Apakah nilai SAR untuk Xiaomi Redmi Note 2 Prime (LTE, 32G)?

Dilihat 820 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Di era modern ini, komunikasi merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan setiap individu. Telepon genggam atau telepon selular sudah menjadi seperti kebutuhan pokok, terlebih dengan teknologi yang terus diperbarui, kini kita memiliki ponsel pintar atau smart phone, seperti xiaomi redmi note 2 prime dan sejenisnya, yang membantu kita berkomunikasi dengan berbagai macam orang dari berbagai belahan dunia. Dengan harga yang terjangkau, seperti harga redmi note 2 yang dipatok hanya sekitar satu setengah juta rupiah, semua orang bisa dengan mudah membeli ponsel pintar. Kini handphone dan internet memang sudah menjadi kebutuhan khusus terutama bagi anak-anak muda kekinian.






Hampir seluruh ponsel pintar, salah satunya xiaomi redmi note 2 prime, beroperasi melalui beberapa jaringan yang paling umum kita temui adalah 2G, 3G, dan 4G yang tentunya memiliki frekuensi yang berbeda-beda. Jaringan-jaringan tersebutlah yang dimafaatkan untuk mengirim dan menerima sinyal. Dan karena proses kirim-mengirim sinyal tersebut, ponsel, terutama ponsel pintar, memancar berbagai tingkat radiasi tergantung dari seberapa frekuensi jaringan yang tengah dipakai. 


Setiap ponsel memiliki radiasi yang berbeda-beda, dan tingkat radiasi yang tinggi perlu sekali diperhatikan karena radiasi dari ponsel ini bisa memicu pernyakit seperti kanker. Namun harga memang tak selalu menjadi jaminan. Harga redmi note 2, yang merupakan keluaran produsen China, memang murah, namun apakah itu mempengaruhi radiasinya?


Di bawah ini saya akan membahas smartphone dengan radiasi yang tinggi dan bahaya radiasi tersebut.




Ponsel dengan Radiasi Tinggi dan Bahayanya



Meski tidak terlihat, telepon selular memang memancarkan radiasi ketika mengirimkan atau menerima sinyal dari ponsel ke stasiun pusat, begitu pula sebaliknya. Semakin berat kerja ponsel saat mengirimkan atau menerima sinyal, maka radiasi yang dipancarkan pun semakin kuat. Kondisi ini bisa terjadi jika Anda berada di tempat atau lokasi yang sulit mendapatkan sinyal karena ponsel harus bekerja lebih keras untuk mendapatkannya. Sehingga, saat Anda kebetulan sedang berada di daerah yang terpelosok dan jauh dari base station atau di tempat di mana terdapat banyak hambatan fisik bagi sinyal tersebut, radiasi yang dihasilkan oleh ponsel pintar Anda akan lebih tinggi dibanding saat Anda berada di tempat yang lapang dan dekat dengan base station.


Selain itu, kebanyakan handphone memanfaatkan beberapa jaringan sekaligus seperti 2G, 3G, 4G, dan sebagainya dan tingkat radiasi yang dihasilkan setiap jaringan pun bisa berbeda-beda. Lalu, bagaimana Anda memakai telepon genggam Anda juga bisa mempengaruhi seberapa tinggi radiasi yang dipancarkan oleh ponsel Anda. Untuk memancarkan sinyal suara diperlukan lebih banyak daya jika dibandingkan dengan usaha yang dibutuhkan untuk mengirim pesan teks. Belum lagi jika Anda tergolong orang yang hobi bermain game di telepon pintar Anda, game-game ponsel online dengan grafis yang bagus dan tergolong berat juga menuntut handphone untuk bekerja ekstra dan memancarkan radiasi yang lebih kuat.




Sebenarnya sudah banyak sekali yang menyadari mengenai radiasi pada telepon seluler, namun masih belum ada pernyataan resmi mengenai hal ini. Sampai kini pun masih belum ada peraturan atau pun regulasi yang mengatur mengenai batas radiasi ponsel yang dianggap masih aman. Dengan majunya teknologi, gadget-gadget seperti smartphone memang berkembang dengan pesat, namun tidak berarti radiasinya lantas menurun. Radiasi yang dipancarkan oleh ponsel pintar biasa dikenal dengan istilah SAR yang memiliki kepanjangan Specific Absorption Rate. 


SAR ini merupakan radiasi yang serupa dengan radiasi elektromagnetik yang biasa dihasilkan oleh benda-benda bertegangan listrik.


Di antara berbagai macam ponsel pintar yang dijual di pasaran, beberapa jenis smartphone mempunyai kriteria SAR yang tergolong tinggi. Berdasarkan sebuah artikel di cnet.com, sebanyak dua puluh jenis ponsel pintar keluaran terbaru telah mengalami uji coba untuk mengukur tingkat SAR-nya. Dan dari hasil penelitian tersebut, didapatkanlah dua puluh jenis ponsel pintar dengan radiasi tertinggi. 


Dari dua puluh jenis ponsel tersebut, tiga jenis posel yang terdeteksi memiliki radiasi SAR tinggi di antaranya beredar di Indonesia. Tiga tipe ponsel tersebut adalah: 

  • Blackberry Z3 
  • Nokia Lumia 925 Z3
  • Nokia Lumia 928. 

Cara yang digunakan untuk mengukur tingkat radiasi SAR dari ponsel-ponsel tersebut adalah dari paparannya di telinga. 



Lalu, bagaimana dengan Xiaomi Redmi Note 2? 


Xiaomi redmi note 2 prime memiliki layar sebesar 5,5 inchi dengan RAM sebesar 2 GB dan memori penyimpanan internal sebesar 32 GB. Selain itu, ponsel ini juga dilengkapi dengan kamera depan sebesar 5 megapixel dan kamera belakang dengan resolusi 13 megapixel. Baterai yang dipasang pada gadget ini merupakan baterai removable berjenis Li-Po dengan besar 3060 mAh. 


Dengan harga redmi note 2 yang relatif murah, hanya dipatok sekitar 1,8 juta rupiah, ternyata ponsel ini tidak termasuk ponsel yang memiliki radiasi SAR yang tinggi. Nilai SAR (specific absorption rate) Redmi Note 2 adalah 0.602 W/Kg di bagian atas dan 0.731 W/Kg pada tubuhnya meski dengan menggunakan konektivitas 4G.


Jika radiasi SAR dari ponsel, terutama dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi, terserap oleh tubuh tentunya akan berbahaya. Hal ini disebabkan karena radiasi SAR ini akan dimengerti sebagai tingkat paparan gelombang energi magnetik pada bagian tubuh dan ini juga tergolong gelombang ultrasonik. Ukuran gelombang SAR berkisar antara 100 kHz dan 10 GHz atau setara dengan tingkat gelombang radio. Selain pada radiasi ponsel, cara pengukuran SAR ini juga dimafaatkan oleh bidang medis dalam MRI scan.


Tingginya paparan radiasi pada telepon genggam biasanya diukur pada daerah telinga atai kepala di mana sinyal atau antena ponsel berada. Di beberapa negara sudah ada regulasi atau peraturan mengenai ketentuan batas maksimum radiasi SAR yang diperbolehkan dan ini diatur oleh pemerintah. Seperti di Amerika Serikat, FCC (Federal Communication Commission) mengatir bahwa tingkat radiasi SAR yang diizinkan tidak boleh melebihi 1,6 Watts per kilogram nya (W/kg) pada satu gram jaringan tubuh yang terpapar radiasi. 

CENELEC (European Committee for Electronical Standardization) di European Union atau Uni Eropa menentukan bahwa tingkat radiasi SAR tidak boleh melebihi 2 W/kg per sepuluh gram jaringan tubuh yang terkena paparan radiasi tersebut. Sementara di India, badan pemerintah bernama TEC (Telecommunication Engineering Center) menetapkan bahwa semua ponsel harus memiliki fitur hands-free untuk membantu mengurangi tingkat radiasi SAR.




Sudah banyak ahli meneliti dan menyimpulkan mengenai bahaya dari rasiasi ponsel ini. Gejala yang sering timbul karena paparan radiasi ini adalah pusing di kepala. Seorang peneliti bernama Frey menemukan adanya hubungan antara jaringan biologis dan paparan gelombang mikro pada handphone pada tahun 1998. Dalam penelitiannya, Frey menemukan bahwa sakit kepala timbul karena adanya reaksi pemecahan blood-brain dan efek sistem dopamine-opiate dan ini timbul setelah paparan gelombang elektromagnetik dari ponsel. 


Meski tak ada bukti pasti mengenai hubungan antara radiasi SAR dan penyakit kanker, beberapa studi sudah menunjukkan hal tersebut. Studi yang dilakukan oleh salah satu badan WHO bernama The International Agency for Research on Cancer telah menemukan bahwa paparan radio frekuensi terhadap tubuh manusia dapat memunculkan karsiogenik.


Sayangnya pemerintah Indonesia masih menganggap indikasi bahaya radiasi SAR yang dihasilkan oleh ponsel sebagai lelucon. Regulasi mengenai barang-barang elektronik impor yang longgar dan juga minimnya pengawasan hanya membuat keadaan semakin buruk. Hal ini terasa seakan pemerintah tidak memperhatikan keselamatan rakyatnya sendiri, masalah berbahaya atau tidak hanya akan dipikirkan saat sudah timbul korban jiwa nantinya. 


Baik Menteri Komukasi dan Informatika maupun Menteri Kesehatan belum menentukan peraturan atau pun regulasi yang konkrit sehubungan dengan masalah radiasi SAR ini, meski WHO sudah menyatakan adanya indikasi karsiogenik pada radiasi telepon genggam. Padahal lebih baik pemerintah cepat tanggap mengenai hal ini. Dan untuk Anda, lebih baik menjaga diri sendiri dari paparan radiasi SAR dengan menggunakan fitur hands-free pada ponsel Anda. Semoga bermanfaat!

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang