Apa yang terjadi jika tak ada yang namanya depresi?

Dilihat 1,65 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Paling tidak ada tiga pertanyaan yang ditanyakan.

Adakah yang dinamakan depresi klinis? Jawaban tegasnya adalah, ada. Ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa depresi berkepanjangan berkaitan dengan ketidakseimbangan kimia dan/atau adanya kerusakan struktur otak. Kadar dopamin secara konsisten rendah pada pasien-pasien depresi.. kaitannya dengan ketidakmampuan untuk merasakan kebahagiaan dan menurunnya performa dalam melakukan kegiatan yang didorong dengan adanya penghargaan/reward....Rasa sakit akibat penolakan, seperti putus cinta, bertahan lebih lama karena sel-sel otak orang-orang yang depresi mengeluarkan opioid...lebih sedikit. Studi pencitraan telah menunjukkan bahwa area-area dari otak yang mengatur emosi cenderung lebih kecil: amygdala, hippocampus, anterior cingulate cortex, dan bagian tertentu dari prefrontal cortex.


Apakah semua orang orang yang didiagnosa depresi klinis cocok dengan kriteria medis dari medical depressive disorder (MDD)? Jawaban untuk itu sepertinya tak salah lagi, tidak. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada lebih dari 5.500 pasien pada tahun 2009-2010, para peneliti menemukan bahwa hampir 2/3 dari jumlah pasien (61,6%) yang didiagnosa depresi oleh dokter-dokter mereka tidaklah memenuhi kriteria MDD. Faktanya, diantara pasien yang berusia 65 tahun keatas, 85,7% yang didiagnosa depresi tidak memenuhi kriteria MDD. (Lihat studi: Kebanyakan Orang-orang Yang Didiagnosa Depresi Tidak Memenuhi Kriteria). Meskipun kebanyakan pasien yang didiagnosa depresi oleh dokter mereka tidak memenuhi kriteria, hampir 75% menggunakan obat-obatan resep dari dokter mereka untuk mengatasi gejala-gejalanya.


Pada akhirnya, pantaslah kita bertanya, apakah perubahan ukuran dari area-area yang berbeda pada otak menyebabkan depresi ataukah hal itu justru disebabkan karena depresi? Penelitian terbaru jelas-jelas menunjukkan kecenderungan genetik untuk depresi. Sebuah tim penelitian dari Inggris baru-baru ini mengisolasi sebuah gen yang tampaknya prevalen dalam berbagai macam anggota-anggota keluarga yang mengalami depresi. Peneliti meyakini sebanyak 40% dari mereka yang mengalami depresi bisa jadi ada kaitannya dengan genetik. Sebuah studi menemukan bahwa wanita memiliki peluang mengalami depresi turunan sebesar 42%, sedangkan pria hanya sebesar 29%. Juga tampaknya ada penelitian yang menyatakan bahwa episode depresi itu sendiri mengubah ukuran dan kimiawi otak. Studi-studi pencitraan otak telah menunjukkan area-area dalam otak yang melibatkan mood, daya ingat dan pembuatan keputusan bisa berubah dalam ukuran dan fungsinya untuk merespon episode-episode depresi.


Suatu depresi tidak hanya membuat seseorang itu sedih dan muram - ia bisa juga merusak otak secara permanen, sehingga orang itu kesulitan mengingat dan berkonsentrasi ketika penyakitnya itu sembuh. Dalam konteks tersebut, sebagian variasi dari pertanyaan anda kelihatannya memberikan harapan bagi beberapa orang. Bagaimana jika sebagian depresi itu tidak diawali dengan latar belakang medis, meski ujung-ujungnya berakhir dengan latar belakang medis? Apakah ada orang-orang yang memiliki kesulitan hidup yang bisa mendapatkan bantuan lebih awal sebelum itu menjadi depresi medis? Saya bukanlah dokter. Itu adalah yang disarankan penelitian-penelitian kepada saya.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang