Apa saja hal-hal yang dipandang remeh di Indonesia?

Dilihat 1,01 rb • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Diremehkan oleh siapa? Oleh orang Indonesia atau orang asing?

Tapi bagi orang Indonesia sendiri -- tingkat kerusakan lingkungan itu diremehkan di Indonesia. Kami cenderung merasa bahwa kami diberkahi dengan kelimpahan dan memiliki aset-aset tersebut. Pola pikir ini tercermin paling akurat dalam lagu terkenal yang dibawakan oleh Koes Plus, Kolam Susu. Ini hanyalah liriknya, diulang-ulang dalam seluruh lagunya:

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupmu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

(Lirik Koes Plus - Kolam Susu)

(Lagu ini cukup populer -- tanyalah pada orang Indonesia, saya kira mereka akan langsung mengenal lagu ini)


Masalahnya adalah, siapa yang sebenarnya memiliki hak untuk mengklaim bahwa lautnya adalah sebuah "kolam susu"? Untuk siapa keuntungan itu diklaim? Mengapa "ikan dan udang menghampiri dirimu" untuk dimakan? Pola pikir semacam ini, pemikiran tentang lingkungan sebagai sebuah aset yang esensial, telah menjerumuskan kami. Setiap dan masing-masing rumah-rumah di perkotaan memompa air dari dalam tanah, menguras sumber mata air untuk seluruh kota [1]. Kita mengeruk ikan banyak sekali, menyebabkan hancurnya biodiversitas lautan kita sendiri [2]. Kita membakar habis hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi para orangutan di Kalimantan [3] dan Sumatra [4] untuk menghasilkan lebih dan lebih banyak minyak emas untuk memasak dan untuk menghasilkan kertas-kertas putih yang halus untuk menulis, dan dengan melakukan hal-hal semacam itu, kita meracuni diri kita sendiri serta negara-negara tetangga kita. Kita adalah pemilik dari beberapa keindahan alam yang paling menakjubkan di dunia namun kita telah melakukan tindakan kriminal kepada alam yang tidak dapat dimaafkan.


Masalahnya menjadi lebih gawat dengan adanya tren urbanisasi dan industrialisasi. Setiap tahun, setelah Idul Fitri, jutaan dari kita pindah ke kota, tebing beton dimana aspal dan beton kami menguasai tanah alam. Hal ini akan lebih jauh lagi melemahkan hubungan manusia-alam. Terlebih lagi, industrialisasi bisa menyebabkan kita berpikir bahwa di masa depan, kita masih bisa menghitung uang kita selagi kita menahan nafas. Tidak akan. Dan kita kehabisan segala hal. Ini adalah malapetaka, dan saya rasa ini adalah masalah yang tidak akan cukup disadari untuk membuatnya menjadi sebuah masalah yang besar, besar, sangat besar seperti masalah korupsi, yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Kita perlu membangunkan mereka.


Saya tak ingin menaburi garam pada sebuah luka, tapi saya kira masalahnya sebagian berakar pada pedoman kita Yahudi-Kristen-Islam yang mengatakan "manusia diciptakan dalam gambaran Tuhan". Sebagai contoh, kita memperlakukan gajah dan lumba-lumba seakan-akan otak kita sangat berbeda dari mereka. Tidak, sebenarnya kita tidak berbeda, kita dulu tidak diciptakan sama sekali: kita tumbuh diantara semua makhluknya dan, dengan kehendak alam, kita memperoleh akal. Kita bukanlah pusat dari Bumi dan alam semesta, kita tidak diciptakan untuk membuat aset darinya dan kita harus hidup damai bersama lingkungan hidup kita.


Kita perlu melakukan re-koneksi yang mendasar dengan Alam, yang akan mengarahkan kita untuk mempercayai bahwa kita bukanlah subjek untuk kepatuhan Alam, melainkan subjek yang berdampingan dengan Alam, yang keberadaannya ada di tengah-tengah mereka dan harus tinggal bersama mereka. Ini sangat penting jika kita ingin bertahan hidup. Lingkungan kita sudah hancur -- malapetaka, pemanasan global sudah tak bisa dicegah lagi [5], dan tren terkini menunjukkan bahwa temperatur meningkat secara konsisten.


Catatan :

[1] Air Tanah di Bandung Habis Setengahnya

[2] Ikan Asli Ciliwung Mulai Punah dan Langka, Kini Tinggal 20-an Jenis

[3] Berita Harian Kebakaran Hutan Kalimantan

[4] Berita Harian Kebakaran Hutan Riau

[5] The Dangerous Myth That Climate Change Is Reversible

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang