Apa rasanya menjalani hubungan LDR?

Dilihat 299 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

LDR itu sangat sulit. Dalam LDR kejujuran, kepercayaan dan pengertian merupakan hal - hal yang sangat penting. Bagi saya ini tentang pengertian individu terhadap LDR. Cerita saya agak berbeda. Saya juga menjalani LDR selama 2 tahun. Tapi hal yang menarik dimulai dalam LDR itu sendiri. 


Waktu itu saya sedang menjalani tahun ketiga kuliah di tahun 2013.Saya punya seorang teman, seorang teman yang sangat dekat yang aktif di twitter. Suatu hari kami berdua sedang berada di pizza hut dan kuliah kami dimulai jam 2 siang. Dia mulai membicarakan tentang temannya di twitter yang datang ke Mumbai untuk latihan. Dia mulai menunjukkan foto pria itu. Pria itu sangat tampan dan sama sepert gadis - gadis lainnya, saya mulai mengagumi pria itu.


Satu foto yang ditunjukkan oleh teman saya membuat saya tergila - gila. Pria itu terlihat menarik dan sangat masih mengagumi fotonya. Dia terus bercerita sampai kami sampai di kampus. Cukup sudah bagi saya untuk mendengarkan mengenai pria itu, saya lalu berkata, "Udah deh ceritanya, sini kasih nomernya dia". Teman saya tertawa dan mengatakan tentu, kenapa tidak.


Malam itu saya bingung apa yang harus saya katakan untuk menghubungan pria itu. Saya melihat gambar dan status WhatsApp nya. Benar - benar imut dan statusnya mengatakan, "Status Stalker". Selama beberapa detik saya merasa dia tahu tentang saya. Tapi kemudian saya menyadari teman saya mungkin belum mengatakan tentang saya. Segera saja saya menelepon teman saya, "eh, lo ngasih no gw ke dia ga?", teman saya bilang, "Oh, mungkin dia lagi tidur kali. Nanti gw telpon dia terus bilang ke dia". Pria yang malang, teman saya membangunkannya dan memberikan nomor saya dan pria itu juga ingin berbicara dengan saya.

Keesokan harinya, tidak tahu apa yang harus dikatakan, saya menunggu. Di sore hari setelah kuliah, saya lihat dia online dan saya sangat gugup. Lalu saya tahu bahwa dia hanya sedang berbicara dengan teman saya. Saya mengumpulkan keberania dan memutuskan untuk mengiriminya pesan. Saya bilang, "Halo" dan begitulah bagaimana kamu mulai ngobrol.


Pada suatu malam saya lihat pesan saya belum terkirim dan saya menjadi tegang. Akhirnya saya putuskan untuk menelepon dia. Itu adalah pertama kalinya saya berbicara dengannya. Sejak saat itu kami sering mengobrol dan menjadi teman dekat. Kami juga sering menggunakan Skype. Dia sering mengganggu saya deng memanggil saya jelly belly dan saya sering mengatakan "Poda Pani" (yang berarti pergilah babi) dan sejak saat itu dia menjadi "babi saya".


Perlahan saya mulai merasakan sesuatu terhadapnya tapi dia tidak mengetahuinya. Suatu ketika saya bertanya apakah dia punya pacarm dia menjawab, "Kalau gw bilang iya gimana? Lo ga mau ngobrol sama gw lagi? Kalau gw bilang ga, lo bakalan suka sama gw?". Saya kebingungan. Saya tidak mengerti apa yang dia maksud.


Seiring dengan berjalannya waktu, peraasan saya bertambah kuat dan pada hari diaman saya akan mengatakan bahwa saya menyukainya, dia berkata bahwa dia sudah punya pacar. Saya patah hati. saya terluka. Tapi saat itu saya memutuskan untuk menjauhinya perlahan - lahan tanpa dia tahu. Tidak akan membutuhkan waktu lama sampai perasaan saya terhadapnya hilang.


Tapi kemudia hal yang aneh terjadi. Hal itu terus berlanjut selama hampir satu bulan. Dia terus menelepon saya setiap malam, mengirimi saya pesan ketika dia sedang kerja, dia terus menghubungi sata siang dan malam.Sungguh aneh sekali. Punya pacar tapi dia menghubungi saya setiap malam? Sulit bagi saya untuk berhadapan dengannya karena dia adalah laki - laki yang mudah marah.

Meski begitu, setelah merasa sangat bingung, pada bulan Agustus saya bertanya padanya, "Lo bener - benar punya pacar, atau lo bohong sama gw tentang hubungan lo atau lo mempermainkan gw sama pacar lo? Apa sih sebenarnya yang lo mau?" Dia tertawa dan berkata, "Gw nunggu lo untuk dateng dan nanyain ini. Sebenernya gw mau bilang, gw ga punya pacar karena gw takut patah hati dan gw ga mau pacaran lagi. Gw suka sama lo tapi gw takut nyakitin lo. Jadi untuk ngehindari sebuah hubungan gw bohong kalau gw punya pacar". Saya sangat kaget mendengarnya. Lalu saya bertanya kepadanya, "Apa yang sekarang lo rasain?", dia menjawab, "Gw ga tau, tapi ya.. gw emang suka sama lo. Lo mau ga jadi pacar gw?". Saya bingung, saya senang tapi saya berpikir bagaiman saya bisa menjalin hubungan dengan seseorang tanpa bertemu langsung dengannya?. Selama satu minggu saya kebingungan dan terus memikirkan hal itu, apakah saya harus menjalin hubungan dengannya atau tidak, bagaimana saya akan menjalaninya, apa yang harus saya lakukan.

Kami berdua tidak tahu harus bagaimana. Tapi kemudia kamu sadar bahwa kami saling mencintai dan kamu menginginkan satu sama lain. Akhirnya pada 1 September 2013 kami mulai pacaran. Selama 4 bulan, kami tidak bertemu. Kami memutuskan untuk bertemu untuk pertama kalinya pada hari ulang tahun saya. Dia datang ke Mumbai pada tanggal 25 Januari 2014, dan kamu saling terpana ketika pertama kali bertemu.

Dia sangat tampan dan lucu. Dia datang dan memeluk saya. Tak lama kemudian sepatunya menginjak jari kaki dan dan menciptakan kenangan "kuku yang patah". Kamu lalu pergi merayakan ulang tahun saya yang ke 26. Kamu berdua pergi makan malam untuk yang pertama kalinya. Keesokan harinya, saya sangat senang ketika kami berjalan di tepi pantai. Saat masing - masing dari kami harus terpisah lagi, kamu sangat sedih. 


Dalam waktu satu setengah tahun ini kamu hanya bertemu 5 kali. Suatu kali di bukan Oktober 2014, dia datang ke tempat saya naik motor untuk bertemu dengan saya. Itu merupakan sebuah kejutan. Dan saya sangat menyukainya. Pada tahun 2015, saya mendaftar ke program pasca sarjana di Bangalor dan dia juga memutuskan untuk pindah ke Bangalor. Dan akhirnya kami berada di kota yang sama dengan lebih banyak cinta dan kebersamaan.


Cinta itu adalah mengenai saling menghargai dan kepercayaan. Saya sangat menyukai hubungan kami karena saya mencintai pacar saya tanpa syarat. Dan bagi saya hubungan LDR ini merupakan pengalami tentang cinta yang saya punya. Saya saya senang bersamanya. Dia adalah hidup saya, kebahagiaan saya. Dia mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan dan membuat saya menjadi orang yang lebih baik.


CInta itu buta, ini memang benar. Tapi cinta dapat memberikan kamu kehidupan yang luar biasa yang tidak pernah kamu ketahui sebelumnya. Bersamanya saya menyadari bahwa cinta sejati itu benar - benar ada, bahkan dalam LDR. Dia sangat mendukung saya dalam proses wawancara saya masuk program pasca sarjana. Dia datang jauh - jauh hanya untuk mendukung saya. Saya sangat senat memilikinya dalam hidup saya.

Terjawab 7 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang