Apa yang harus anda lakukan bila terjadi tsunami?

Dilihat 1,2 rb • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

tsunami

Tsunami secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan" adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.


Kata tsunami berasal dari bahasa jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang atau dengan kata lain disebut sebagai gelombang pasang. Pandangan mengenai gelombang pasang ini mulai populer dikalangan peneliti sehingga fenomena gelombang pasang yang tinggi kerap disebut tsunami. Karena adanya perbedaan faktor penyebab antara gelombang pasang dan tsunami, istilah tsunami kini lebih dikenal sebagai gelombang yang sangat tinggi yang diakibatkan oleh kegiatan seismik.


Tanda-tanda tsunami biasanya menimbulkan gelombang yang dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500–1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.


Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.


Proses dan Penyebab Tsunami 


mekanisme tsunami


Proses terjadinya tsunami adalah berawal dari gerakan vertikal pada lempeng yang berupa patahan/sesar. Patahan ini menyebabkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba atau dalam fase ini dinamakan gempa bumi. Biasanya gempa bumi terjadi di daerah subduksi. Nah karena adanya gempa bumi ini pula keseimbangan air diatasnya terganggu sehingga terjadi suatu aliran energi air laut. Energi ini berupa gelombang bergerak menuju pantai dan biasa kita kenal sebagai tsunami.


Memangnya tsunami terjadi akibat gempa bumi saja?  Belum tentu. Tsunami dapat terjadi karena beberapa faktor. Walaupun hampir 90% faktor penyebab tanda-tanda tsunami adalah gempa bumi bawah laut, 10% lainnya itu dapat berupa letusan gunung berapi atau meteor/asteroid yang jatuh ke laut yang intinya dapat menyebabkan keseimbangan air laut terganggu. Contohnya adalah tsunami yang terjadi ketika letusan dahsyat gunung Krakatau. Lokasi gunung berapi di laut juga menjadi faktor tersendiri. Ketika meletus, gunung mengeluarkan berbagai material bumi, material-material yang berada di gunung dapat berhamburan ke arah pantai dan dapat menyebabkan tsunami. 


Yang perlu diingat adalah tidak semua kejadian gempa bumi atau gerakan lempeng menyebabkan tsunami. Hanya gempa dengan kekuatan tinggi yang dapat menyebabkan tsunami atau dengan kata lain gempa dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6.5 SR (Skala Ritcher). Selain itu lokasi terjadinya gempa juga menjadi pertimbangan, gempa bumi yang berpusat di tengah laut dangkal (0-30 km) dapat menyebabkan proses terjadinya tsunami lebih cepat sampai daratan.


Tsunami bukan merupakan gelombang tunggal yang sekali datang habis, namun tsunami merupakan serangkaian gelombang besar. Di lautan terbuka, gelombang tsunami tidak terlihat besar, tapi ketika sampai perairan dangkal, gelombang tsunami menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan air normal. Nah gelombang yang tinggi dan cepat ini dapat menyebabkan korban jiwa dan kerugian lainnya.


Berbicara mengenai kecepatan gelombang tsunami, maka kamu harus mengerti pada kedalaman laut berapa dan dimana gelombang itu terjadi. Kecepatan gelombang tsunami bisa mencapai ratusan km/jam! Di tengah lautan luas, tinggi gelombang tsunami hanya sekitar beberapa sentimeter dan meter, tapi ketika mencapai pantai, tingginya bisa mencapai puluhan meter. Bertambahnya ketinggian gelombang ini terjadi karena adanya penumpukan massa air permukaan.

Setelah kamu mengetahui proses terjadinya tsunami, sebaiknya kamu juga mengetahui tanda-tanda tsunami : 

  1. adanya gempa dan gempa pengiring 
  2. kondisi air di pantai surut tiba-tiba 
  3. terdengar suara gemuruh 
  4. gelombang pasang yang sangat tinggi 

Kalau kamu tinggal di wilayah pesisir pantai, sebaiknya kamu memiliki pemahaman yang baik tentang bencana tsunami dan cara menghadapi tsunami. Selain untuk berjaga-jaga, seperti halnya masyarakat Jepang, mereka bahkan dididik untuk memahami bagaimana sistem evakuasi yang baik saat tsunami datang. Sehingga dapat menekan jumlah korban jiwa atau mengurangi kerugian baik secara fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan. 


Apa yang dilakukan sebelum dan pada saat terjadi tsunami

1. Nyalakan radio untuk mengetahui apakah tsunami terjadi setelah adanya gempa bumi di sekitar wilayah pantai. 

2. Cepat bergerak ke arah daratan yang lebih tinggi dan tinggal di sana sementara waktu.

3. Jauhi pantai. Jangan pernah menuju ke pantai untuk melihat datangnya tsunami. Apabila Anda dapat melihat gelombang, anda berada terlalu dekat. Segera menjauh.

4. Waspada apabila terjadi air surut, jauhi pinggir pantai. Ini merupakan salah satu tanda bahwa akan terjadi tsunami dan harus diperhatikan.


Apa yang dilakukan setelah terjadi tsunami

1. Jauhi area yang tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari pihak berwenang.

2. Jauhi reruntuhan di dalam air. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keamanan perahu penyelamat dan orang-orang di sekitar.

3. Utamakan keselamatan dan bukan barang-barang Anda.


dampak tsunami aceh

dampak tsunami Aceh

Tsunami di Indonesia

Pada tahun 2004, Indonesia mengalami tsunami dahsyat setelah gempa bumi berskala 9 SR terjadi di sekitar Aceh. Bencana yang juga dikenal dengan sebutan Boxing Day Tsunami ini menelan korban jiwa lebih dari seperempat juta orang dan nilai kerugian ekonomi mencapai lebih dari 10 triliun rupiah. Suatu bencana skala besar di Indonesia yang merupakan salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah. Korban jiwa akibat tsunami biasanya sangat banyak karena singkatnya waktu antara peringatan dengan munculnya tsunami.

Tsunami dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan dapat mencapai daratan dengan ketinggian gelombang hingga 30 meter. Pada Boxing Day Tsunami misalnya, ketinggian gelombang pada beberapa tempat di Aceh menimbulkan gelombang setinggi 20 meter. Area yang memiliki risiko tinggi jika gempa bumi besar atau tanah longsor terjadi dekat pantai. Gelombang tsunami dapat terjadi dalam beberapa seri. Area berada pada risiko yang lebih besar jika berlokasi kurang dari 25 meter di atas permukaan laut dan dalam beberapa meter dari garis pantai.

Indonesia merupakan negara yang rawan mengalami tsunami karena berada di dekat pertemuan lempeng tektonik. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui tindakan cara menghadapi tsunami, sebagai berikut: 

Ketika gempa besar yang memicu tsunami terjadi di dekat pesisir pantai, warga hanya punya waktu 10 hingga 30 menit untuk menyelamatkan diri, kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).  Inilah yang dikenal dengan istilah waktu emas (golden time). Keputusan dan tindakan apa yang diambil dalam rentang waktu yang sempit inilah yang akan menentukan hidup dan mati. Oleh karena itu, pengetahuan tentang evakuasi dini dan siaga bencana idealnya harus dimiliki setiap orang.  

Berikut, kami merangkum sejumlah hal yang harus diketahui untuk merespon cepat potensi tsunami di wilayah pesisir.


  • Seberapa rawan daerah pesisir kita?

Tingginya aktivitas kegempaan terjadi karena wilayah nusantara yang merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik.

Hampir semua daerah pesisir tergolong rawan, termasuk wilayah yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia, pantai Kalimantan sebelah barat, seluruh pantai Sulawesi, Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil di antaranya.

Data BMKG dari 1991 hingga 2010 menunjukan sedikitnya ada 10 bencana tsunami di Indonesia, sembilan di antaranya menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk tsunami Flores 1992 dengan lebih dari 2.000 korban jiwa, tsunami Aceh yang menelan lebih dari 200.000 korban, dan gempa Mentawai 2010.

Belajar dari tsunami Aceh, sistem peringatan dini BMKG terus diperbaiki dan sudah mampu menyampaikan peringatan lebih cepat kepada warga.

Namun, BMKG mengatakan warga tidak boleh hanya mengandalkan peringatan dini dan pemerintah daerah untuk melakukan evakuasi ketika tsunami datang.


  • Bagaimana melakukan evakuasi mandiri?

Memanfaatkan waktu emas atau golden time adalah yang terpenting ketika Anda tinggal di wilayah pesisir.

Seperti namanya, evakuasi mandiri adalah evakuasi yang dilakukan tanpa menunggu arahan dari petugas terkait. Gempa itu sendiri adalah early warning. Ketika gempa dirasakan kuat dan lama, kamu harus curiga dan segera lari ke arah tegak lurus dengan pantai.

Pelatihan evakuasi mandiri, termasuk penyediaan jalur dan tempat evakuasi, harus diberikan kepada warga oleh pemerintah daerah di daerah rawan tsunami.


  • Pahami status peringatan dini

Lima menit setelah gempa, BMKG biasanya akan mengeluarkan peringatan dini di beberapa wilayah jika ada potensi tsunami. Peringatan diberikan dalam tiga kategori berbeda. Apa artinya dan bagaimana kita harus bereaksi terhadapnya?

Berikut penjelasannnya:

AWAS: Tinggi tsunami diperkirakan bisa mencapai lebih dari tiga meter. Warga diminta segera melakukan evakuasi menyeluruh ke arah tegak lurus dari pinggir pantai. Pemerintah daerah harus menyediakan informasi jelas tentang jalur dan tempat evakuasi terdekat.

SIAGA: Tinggi tsunami berada dikisaran 0,5 meter hingga tiga meter. Pemerintah daerah diharapkan bisa mengerahkan warga untuk melakukan evakuasi.

WASPADA: Tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter. Walau tampak kecil, warga tetap diminta menjauhi pantai dan sungai.


Dengan peristiwa tsunami 2004 masih segar di dalam ingatan, tingkat kekuatiran masyarakat sangat tinggi. Hingga saat ini masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di desa-desa atau kota-kota dekat pantai sering melarikan diri ke wilayah perbukitan (yang terletak lebih ke tengah daratan) setelah sebuah gempa bumi terjadi walaupun itu bukan gempa tsunami.  

Dan gempa bumi merupakan gejala alam yang membawa kerusakan dan kehancuran bagi lingkungan dan makhluk hidup khususnya kehidupan manusia maka diperlukan upaya-upaya antisipasi baik sebelum terjadi gempa, saat terjadi gempa, dan setelah terjadi gempa.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang