Apa rasanya menjadi seorang lesbi?

Dilihat 3,88 rb • Ditanyakan hampir 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Rasanya sama saja. Serius. Saya sudah pernah berada pada kedua sisi. Bukan karena pilihan - seperti banyak perempuan pernah melewati "fase lesbian", saya juga pernah melewati "fase heteroseksual" hanya karena saya berasal dari masyarakat Asia dimana tidak banyak terlihat gerakan gay ketika saya tumbuh di tahun 90an. Sekarang semuanya jauh berbeda, tapi itu cerita lain lagi.


Waktu saya bilang rasanya sama saja, maksud saya bukannya sara merasakan hal yang sama ketika bersama laki - laki dan perempuan - maksud saya adalah pengalaman bersama dengan seseorang yang kamu pedulikan dan bagaimana kalian berdua diperlakukan oleh teman - temanmu dan apa yang kalian lakukan bersamanya, itu semua kurang lebih sama. Lesbian, gay, dan orang - orang transgender kurang lebih manjalani kehidupan yang serupa dengan orang - orang lainnya.


Kamu berusaha untuk bertemu dengan seseorang, kadang kamu berhubungan tanpa maksud untuk menjalin hubungan, kamu kadang menjalani hubungan komitmen jangka panjang, kadang kamu dan pasanganmu memutuskan bahwa kalian akan menjalani jenis komitmen yang berbeda. Kamu membangun kehidupan dengan seseorang ketika kamu menemukan "orang yang tepat", kamu merencanakan untuk berkeluarga baik secara biologis ataupun tidak. Masalahnya adalah dunia ini menbuat kamu sulit untuk melakukan hal - hal yang normal.


Orang - orang menghakimimu tanpa pernah bertemu denganmu. Orang - orang mengatakan hal yang buruk tentangmu - kamu seorang yang agresif, kamu menghancurkan keluarga, kamu ingin menghancurkan budaya dan agama, kamu memecahbelah keluarga, kamu penyebab datangnya akhir jaman, dan lain sebagainya. Intinya, pengalaman dari dicintai, mengejar cinta, menjaga cinta, hubungan dengan pasanganu, membangun kehidupan bersama, dll, semuanya sama. Atau seharusnya sama, tapi lebih sulit untuk dicapai.


Kenapa lebih sulit untuk mencapainya? Ada banyak sekali rintangan. Masalah budaya, agama, harapan dari keluara, status sosial, rintangan biologis, masalah hukum. Pernikahan sejenis bukan hal yang mungkin dilakukan pada banyak negara, adopsi bukan hal yang mudah, hamil dan meminta pengakuan atas anak bukan hal yang mudah pada banyak negara, dan kamu membutuhkan banyak uang.


Selain itu, sebuah seorang wanita gay (saya benci kata lesbian) yang sudah tinggal di Singapur, Dubai, Kuala Lumpur, dan sudah bepergian ke seluruh negara Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa selama beberapa tahun terakhir, saya merasa bahwa sangat mudah menjadi diri saya. 


Tentu saja ini jarang terjadi. Saya pertama kali menjali hubungan dengan seorang wanita pada usia 17 tahun. Saya sudah mengetahui bahwa saya lesbi sejak usia 4 tahun, tapi saja tidak pernah melakukan apa - apa - itu merupakan hal yang menakutkan dan tabu

Saya tidak menghadapi masalah eksistensi yang menganggu banyak orang gay ketika mereka menyadari siapa diri mereka. Mlaah saya merasa lega. Saya merasa bahwa saya bisa mulai menjalani hidup. Saya pernah mencoba untuk mencan dengan laki - laki, tapi meskipun mereka tumbuh menjadi laki - laki yang luar biasa, saya menjalin persahabatan dengan mereka. Karena menjalin hubungan dengan mereka tidak berhasil bagi saya.


Ketika saya menyadai bahwa saya bisa menjalin hubungan dengan wanita, saya merasa terinspirasi. Itu bukan hal yang mudah. Saya merasa kehilangan arah selama 2 tahun. Mungkin agak depresi. Ada berbagai masalah, mulai masa puber sampai mengalami patah hati (vs. perasaan baik - baik saja setiap kali hubungan heteroseksual saya berakhir), sampai dengan pertanyaan mengenai seks, mencoba mencari tahu bagaimana cara berkencan dengan wanita, bagaimana bertemu dengan para wanita, bertanya - tanya apakah saya akan benar - benar bahagia. Tapi kamu tahu lagu yang banyak digunakan pada gerakan gay jaman sekarang:  Semuanya akan baik - baik saja. Dan semua memang baik - baik saja. Hidup saya mulai terasa hebat ketika saya mulai menerima seksualitas saya sebagai komponen besar dari siapa diri saya, tapi tidak membiarkannya mengaburkan komponen - komponen lain dari diri saya. 


Berikut adalah masalah utama yang dihadapi oleh seorang lesbi:

  • Penerimaan dari keluarga. Keluarga saya yang cukup religius membutuhkan waktu untuk menerimanya. Sekarang kami ada pad titik dimana saya merasa nyaman. Kami tidak membicarakannya, tapi kamu tahu itu ada. Tapi inilah penerimaan terbaik yang bisa kamu harapkan dari sisi agama. Berdasarkan pengalaman saya, orang - orang yang memiliki kesulitan untu berdamai dengan siapa mereka adalah penganut setia dari agama monoteis. Terutama para penganut protestan. Saya tidak punya saran untuk mereka selain jangan terlalu keras pada dirimu sendiri karena kamu tidak akan bahagia menjadi orang lain.
  • Ekspektasi sosial. Ini merupakan hal yang sulit dimengerti oleh orang lain, tapi kalau kamu berasa dari ras atau latar belakang budaya tertentu, ini bisa menjadi masalah besar. Misalnya kalau kamu berasal dari keluarga India tradisional atau kamu tinggal di India - kamu mungkin diharapkan menikah dengan laki - laki tertentu pada usia tertentu.  Saya pernah tinggal di India dan saya bertemu dengan banyak wanita India yang lesbi. Tapi banyak hal yang sudah berusah. Saya melihat bahwa hampir seluruh wanita India lesbi yang sudah berumur (>40 tahun) menikasih seorang lelaki yang tidak mereka cintain atau menikahi laki - laki yang gay dan memiliki hubungan yang tidak intim seumur hidup mereka, sementara memiliki pacar gelap. Pada generasi yang lebih muda, mereka banyak dari mereka yang tidak akan melakukan hal yang tidak mereka inginkan.
  • Masalah hukum dan biologi. Saya memiliki perhatian besar terhadap aspek ini. Saya merasa bahwa saya dapat menjalani hidup yang cukup normal, tidak terganggung. Tapi, saya khawatir mengenai pengakuan hukum untuk saya dan pasangan saya san seandainya saya ingin bereproduksi (bukan berarti saya ingin) hal ini pasti akan sangat sulit secara hukum. Kami hidup di belahan dunia yang hampir pasti tidak akan melegalkan pernikahan gay, adopsi, atau reproduksi seumur hidup kami. Tapi sekarang di usia saya yang 20an, mengejar karir dan bisnis, saya cukup bahagia bisa berada di tempat dimana saya bisa hidup dengan pasangan saya tanpa gangguan dan tanpa harus merasa takut dengan hidup saya.

Jadi, di permukaan, menjadi seorang lesbian merupakan hal yang cukup normal, tapi melibatkan pencarian jiwa, membutuhkan kejujuran, kamu harus mencari tahu bagaimana menjaga hubungan dengan keluarga, orang yang disayangi serta orang - orang lainnya, kamu mungkin menghadapi kekerasan dari segmen tertentu di masyarakat, yang berarti akan lebih sulit bagimu untuk membangun keluarga.Tapi sekarang hal ini bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Tapi yang paling penting, menjadi seorang lesbian berarti kamu akan berkencan, mencintai dan menjalani hidup yang normal sebagai seorang manusia. Kalau kamu tidak membiarkan berbagai hal menghalangimu dalam mencapainya.

Terjawab 7 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang