tidak bisa memberitahu orang lain bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya. Dokter memberitahu tentang penyakit ini dengan suara yang lembut namun tegas ke orang tua saya. Dan dia menyarankan mungkin sebaiknya saya dipindahkan ke Rumah Sakit di Amerika untuk mendapatkan fasilitas peralatan medis lengkap untuk merawat pasien dengan keadaan koma seperti saya. Ini berarti saya harus terpisah jauh dari keluarga.


Kamar yang suram

Hari berganti hari, minggu-minggu pun berlalu, saya bisa mendengar orang tua saya berdebat tentang seberapa sering Ibu harus mengunjungi saya. Ayah berpendapat bahwa ibu seharusnya lebih sering berada di rumah bersama saudara-saudara saya yang lain. Ayah saya berpendapat dikarenakan saya koma, dan benar-benar tidak sadarkan diri, jadi mengapa harus sering-sering datang berkunjung? Ibu saya menangis, orang tua saya berdebat, dan setiap kali saya mencoba untuk bergerak, saya tidak sanggup untuk melakukannya.

Tidak cukup ruang disini untuk menjelaskan dengan detail bagaimana hari-hari saya berlalu. Cukuplah membayangkan bagaimana saya tetap terbaring dengan kondisi seprai kotor sampai datang seseorang untuk membersihkannya dan bagaimana rasanya ketika darah diambil dengan rasa sakit yang luar biasa pada saat suster mencari pembuluh darah. Semua hal-hal itu sekarang terasa samar dan saya tidak perduli lagi untuk mengingatnya. 

Satu-satunya kenangan yang masih terekam dengan jelas adalah pengalaman yang saya rasakan di waktu malam. Terasa menyeramkan, menakutkan, sehingga saya baru menyadari bahwa apa yang saya rasakan di siang hari jauh lebih baik dari apa yang saya alami pada waktu malam.

Pada malam hari, saya benar-benar sendiri. Lampu diredupkan atau dimatikan total. Saya coba jelaskan bagaimana posisi kamar saya berada. Jika berjalan dari lorong, posisi kamar saya terletak di sebelah kiri, dengan posisi kepala menghadap dinding. Di sisi kiri tempat tidur saya, terdapat sebuah jendela besar, dimana saya dapat melihat pemandangan kota melalui jendela tersebut. Karena jendelanya sangat besar, saya selalu bertanya-tanya apakah lampu benar-benar dimatikan dan cahaya selalu datang dari luar jendela. Kamar saya tidak terletak di lantai dasar, mungkin di lantai dua atau lantai tiga. Terdapat sebuah pintu yang menghadap tempat tidur saya, akan tetapi saya lupa, apakah pintu itu adalah pintu kamar mandi atau kloset.



Setiap malam saya terjaga, mendengarkan suara-suara; suara jejak kaki di lorong rumah sakit, suara pasien menangis, percakapan yang berbisik-bisik dan sebagainya. Dari luar, saya bisa mendengar suara kebisingan lalu lintas. Setelah semua kondisi tersebut telah dapat saya gambarkan dengan jelas, maka sekarang saya akan menceritakan malam pertemuan saya dengan "makhluk-makhluk" tersebut.


Pertemuan dengan "makhluk"

Pintu kamar mandi terbuka dengan perlahan. Saya seorang diri di ruang gelap ini. Saya ingat ketika itu saya berusaha untuk memfokuskan mata saya, mencoba lebih fokus melihat ke arah pintu, walaupun akibatnya saya merasakan sakit.

Lalu, seorang pria yang sangat tinggi keluar. Dia memakai topi yang berbentuk seperti kompor. Itu mungkin terlihat lucu, tapi juga benar-benar aneh. Mengingatkan saya kepada Abraham Lincoln, tentu saja saya tahu siapa Abraham Lincoln; Saya ingat Pidato Gettysburg nya Abraham Lincoln ketika saya masih kecil, meskipun saya tidak ingat kapan persisnya. Pria itu sangat kurus dan berpakaian model setelan hitam gaya tahun 1800-an. Mukanya sangat putih seperti tulang. Matanya hitam dan sangat besar. Mulutnya terbuka seperti lubang berwarna hitam .Dia mendekati tempat tidur saya dan bergerak seperti orang yang sedang pusing dan muram. Dia membungkuk ke arah saya dan menempatkan wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah saya. Sangat dekat sekali. Wajahnya hampir memenuhi semua penglihatan saya. Mungkin dia telah berbicara, namun apa yang terjadi, saya tahu, bahwa dia sedang menunggu kematian saya. Dia sedang menunggu untuk mengambil jiwa saya, ketika jiwa saya meninggalkan tubuh saya. Dia sangat menginginkan jiwa saya. Saya bertanya-tanya apa yang terjadi pada jiwa saya, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Ini bukan hanya sekedar pertanyaan, tetapi saat itu saya benar-benar sedang menghadapi kejadian yang sungguh sangat menyeramkan, kejadian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan pria itupun tetap tidak beranjak dari tempatnya, dia tetap tinggal bersama saya. Dia menutup hidung dan mulut saya. Sangat sulit rasanya untuk bernapas. Saya ingat jantung saya rasanya seperti tertusuk tulang iga.



Dan secara perlahan-lahan, entah itu tiba-tiba atau berjam-jam kemudian, roh-roh lain mulai bermunculan. Mereka tidak menginginkan jiwa saya. Yang mereka inginkan adalah raga saya. Mereka sangat ramai di sekitar saya, sangat dekat, seingat saya mereka berpakaian hitam, mungkin jumlahnya sekitar ratusan, atau bahkan ribuan. Mereka itu adalah jiwa-jiwa orang yang tersiksa, jiwa-jiwa yang hilang, jiwa-jiwa yang terkutuk. Mereka begitu dekat. Wajah mereka sangat seram, penuh kemarahan dan keputus-asa an. Mereka tidak mempunyai kelopak mata, mereka berteriak, suaranya melengking, berteriak tak karuan. Mereka saling mendorong ke arah wajah saya.  Saling bergantian.


Setelah kejadian semalam

Saya tidak ingat bagaimana makhluk-makhluk itu akhirnya menghilang di pagi hari, apakah mereka menghilang karena ada seorang perawat yang datang atau perlahan-lahan menghilang karena matahari telah terbit. Saya juga bertanya-tanya, bagaimana kejadian malam itu telah mengubah saya saat ini. Mungkin hal itu tidak terjadi setiap malam seperti yang saya pikirkan. Saya tidak tahu. Tetapi kejadian malam itu telah cukup mengubah kondisi saya menjadi stabil. Saya bertanya-tanya, darimana jiwa-jiwa itu datang? Apakah mereka pernah menjadi pasien rumah sakit ini? Apakah mereka itu ribuan orang-orang yang tewas pada saat perang di Saigon? Siapa lelaki itu? Dia itu apa? Saya tidak yakin, apa yang saya pikirkan tentang dia pada saat itu. Saya hanya berfikir sekarang bahwa dia adalah seorang iblis, tetapi saya tidak ingat apa yang saya pikirkan tentang dia saat itu. Yang benar-benar saya ingat dan saya percaya bahwa pada saat itu saya telah dirasuki. Saya melihat keluar jendela, dan melihat bangunan-bangunan dan atap-atap. Saya membayangkan udara pengap dan hantu-hantu yang gelisah yang ingin melarikan diri dari neraka. Mencari raga tubuh untuk dirasuki, tidak dapat bergerak dan berkomunikasi. 


Sekarang saya melindungi diri saya dengan latihan mental tertentu untuk melupakan kejadian/cerita horor tersebut. Itulah mengapa saya tidak ingat banyak tentang kejadian itu lagi. Saya sekarang mengerti bahwa ini adalah hanya mimpi buruk atau mungkin hanya pengaruh obat dalam otak saya. Kejadian seram yang saya alami di bawa oleh sesuatu yang merasuki diri saya. Yang sampai hari masih menjadi ketakutan terbesar saya. 

Jadi, begitulah kisah saya, boleh percaya atau tidak semua tergantung diri anda masing masing. Saya hanya berharap kejadian yang sama tidak akan pernah menimpa anda yang membaca kisah saya ini.  (baca: Apa kejadian horor paling mengerikan yang terjadi saat check-in pesawat?)


Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang