Apa yang dimaksud dengan Kristen Ortodox?

Dilihat 479 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

salib kristen ortodoks

Ortodoks adalah suatu kepercayaan yang mengarah ke Kristen yang dibentuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Kata “ortodoks” berasal dari bahasa Yunani “orthos” (benar) dan “doxa” (kepercayaan atau opini) yang jika disatukan berarti komitmen suatu standar yang benar, yang berlaku secara umum. Ortodoksi dalam sebuah ajaran agama artinya adalah ajaran yang benar, terkadang hal ini diartikan sebagai ajaran yang lama, ajaran yang kuno atau ajaran yang fundamentalis. Jadi, dalam arti luas, ortodoks disebut sebagai agama atau posisi filosofis yang sesuai dengan pemahaman asli dan harfiah suatu doktrin. Hal ini pun berlaku pada agama-agama lainnya. Selain Kristen Ortodoks, ada pula Yahudi Ortodoks, Islam Ortodoks, Buddha Ortodoks, dan Marxisme Ortodoks. Dalam hal ini, ortodoks berarti konservatif.


Lahirnya Paham Ortodoks

Sejarah agama Kristen menyebutkan, paham ortodoks lahir dari perselisihan antara Gereja Alexandria, Gereja Roma, dan Kaisar Konstantin. Puncaknya, pada masa Kaisar Bizantium Marqilanus (450-458 M) seabad lebih sebelum Nabi Muhammad lahir di Mekkah (571). Kala itu, tepatnya pada tahun 451, diadakan Majma Khalkaduniyah (Konsili Kalkedonia) dalam hal ketuhanan. Buntut dari konsili ini menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja yang sulit disatukan kembali.


Nah, rupanya, sejak inilah umat Kristen terpecah menjadi dua. Di satu pihak berpusat di Roma dan Bizantium, dipimpin Bapa Laon (440-461). Kelompok ini mengakui, al-Masih mempunyai dua sifat: Tuhan dan manusia. Kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan Kristen dan Katholik. Di pihak lain, berpusat di Alexandria dan Antakia di bawah pimpinan Bapa Disqures (444-454 Masehi). Kelompok ini berpegang kuat pada sifat tunggal bagi al-Masih. Mereka tidak setuju dengan aliran kristen lainnya yang mengakui sifat Tuhan sekaligus manusia. Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan kelompok ortodoks. Nama 'ortodoks' dipakai karena berarti: menganut ajaran agama yang dianggap benar, yang asli. Karena itu, penganut ortodoks mencoba untuk hidup secara lurus, sesuai dengan tuntutan awal dari kelahiran agamanya.


Penganut ortodoks sendiri terdiri atas beberapa toifah (komunitas berdasarkan kesamaan kultur, tradisi, bahasa, dan bangsa). Karenanya ada toifah Koptik, Syrian, Armenian, dan Habasah. Sedang 'aqidahnya' sama mempertuhankan Isa Almasih.


Dari beberapa toifah ini ada kelompok yang berkembang yaitu Kristen Ortodoks Syiria (KOS). Kristen Ortodoks Syiria mengklaim punya bukti sejarah agama kristen, bahwa Injil yang pertama berbahasa Arab Syria. Menurut mereka, bahwa al-Masih kalangan penganut Kristen Ortodoks Syiria pantang menyebut Nabi Isa as dengan Yesus seperti lazimnya digunakan penganut Kristen Katholik atau Protestan, tetapi lebih suka menyebutnya dengan al-Masih atau Sayyidina Isa al-Masih, berbicara dengan menggunakan bahasa Syiria. Injil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada tahun 643. Hingga sekarang, Injil yang digunakan penganut paham Ortodoks Syiria, Irak, Lebanon, dan Mesir, adalah berbahasa Arab. Memang, antara bahasa Syiria dan bahasa Arab terdapat kemiripan dan persamaannya.


KOM

Gereja ortodoks Mesir

Gereja Ortodoks/Kristen Ortodoks Yang Ada Di Dunia

Perkembangan Kristen Ortodoks di seluruh dunia hingga banyak munculnya beberapa paham ortodoks yang ada sekarang ini. Dapat dibaca seperti di bawah ini :


  • Ortodoks Timur 

Gereja Ortodoks Timur dengan nama resmi Gereja Katolik Ortodoks juga disebut Gereja Ortodoks, Ortodoksi Timur, dan Ortodoksi adalah Gereja Kristen terbesar kedua di dunia dengan perkiraan jumlah umat sekitar 225–300 juta orang. Gereja ini bukan bagian dari Gereja Katolik Ritus Timur.

Gereja Ortodoks Timur termasuk salah satu lembaga keagamaan tertua di dunia yang mengajarkan bahwa Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik didirikan oleh Yesus Kristus dalam Amanat Agung-Nya kepada para rasul, dan mempraktikkan apa yang dipahami sebagai iman asli yang diwariskan dari para Rasul.


Gereja Ortodoks Timur berada dalam persekutuan dengan Gereja Latin sebelum Skisma Timur–Barat tahun 1054, dan dengan gereja-gereja Oriental selama kuartal pertama sejarahnya. Ortodoksi menyebar di seluruh Kekaisaran Romawi dan kemudian Bizantium serta daerah sekitarnya memainkan suatu peran penting dalam budaya Eropa, Timur Dekat, Slavia, dan beberapa budaya Afrika. Tahta episkopalnya yang paling utama adalah Konstantinopel.


Ortodoksi tidak memiliki Kepausan ataupun keuskupan dengan ortoritas serupa. Sebutan "Timur" biasa digunakan, walaupun tidak resmi, diambil dari kaitannya secara geografis dengan gereja-gereja "Barat", yang sekarang dikenal sebagai Gereja Katolik Roma, dan karena Konstantinopel merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Timur. 

  • Gereja Ortodoks Oriental  

Adalah sebutan bagi Gereja-Gereja Kristen Timur yang hanya mengakui tiga konsili ekumenis, yakni Konsili Nicea Pertama, Konsili Konstantinopel Pertama, dan Konsili Efesus Pertama. Mereka menolak rumusan-rumusan dogmatik dari Konsili Kalsedon (451). Oleh karena itu, Gereja-Gereja Ortodoks Oriental ini juga disebut Gereja-Gereja Oriental Lama atau Gereja-Gereja Non Kalsedonia. Gereja-Gereja ini tidak berada dalam jalinan persekutuan dengan Gereja-Gereja Ortodoks Timur, namun kedua belah pihak sedang berdialog untuk bersatu kembali.  Meskipun nomenklaturnya dapat menimbulkan kesalahpahaman (Oriental berarti Timur), Gereja-Gereja Ortodoks Oriental berbeda dari Gereja-Gereja yang secara kolektif disebut Gereja Ortodoks Timur. Persekutuan Ortodoks Oriental terdiri atas enam Gereja, yakni Gereja Ortodoks Koptik, Gereja Ortodoks Ethiopia, Gereja Ortodoks Eritrea, Gereja Ortodoks Suryani, Gereja Suriah Ortodoks Malankara (India), dan Gereja Apostolik Armenia. Keenam Gereja ini, meskipun menjalin persekutuan satu sama lain, secara hierarki bersifat mandiri. 


Gereja Ortodoks Oriental terpisah dari keseluruhan Gereja akibat perbedaan terminologi Kristologis. Konsili Nicea Pertama (325) menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah, "sehakikat" (konsubstansial) dengan Bapa dan Konsili Efesus Pertama (431) menyatakan bahwa Yesus, sekalipun bersifat ilahi sekaligus insani, hanya satu pribadi (hipostasis). Dua puluh tahun sesudah Konsili Efesus, Konsili Kalsedon menyatakan bahwa Yesus adalah satu pribadi dengan dua sifat yang sempurna, insani dan ilahi. Pihak-pihak penentang keputusan Konsili Kalsedon menganggap ajaran Konsili itu sama saja dengan ajaran bidaah Nestorius, yang dikutuk dalam Konsili Efesus, bahwa Kristus adalah dua pribadi yang berbeda, satu pribadi bersifat ilahi (Sang Sabda) dan satu pribadi lagi bersifat insani (Yesus).


  • Yahudi Ortodoks 

Adalah cabang dari agama Yudaisme yang sangat radikal. Penganutnya dikenal sangat kaku dalam mentaati seluruh hukum Taurat yang berjumlah 613 mitzvot/peraturan. Misalnya, mereka memilih berjalan kaki menuju Sinagoga, karena tidak boleh ada transaksi uang di hari Sabat. Demikian pula tidak boleh ada seorang wanita yang boleh jadi Rabini, hanya pria yang boleh dan semua yang disebut Rabi. Mereka bisa dibilang jauh dari kehidupan duniawi. Pendekatan agama Yudaisme mereka menganut penafsiran dan penerapan hukum dan etika Taurat sebagai disahkan dalam teks Talmud oleh Tanaim dan Amoraim dan kemudian dikembangkan dan diterapkan oleh otoritas kemudian dikenal sebagai Gaonim, Rishonim, dan Acharonim. Ortodoks Yahudi umumnya termasuk modern Ortodoks Yudaisme dan Haredi Yudaisme, tetapi bisa termasuk berbagai filosofi. Ortodoks Yudaisme adalah identifikasi sadar diri modern yang, bagi sebagian orang, membedakannya dari pramodern Yudaisme tradisional, meskipun itu ekspresi arus utama Yudaisme sebelum abad ke-19.


  • Neo-Ortodoksi  

Adalah nama bagi gerakan dalam aliran Kristen Protestan pada awal abad ke-20 yang amat mempengaruhi kekristenan pada waktu itu. Salah satu tokoh utama dari gerakan ini adalah Karl Barth, terutama lewat buku yang ditulisnya Church Dogmatics. Teolog lain yang terkemuka dari gerakan ini adalah Emil Brunner. Gerakan ini muncul sebagai respons negatif terhadap aliran liberalisme yang sebelumnya mendominasi kekristenan. Aliran ini pertama-tama berkembang di Eropa lalu mulai mempengaruhi teologi di Amerika Utara pada tahun 1930-an lewat tulisan-tulisan Reinhold Niebuhr.


  • Katolik  

Berasal dari kata sifat bahasa Yunani, katholikos, artinya "universal". Dalam konteks eklesiologi Kristen, kata Katolik memiliki sejarah yang kaya sekaligus beberapa makna. Bagi sebagian pihak, istilah "Gereja Katolik" bermakna Gereja yang berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma, terdiri atas Gereja Latin dan 23 Gereja Katolik Timur; makna inilah yang umum dipahami di banyak negara. Bagi umat Protestan, "Gereja Katolik" atau yang sering diterjemahkan menjadi "Gereja Am" bermakna segenap orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang "denominasi".

oaus benediktus

Paus Benediktus

Umat Gereja Ortodoks Timur, Gereja Anglikan, Gereja Lutheran dan beberapa Gereja Metodis percaya bahwa Gereja-Gereja mereka adalah katolik, dalam arti merupakan kesinambungan dari Gereja universal mula-mula yang didirikan oleh para rasul. Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks percaya bahwa Gerejanya masing-masing adalah satu-satunya Gereja yang asli dan universal. Dalam "Kekristenan Katolik" (Termasuk Komuni Anglikan), para uskup dipandang sebagai pejabat tertinggi dalam agama Kristen, sebagai gembala-gembala keesaan dalam persekutuan dengan segenap Gereja dan dalam persekutuan satu sama lain. Katolik dianggap sebagai salah satu dari Empat Ciri Gereja. Ketiga ciri lainnya adalah Satu, Kudus, dan Apostolik sesuai Kredo Nicea tahun 381: "Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik."


Sejarah Perkembangan Kristen Ortodoks di Indonesia

Menurut sejumlah laporan, pada abad ke-7 dan 8 Masehi, para misionaris pertama dari Antiokhia – "Gereja Ortodoks Syiria" – mulai mengajar di Sumatra, meskipun setelah semua presbiter ini kemudian meninggal, rakyat setempat terisolasi secara politik dan geografis dari dunia Gereja Ortodoks. Namun, pada abad ke-11, seorang misionaris Katolik menemukan adanya orang-orang Kristen yang tetap memegang ajaran tersebut, meskipun telah melewati tiga abad. Dalam legenda mereka tetap dipertahankan nama-nama tiga uskup – Mar Yaballa, Mar Abdisho and Mar Denha.


Informasi terpercaya tentang kedatangan Ortodoksi (Orthodoxy) di Indonesia dihubungkan dengan paroki-paroki imigran Rusia yang telah ada sejak awal tahun 1920-an sampai akhir tahun 1950-an di pulau Jawa (kota Bandung dan Batavia, yaitu sekarang Jakarta). Imigran-imigran ini meninggalkan Tanah Tiongkok dan berada di bawah yurisdiksi episkopat Harbin. Paroki-paroki ini bersifat tertutup dan tidak dilakukan pengajaran Ortodoksi di antara orang-orang Indonesia.


Perintis dan pendiri Gereja Ortodoks Indonesia pada masa modern adalah Mitra-Arkimandrit Romo Daniel (Bambang Dwi Byantoro), seorang Indonesia yang lahir pada tahun 1956 di pulau Jawa. Ia tumbuh dalam keluarga Muslim, and selama tahun-tahun pemudanya, pada saat masih di bangku sekolah, ia menjadi penganut Protestan. Pada tanggal 6 September 1983 di Seoul, pada waktu belajar di Asian Center for Theological Studies and Mission, ia beralih menjadi penganut Ortodoksi. Yang menjadi pendorongnya adalah buku “The Orthodox Church” tulisan Bishop Callistus (Ware), yang dibacanya dalam rangka meneliti Kekristenan Timur kuno.


Pada tahun yang sama, Bambang Dwi Byantoro pergi ke Yunani dan melewatkan satu tahun di biara Ortodoks "the Orthodox monastery of Simon (Peter) on Mount Athos". Di sanalah ia mulai menerjemahkan kitab-kitab liturgi ke dalam bahasa Indonesia. Pada tahun 1984, ia mulai belajar di Amerika Serikat pada sekolah-sekolah teologi Ortodoks Yunani, dan setelah menyelesaikan latihannya pada tahun 1987, Pater (Father) Daniel ditahbiskan menjadi seorang diaken dan pada tahun 1988 menjadi pastur oleh Bishop Maximus dari Pittsburgh (Aghiorgoussis). Pada tahun itu pula ia pulang ke tanah airnya. Pater Daniel mulai mengajarkan Ortodoksi pada tahun 1988 di pulau Jawa di kampung halamannya, kota Mojokerto. Setelah membawa anggota keluarganya kepada Ortodoksi, ia pindah ke kota Solo, di mana ia mendirikan paroki Ortodoks pertama pada tahun 1990. Pada tahun yang sama New Zealand Metropolitan Dionysius mengangkat Pater Daniel sebagai vicar dari Korean Diocese (Ecumenical Patriarchate of Constantinople) dengan tingkat jabatan archimandrite.[1]

Dalam rangka mendapatkan status hukum, gerakan Ortodoks diformalisir dengan nama "Yayasan Dharma Tuhu" (The Straight Doctrine Foundation), tetapi karena nama itu kedengaran mirip dengan nama Hindu, diganti menjadi "Yayasan Ortodoks Injili Indonesia" (Indonesian Orthodox Evangelical Society). Pada tahun 1991, komunitas Ortodoks yang didirikan oleh Pater Daniel secara resmi diakui dan terdaftar dengan nama "Gereja Ortodoks Indonesia" (GOI; the Indonesian Orthodox Church) oleh Menteri Urusan Agama, direktorat denominasi Kristen.


Saat ini, GOI mempunyai lebih dari 2.000 anggota. Kebanyakan komunitas ini berlokasi di Jawa, termasuk dua di ibukota, Jakarta, dan satu di setiap kota-kota Solo (Surakarta), Surabaya, Mojokerto, Salatiga dan Boyolali, di pulau Bali (Sanur), Sumatra (Medan) Sulawesi (Manado), Timor (Kupang) dan Papua (Jayapura). Terdapat sebelas pastur dan lima diaken, serta 13 gereja dan rumah-rumah doa. Di Jakarta ada Cathedral of the Holy Apostle Thomas (rektor: Pater Boris) dan gereja pusat Holy Apostolic Prince Vladimir di kediaman representatif Moscow Patriarchate di Indonesia (rektor: Pater Ioasaf).


Inilah uraian singkat mengenai kristen ortodoks hingga sampai berkembang ke Indonesia. Semoga bermanfaat dengan bertambahnya pengetahuan mengenai agama di dunia. 

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang