Apa skizofernia bisa disembuhkan?

Dilihat 943 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Tidak. Anda menanyakan hal seperti 'apakah kemarahan bisa disembuhkan'. Sejumlah orang lebih rentan dengan kemarahan daripada yang lain, begitu juga skizofrenia. Kemarahan tidak dapat disembuhkan, hanya dapat dikendalikan dengan kedisiplinan pikiran. Sama dengan skizofrenia, mereka benar-benar mirip. Saya didiagnosis mengidap skizofrenia pada tahun 2005. Sebelumnya, saya mengalami kekerasan di sekolah dan oleh anggota keluarga, yang menyebabkan serangan awalnya. Selain itu saya tidak tidur nyenyak sebelum mempersiapkan diri untuk sejumlah ujian yang sangat sulit. Jadi perlahan saya mengembangkan gejalanya. Saya mulai memikirkan dan mempercayai hal-hal aneh. Saya diberi banyak obat-obatan, benar-benar overdosis. Dulu saya terbiasa tidur seharian karena obat-obatan tersebut. Tetap saja, gejala saya hanya ditekan, bukan dihilangkan. Saya mengalami halusinasi auditory. Suatu hari saya dibawa ke psikiater lain yang mengambil buku tebal dari raknya dan membacakan kepada saya tentang penyakit yang disebut skizofrenia. Itu adalah momen 'OH!' bagi saya. Hahaha. Oh, jadi tentang ini masalahnya!


Tapi, saya masih melanjutkan pengobatan. 5 tahun lamanya secara total dan banyak efek samping yang parah, kemudian saya memutuskan untuk berhenti. Berlawanan dengan dokter dan orang tua saya, saya berhenti berobat pada tahun 2010. Hingga kini, saya belum pernah mengunjung ahli kejiwaan atau meminum obat lagi. Hal-hal yang dibutuhkan hanyalah tidur malam yang nyenyak, berhenti minum kopi, teh, zat aditif, menghindari musik bersuara keras dan banyak melakukan meditasi. Meditasi pikiran berhasil bagi saya. Saya sudah bermeditasi sejak kecil dan itu menguntungkan bagi saya. Sekarang saya tidak berhalusinasi, bahkan saya sudah melampauinya. Saya bisa melambatkan dan menghentikan suara di pikiran saya. Saya juga memahami kebanyakan hal yang dikatakan oleh pengidap skizofrenia demi membuktikan bahwa mereka tidak mengidapnya. Contohnya, setan, alien, dewa atau hal-hal lain-lah yang dituduh menyebabkan hal aneh seperti mendengar suara-suara, bukannya mengakui penyakitnya.


Saat awal-awal pikiran kami diserang, kami mengetahui bahwa itu cuma imajinasi, tetapi lama-kelamaan mereka terlihat nyata. Jadi pokoknya, waspada dengan pikiran sendiri dan pangkas pikiran yang berpotensi berbahaya saat dirasakan. Saya telah menerima diri saya apa adanya dan saya sangat-sangat senang, saya punya pekerjaan yang sangat bagus, dan saat saya memahami penyakit seseorang, jika dibutuhkan saya akan tulus menceritakan masalah saya kepadanya. Ini menciptakan dukungan sosial bagi anda. Toh manusia tercipta untuk menyayangi satu sama lain.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang