Apa keuntungan evolusioner atau tujuan dari siklus menstruasi?

Dilihat 632 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Aku senang kamu tanya itu. Beneran. Jawaban dari pertanyaan ini merupakan salah satu cerita yang paling jelas dan mengganggu dalam biologi evolusi manusia, dan hampir tidak ada satupun yang tahu tentang ini. Jadi, Oh temanku sayang, mendekatlah, dan dengarkan kisah luar biasa tentang: BAGAIMANA SEORANG WANITA MENDAPATKAN PERIODENYA

Kebalikan dari kepercayaan yang popular, kebanyakan mamalia itu tidak menstruasi. Nyatanya, hal ini merupakan fitur eksklusif pada primata yang lebih tinggi dan kalelawar tertentu. Lebihnya lagi, wanita modern lebih mengalami menstruasi daripada hewan lainnya. Dan pendarahan yang bodoh ini (maaf). Merupakan pembuangan nutrisi, mencacatkan dan kematian pada predator terdekat. Untuk mengerti kenapa kita melakukannya, kamu harus mengerti dulu kalau kamu telah dibohongi, selama hidupmu, tentap hubungan terintimasi yang pernah kamu alami: hubungan ibu-janin.

Bukankah kehamilan itu indah? Coba baca buku apapun tentang ini. Ada seorang calon ibu, satu tangan mengelus-elus perutnya. Matanya berada di kabut cinta dan kagum. Kamu merasakan kalau dia akan melakukan apapun untuk merawat dan melindungi bayi ini. Dan ketika kamu membalikkan bukunya, kamu membaca tentang simbiosis mulia ini lebih lanjut, altruisme mutlak pada psikologi perempuan yang menggambarkan lingkungan yang sempurna untuk pertumbuhan anaknya. Kalau kamu benar-benar pernah hamil, kamu mungkin tahu kalau cerita aslinya ada beberapa kerutan. Momen-momen belaka seperti itu menyatakan kalau altruisme murni itu benar-benar ada, tetapi diselingi dengan mual, kelelahan, sakit pinggul, bersifat tidak bertarak, masalah tekanan darah dan cemas yang berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan yang kamu lah bagian dari 15% wanita yang mengalami komplikasi seperti ini. 

Dari pandangan kebanyakan mamalia, ini cukup gila. Kebanyakan mamalia melewati masa kehamilannya dengan lumayan bahagia, menghindari predator dan menangkap mangsa, bahkan kalau mereka mengirimkan liter 12.

Jadi, apa yang membuat kita sangat spesial? 

Jawabannya berada di plasenta kita yang ajaib ini. Kebanyakan mamalia, plasentanya, yang merupakan bagian dari janin, hanya berinteraksi dengan permukaan pembuluh darah ibu, dan mengirimkan nutrisi ke si kecil tersayang. Marsupial bahkan tidak membiarkan janin mereka terkena darah: mereka hanya mengeluarkan sesuatu seperti susu lewat dinding uterus. Hanya beberapa kelompok mamalia, termasuk praimata dan tikus, telah berevolusi menjadi plasenta "hemochorial" yang kita ketahui, dan yang kita punya itu mungkin yang paling menjijikkan. 

Didalam uterus kita mempunyai lapisan tebal dari jaringan endometrial, yang mengandung hanya sedikit pembuuh darah. Endometrium menutup pasokan darah utama kita dari embrio yang baru ditanamkan. Plasenta yang bertumbuh akan menggali lapisan-lapisan ini, merobeknya menjadi dinding arteri dan menyambungkannya kembali untuk menyambungkan darah langsung ke embrio yang lapar. Kemudian menggali lebih dalam lagi ke jaringan-jaringan, melumpuhkannya dan memompa arteri yang penuh hormon jadi mereka akan meluas kedalam ruangan yang telah dibuat. Hal itu melumpuhkan arteri-arteri ini jadi si ibu bahkan tidak dapat membatasinya.

Artinya, janin yang bertumbuh sekarang memiliki akses langsung yang tak terbatas ke pasokan darah si ibu. Hal ini dapat membuat hormon-hormon dan dapat menggunakannya untuk memanipulasinya. Bisa, kok. Contohnya, peningkatan gula darah si ibu, melebarkan arterinya, dan memompa tekanan darahnya untuk memberikannya nutrisi lebih. Dan memang bisa. Beberapa sel janin akan mencari jalannya sendiri melewati plasenta dan masuk kedalam aliran darah si ibu. Mereka akan tumbuh dalam darah dan organnya, dan bahkan di otakknya, untuk seumur hidupnya, membuatnya menjadi chimera genetik.

Hal ini mungkin kurang menghargai. Nyatanya, saudaranya secara rival ada pada evolusioner terbaiknya. Kamu tahu, ibu dan janin memiliki kemenarikan evolusi yang cukup berbeda. Si ibu 'ingin' mendedikasi sumber yang seimbang untuk ketahanan hidup anak-anaknya, termasuk calon anaknya, dan tidak ada siapapun yang akan mati. Si janin 'ingin' bertahan hidup, dan mengambil sebanyak yang dia bisa dapatkan. (Kutipan nya menyatakan kalau ini bukan tentang apa yang secara sadar mereka inginkan, tetapi tentang apa yang evolusi ingin optimalkan.) 

Ada pemain ketiga juga disini – si ayah, yang ketertarikannya masih kurang dengan si ibu karena keturunannya lainnya si ibu mungkin bukan keturunan si ayah. Melewati proses yang disebut sebagai pencetakan genomik, gen janin tertentu memiliki gen dari si ayah yang dapat diaktifkan ddalam plasenta. Gen ini dengan kejam mempromosikan kesejahteraan keturunannya pada pengeluarannya si ibu. 

Bagaimana kita bisa mendapatkan plasenta hemochorial yang sangat lapar ini yang memberikan janin kita dan ayah mereka kekuatan yang tidak biasa ini?

Walaupun kita dapat melihat beberapa tren mengenai peningkatan plasenta dalam primata, jawaban penuhnya itu masih tersesat di kabut waktu. Uteri tidak menjadi fosil dengan baik. Namun, konsekuensinya itu jelas. 

Kehamilan mamalia yang normal itu disusun dengan rapi karena si ibu adalah seorang 'penganiaya'. Hidup atau matinya keturunannya itu berada di tangannya; dia dapat mengontrol pasokan nutrisi mereka, dan dia dapat mengeluarkan atau menyerapnya kembali kapanpun dia mau. Dilain sisi, kemahilan pada manusia itu dijalankn oleh komite – dan bukan komite biasa, tetapi yang anggotanya sering memiliki perbedaan, ketertarikan yang bersaing dan hanya membagi sebagian informasi. Ini adalah tarik tambang yang tidak jarang menjadi buruk ke pergumulan dan, biasanya, menjadi perah. Banyak potensi gangguan letal, seperti kehamilan ektopik, diabetes gestational, dan preeklamsia dapat dilacak dalam permainan intimasi ini.

Apa hubungannya dengan menstruasi?

Kita hampir disitu. Dari pandangan perempuan, kehamilan selalu merupakan investasi yang besar. Bahkan lebih dari itu kalau spesiesnya memiliki plasenta hemochorial. Pas plasenta itu berada di tempatnya, dia tidak hanya kehilangan kontrol penuh pada hormonnya sendiri, dia juga beresiko mengalami pendarahan ketika plasenta itu keluar. Jadi, masuk akal kalau perempuan ingin melindungi embrionya dengan sangat, sangat berhati-hati. Mengalami kehamilan dengan janin yang lemah atau bahkan janin yang sub-par tidaklah ternilai. Disitulah dimana endometrium datang. Kamu mungkin telah membaca tentang bagaimana endometrium itu sangat rapat, menerima lingkungan hanya perlu menunggu untuk memeluk embrio muda yang halus dalam pelukannya yang merawat. Nyatanya, hal ini lumayan terbalik. Para peneliti, memberkati hati kecil yang penasaran mereka, mencoba menanam embrio ke seluruh tubuh seekor tikus. Satu-satunya tempat yang paling sulit tumbuh adalah – endometrium. Jauh dari pelukan yang merawat, endometrium merupakan tempat uji-coba dimana hanya embrio terkuat yang dapat bertahan hidup. Semakin lama seeorang wanita dapat menunda plasenta mencapai aliran darahnya, semakin lama pula ia harus memutuskan kalau dia mau membuang embrio ini tanpa bayaran penting.

Sebaliknya, embrio, ingin menanamkan plasentanya secepat mungkin, keduanya untuk mendapatkan akses ke tempat kaya akan darah ibunya, dan untuk meningkatkan kebertahanan hidupnya. 

Untuk alasan ini, endometrium menjadi semakin tebal dan kuat – dan plasenta janin akan lebih agresif juga sebagai responnya. Namun, pembentukkan ini menimbulkan masalah lebih lanjut: apa yang perlu dilakukan ketika embrio mati atau menyangkut setengah-hidup didalam uterus?

Pasokan darah ke permukaan endometrial harus dibatasi, atau embrionya akan tetap menempelkan plasentanya disana. Namun, membatasi pasokan darah akan membuat jaringan menjadi kurang responsif pada signal hormon dari si ibu – dan akan berpotensi lebih responsif terhadap signal dari embrio terdkat, yang scara alami akan membuju endometrium untuk menjadi lebih ramah. Sebagai tambahan, hal ini membuatnya rentan terhadap infeksi, terutama ketika didalamnya telah mengantung jaringan yang mati.

Solusinya, untuk primata yang lebih tinggi, adalah untuk mengelupaskan seluruh endometrium dangkalnya – embrio mati dan semuanya – setelah setiap ovulasi yang tidak menghasilkan kehamilan yang sehat. Solusi ini tidak begitu cemerlang, tetapi bekrja dengan baik, dan lebih pentingnya lagi, hal ini mudah dicapai dengan membuat beberapa perubahan menjadi jalur kimia yang biasa digunakan oleh janin saat hamil.

Dengan kata lain, ini hanyalah efek natural seleksi yang dikenal sebagai: solusi curang yang aneh yang kurang lebih berguna untuk menyelesaikan masalah . Hal ini tidak seburuk yang terlihat, karena secara alami, wanita akan cukup jarang mengalami periode – mungkin tidak lebih dari sepuluh kalinya dalam hidup mereka diantara amenora laktasi dengan kehamilan.

Kita tidak terlalu tahu kalau plasenta yang hiper-agresif kita ini berhubungan dengan ciri-ciri lain yang bergabung untuk membuat keunikan manusia. Namun, ciri-ciri ini memang tergabung bersama entah bagaimana caranya, dan artinya orang-orang kuno mungkin benar. Ketika kita secara metaforis 'memakan buah pengetahuan' – ketika kita memulai perjalanan kita kearah sains dan teknologi yang akan memisahkan kita dari hewan-hewan yang polos dan juga mengarahkan kita ke perasaan aneh tentang moralitas seksual mungkin itu –adalah hal yang sama dengan keunikan dari penderitaan pada saat menstruasi, kehamilan dan melahirkan yang ditimpakan pada perempuan. Terima kasih karena semuanya itu dikarenakan evolusi plasenta hemochorial.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang