Apa pendapat anda tentang peribahasa Jepang 'Paku yang mencuat keluar harus dipalu'?

Dilihat 2,08 rb • Ditanyakan 10 bulan lalu
2 Jawaban 2

Pada sebagian orang selain mengenal bahasa ibu, mengetahui bahasa lain mungkin menjadi hal yang asyik untuk dipelajari. Seperti yang kita ketahui bersama, setiap negara/daerah memiliki bahasa dan budaya yang berbeda satu dan lainnya. Termasuk di negara kita Indonesia terdapat bahasa nasional, dan bahasa daerah seperti: Jawa, Madura, Sunda, dan sebagainya. Bahasanya unik-unik bukan? :)


                        

Berbicara tentang bahasa, ada kalimat atau ungkapan yang mengandung maksud tertentu dan memiliki arti tersendiri, kalimat tersebut disebut peribahasa. Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan seseorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan atau hal mengenai diri seseorang. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Badudu-Zain (1994) juga menjelaskan bahwa, peribahasa mencakup ungkapan, pepatah, perumpamaan, ibarat, tamsil.

Dalam mengartikan/menafsirkan sebuah peribahasa memang akan berbeda dari penafsiran seseorang dengan yang lainnya. Seperti Peribahasa Jepang 'Paku yang mencuat keluar harus dipalu', sama seperti kasus peribahasa tua yang lain, peribahasa bahasa Jepang ini memiliki banyak arti.

Ada dua bentuk untuk peribahasa ini : 出る釘は打たれる (deru kugi wa utareru) – “Sebuah paku yang mencuat keluar akan dipalu” 出る杭は打たれる (deru kui wa utareru) – “Sebuah tonggak yang mencuat keluar akan dipalu”.

Bentuk peribahasa yang kedua tersebut adalah versi asli dari peribahasanya, tetapi bentuk peribahasa yang pertama yakni versi paku juga sering digunakan.

Di barat, peribahasa ini biasanya diartikan bahwa di masyarakat Jepang, siapapun yang unik, aneh dan berbeda akan dipukul rata supaya sama seperti semua orang lainnya. Dan karena itu, semua orang di Jepang diperintahkan untuk seragam dan mentaati peraturan. Itu adalah satu interpretasi, dan saya akan menebak bahwa itu adalah arti yang anda pikirkan.


Tapi itu bukan satu-satunya arti. Di halaman salah satu kamus online, terjemahan yang diberikan adalah : “rasa dengki adalah kawan dari kehormatan”. Selain itu, juga mengandung arti “Jika anda menguasai sesuatu atau sukses, anda adalah subjek kritik”. Dengan kata lain, jika anda sangat pandai dalam suatu hal dan melebihi kemampuan orang-orang di sekitar anda, akan ada yang melawan dan mengkritisi anda. Jika anda memilih untuk menjadi seorang pemimpin, anda selalu memiliki orang-orang yang membenci dan mengkritik anda. Oleh karenanya, dibutuhkan keberanian untuk menjadi paku atau tonggak yang mencuat dan diperhatikan. Jika anda tetap menundukkan kepala anda dan bersembunyi dari keramaian, mungkin anda tak akan dipukul palu. Tapi apakah itu jalan hidup yang benar untuk kehidupan anda? Bagi beberapa orang, tentu saja. Tapi tidak untuk semua orang.


Dalam suatu blog ada sebuah cerita, seorang rekan dari Jepang yang kebetulan sedang summer school di Montpellier menceritakan mengenai paku.

Paku? Ya, paku. Dalam peribahasa Jepang tersebut, disebutkan bahwa “Paku yang mencuat akan dipukul palu”. Apa makna dari kalimat tersebut ? Sebuah paku yang mencuat menandakan sebuah kesalahan, ketidaktertiban karena paku selalu dirapikan menggunakan palu.


                       


Ada versi lain dari peribahasa tersebut: 出る杭は打たれるが、出すぎた杭は打たれない (deru kui wa utareru ga, desugita kui wa utarenai) “Sebuah tonggak yang mencuat keluar akan dipalu, tapi tidak akan dipalu sebuah tonggak yang terlalu mencuat (lebih)”. Jika anda berdiri di antara yang lain dengan asal-asalan atau anda hanya sedikit lebih baik daripada orang kebanyakan, anda mungkin akan kembali tenggelam dalam golongan orang yang biasa-biasa saja. Tapi jika anda benar-benar mengungguli lainnya, anda jauh melesat di antara orang lain. Atau, jika anda seorang pemimpin sejati dengan keyakinan dan keberanian, anda mampu melaju diantara kritik-kritik yang ada.


Poinnya adalah dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk menjadi seorang yang unggul di antara yang lain. Bahkan sedikit rangkuman mengenai apa yang dianggap sebagai perilaku heroik atau teladan di kebudayaan dan masyarakat Jepang akan menunjukkan bahwa menjadi seorang yang tak pernah “mencuat” itu tidaklah baik selamanya. Orang-orang yang membuat sejarah adalah orang-orang yang selalu tampil beda.


Interpretasi lainnya dari peribahasa bahasa Jepang itu adalah jika anda memamerkan status atau kualitas diri anda, maka anda akan mengekspos diri anda pada kritisi dan kebencian, jadi lebih baik tetap tundukkan kepala anda dan rendah hati tentang kemampuan anda, dan jangan semena-mena memanfaatkannya jika anda adalah seorang pemimpin.



 

Makna yang begitu banyak mungkin memberikan sedikit wawasan pada pemikiran orang Jepang, dan betapa kompleksnya hal itu. Saya rasa dengan satu saja arti yang dipilih juga sudah menjelaskan begitu banyak bagaimana masyarakat Jepang dilihat dari berbagai sisi. Akan lebih baik jika interpretasi-interpretasi yang lain juga dikenal banyak orang. Maka dari itu, jangan pernah bosan untuk mempelajari bahasa dan budaya di negara kita sendiri bahkan negara-negara lainnya yaa :)

Terjawab 6 bulan lalu

Sama seperti kasus peribahasa tua yang lain, peribahasa ini memiliki banyak arti. Ada dua bentuk untuk peribahasa ini : 出る釘は打たれる (deru kugi wa utareru) – “Sebuah paku yang mencuat keluar akan dipalu” 出る杭は打たれる (deru kui wa utareru) – “Sebuah tonggak yang mencuat keluar akan dipalu”. Yang terakhir itu adalah versi asli dari peribahasanya, tapi yang versi paku juga sering digunakan.


Di barat, peribahasa ini biasanya diartikan bahwa di masyarakat Jepang, siapapun yang unik akan dipukul rata supaya sama seperti semua orang lainnya. Dan karena itu, semua orang di Jepang diperintahkan untuk seragam dan mentaati peraturan. Itu adalah satu interpretasi, dan saya akan menebak bahwa itu adalah arti yang anda pikirkan.


Tapi itu bukan satu-satunya arti. Di halaman kamus online ini, http://en.bab.la/dictionary/japanese-english/%E5%87%BA%E3%82%8B%E6%9D%AD%E3%81%AF%E6%89%93%E3%81%9F%E3%82%8C%E3%82%8B terjemahan yang diberikan adalah : “rasa dengki itu kawan dari kehormatan”. Satunya lagi adalah “Jika anda menguasai sesuatu atau sukses, anda adalah subjek kritik”. Dengan kata lain, jika anda sangat pandai dalam suatu hal dan melebihi kemampuan orang-orang di sekitar anda, akan ada yang melawan dan mengkritisi anda. Jika anda memilih untuk menjadi seorang pemimpin, anda selalu memiliki orang-orang yang membenci dan mengkritik anda. Oleh karenanya, dibutuhkan keberanian untuk menjadi paku atau tonggak yang mencuat dan diperhatikan itu.


Jika anda tetap menundukkan kepala anda dan bersembunyi dari keramaian, mungkin anda tak akan dipukul palu. Tapi apakah itu jalan hidup yang benar untuk kehidupan anda? Bagi beberapa orang, tentu saja. Tapi tidak untuk semua orang.


Ada versi lain dari peribahasa itu: 出る杭は打たれるが、出すぎた杭は打たれない (deru kui wa utareru ga, desugita kui wa utarenai) “Sebuah tonggak yang mencuat keluar akan dipalu, tapi tidak akan dipalu sebuah tonggak yang terlalu mencuat (lebih)”. Jika anda berdiri di antara yang lain dengan asal-asalan atau anda hanya sedikit lebih baik daripada orang kebanyakan, anda mungkin akan kembali tenggelam dalam golongan orang yang biasa-biasa saja. Tapi jika anda benar-benar mengungguli lainnya, anda jauh melesat di antara orang lain. Atau, jika anda seorang pemimpin sejati dengan keyakinan dan keberanian, anda mampu melaju diantara kritik-kritik yang ada.


Poinnya adalah dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk menjadi seorang yang unggul di antara yang lain. Bahkan sedikit rangkuman mengenai apa yang dianggap sebagai perilaku heroik atau teladan di kebudayaan dan masyarakat Jepang akan menunjukkan bahwa menjadi seorang yang tak pernah “mencuat” itu tidaklah baik selamanya. Orang-orang yang membuat sejarah adalah orang-orang yang selalu tampil beda.


Interpretasi lainnya dari peribahasa itu adalah jika anda memamerkan status atau kualitas diri anda, maka anda akan mengekspos diri anda pada kritisi dan kebencian, jadi lebih baik tetap tundukkan kepala anda dan rendah hati tentang kemampuan anda, dan jangan semena-mena memanfaatkannya jika anda adalah seorang pemimpin.


Makna yang begitu banyak mungkin memberikan sedikit wawasan pada pemikiran orang Jepang, dan betapa kompleksnya hal itu. Saya rasa dengan satu saja arti yang dipilih juga sudah menjelaskan begitu banyak bagaimana masyarakat Jepang dilihat dari berbagai sisi. Akan lebih baik jika interpretasi-interpretasi yang lain juga dikenal orang banyak. Sayangnya, jawaban lainnya disini hanya mewakili satu sisi tentang itu, yang saya kira itu menunjukkan prasangka dari si penulis.

Terjawab 10 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang