Apakah ada cerita yang berakhir baik setelah melakukan kemoterapi untuk kanker payudara?

Dilihat 6,93 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1



Memang tidak menyenangkan mana kala kita mendengar diagnosa kanker payudara dan harus menjalani rangkaian pengobatan yang tak mengenakkan. Pasien kanker payudara umumnya juga menjalani kombinasi operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Beberapa kasus kanker payudara juga dapat ditangani melalui terapi biologis atau hormon. Namun, dikarenakan Anda fokus bertanya mengenai pengobatan kanker payudara menggunakan kemoterapi, maka kita akan fokus dengan satu model pengobatan tersebut.


Apa itu Kemoterapi, Manfaat, Prosedur dan Efek Samping


Sebelum bergerak lebih jauh, kami akan menjelaskan apa pengobatan kemoterapi itu. Kemoterapi adalah salah satu jenis pengobatan yang digunakan untuk menghancurkan sel kanker yang berbahaya bagi tubuh. Cara kerjanya adalah dengan menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat. Tergantung kepada jenis kanker dan sudah sampai di stadium berapa. 


Akan tetapi kemoterapi dapat bermanfaat untuk sebagai berikut:

  • Meringankan gejala. Kemoterapi dapat memperkecil tumor yang mengakibatkan rasa sakit.
  • Mengendalikan. Kemoterapi dapat mencegah penyebaran, memperlambat pertumbuhan, sekaligus menghancurkan sel kanker yang berkembang ke bagian tubuh yang lain.
  • Menyembuhkan. Kemoterapi dapat menghancurkan semua sel kanker hingga sempurna dan ini mencegah berkembangnya kanker di dalam tubuh lagi.


Kemoterapi adalah satu-satunya upaya penyembuhan kanker untuk saat ini yang diyakini paling efektif. Namun sering kali kemoterapi dilakukan bersama-sama dengan tindakan operasi, terapi radiasi untuk kanker, atau terapi biologis lain. Umumnya kemoterapi dilakukan saat:


  • Sebelum operasi atau terapi radiasi, agar ukuran tumor menjadi lebih kecil.
  • Setelah operasi atau terapi radiasi, untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa.
  • Saat dilakukan terapi radiasi dan terapi biologis, untuk memaksimalkan efeknya.
  • Mencegah kembalinya pertumbuhan sel kanker atau penyebaran pada bagian tubuh lain.

Cara pengobatan kemoterapi dilakukan tergantung kepada jenis kanker yang diderita, terdiri dari:


  • Topikal. Digunakan melalui krim yang dioleskan pada kulit.
  • Oral. Kemoterapi dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan yang diminum.
  • Suntik. Diberikan melalui suntikan pada otot atau lapisan lemak misalnya di lengan atau perut.
  • Intraperitoneal (IP). Kemoterapi langsung diberikan ke dalam rongga perut yang terdapat usus, hati, dan lambung di dalamnya.
  • Intra-arteri (IA). Kemoterapi langsung dimasukkan ke dalam arteri yang menyalurkan darah ke kanker.
  • Intravenous (IV). Kemoterapi langsung dimasukkan ke pembuluh darah vena.

Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang efektif dan terbukti telah menyelamatkan jutaan jiwa. Namun kemoterapi memiliki efek samping yang tidak kecil.
Sulit untuk memprediksi seberapa berat seseorang akan mengalami efek samping dari kemoterapi sebab tiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap pengobatan tersebut.
Efek kemoterapi muncul karena obat-obatan tersebut tidak memiliki kemampuan membedakan sel kanker yang berkembang pesat dengan sel sehat yang secara normal juga memiliki perkembangan pesat. Misalnya sel darah, sel kulit, serta sel-sel yang ada di dalam perut sehingga kemoterapi memiliki efek negatif. 


Berikut adalah gejala efek samping yang bisa terjadi akibat kemoterapi:

  • Rambut rontok.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sesak napas dan detak jantung tidak biasa akibat anemia.
  • Mual dan muntah.
  • Mimisan.
  • Kulit kering dan terasa perih
  • Gampang memar.
  • Gusi berdarah.
  • Sulit tidur.
  • Gairah seksual menurun.
  • Rasa lelah dan lemah sepanjang hari.
  • Konstipasi atau diare.

Yang penting diketahui, efek samping kemoterapi tersebut akan segera hilang setelah pengobatan selesai.
Selain itu, efek kemoterapi tidak akan menimbulkan akibat yang berbahaya bagi kesehatan. Meski pada beberapa kasus, efek samping kemoterapi bisa lebih serius dibandingkan yang lain. Misalnya tingkat sel darah putih yang menurun dengan cepat sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi. Sedapat mungkin hindari diri Anda dari orang-orang yang sakit atau terkena infeksi selama kemoterapi.
Kemoterapi untuk kanker pada sel darah atau tulang sumsum merupakan yang paling berisiko terhadap infeksi karena jenis kanker tersebut telah menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih. Jika mengalami gejala seperti demam, diare, muntah-muntah, sulit bernapas, sakit dada atau pendarahan, segera temui dokter.



Lalu, apakah ada cerita berujung baik pada pasien kanker payudara yang melakukan kemoterapi?


Tentu saja banyak sekali. Salah satunya adalah ibu Emi. Mari kita simak ceritanya.

Sekitar 13 tahun lalu, tepatnya tahun 2004, Emi didiagnosis kanker limfoma. Kala itu usianya masih 32 tahun.

Pada April 2004, Emi menemukan ada benjolan pada payudaranya. Awalnya ia biasa saja, tapi dengan cepat benjolan itu semakin membesar.

"Membesarnya hari demi hari. Begitu ganti baju kok saya merasa ada yang aneh. Itu satu bulan besarnya sampai 12 sentimeter," kata Emi berbagi ceritanya dalam peringatan Hari Peduli Limfoma Sedunia di kawasan Cikini, Jakarta.

Benjolan yang ada di tubuh Emi muncul disertai dengan gejala lainnya. Ia juga merasakan demam, batuk, kerap sariawan, dan badannya selalu mudah kelelahan jika bepergian.

Merasa ada perubahan dalam dirinya, Emi lantas memeriksakan kondisinya ke dokter. Dokter yang pertama ia datangi mengatakan Emi mengidap kanker payudara.
Tak percaya dengan hasil pemeriksaannya, ia pun mencoba mendatangi dokter yang kedua, kemudian ketiga. Sampai pada akhirnya ketiga dokter tersebut mengatakan ia menderita kanker payudara.
Masih belum puas, Emi mendatangi dokter yang keempat. Oleh dokter keempat ini ia mendapatkan pernyataan yang berbeda. Emi didiagnosis menderita kanker limfoma.
Dokter mengatakan ia menderita kanker limfoma atau kelenjar getah bening tipe burkitt. Tipe kanker ini merupakan kanker limfoma yang agresif karena sangat cepat menjalarnya.
"Ternyata di ketiak juga ada. Kata dokternya ini sepertinya limfoma. Akhirnya tidak buang waktu saya dibiopsi dokter," ujar Emi.
Setelah dibiopsi, kanker Emi berkembang sangat cepat. Ukurannya mencapai 22 sentimeter. Akhirnya ia memutuskan untuk berobat di sebuah rumah sakit di Semarang.
"Waktu itu dokter onkologinya bilang harus secepatnya ditindak karena penyakitnya berkejaran dengan waktu. Saya juga harus menyiapkan dana Rp100 juta," kata dia.
Sejak saat itulah Emi harus menjalani kemoterapi. Ia harus menjalani kemoterapi selama 14 hari berturut-turut, kecuali Sabtu dan Minggu. Dalam proses kemoterapi itu ia juga pernah diambil cairan sumsumnya agar kanker yang ia derita tidak sampai ke otak.
Selama 14 hari dikemoterapi, penderitaan Emi belum selesai. Ia harus masuk ruang isolasi karena leukositnya turun. Emi pun tidak bisa dikunjungi sembarang orang. Bertemu kedua anaknya saja sulit.
"Orang yang menjenguk saya terbatas karena saya juga tidak boleh ketularan penyakit. Saya harus istirahat seminggu," ujarnya.
Fase isolasi Emi selama seminggu ternyata bukanlah tahap akhir. Emi harus menjalani kemoterapi lagi selama tujuh hari. Sumsum tulangnya pun kembali diambil. Kali ini sampai tiga kali karena dua proses sebelumnya tidak tepat.
"Selesai di situ saya masuk program lagi. Selesai semua, saya masih menjalani radiasi 30 kali. Total pengobatan saya 2 tahun," kata Emi.


Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk berjuang melawan penyakit. Apalagi ditambah harus menjalani pengobatan yang amat menyakitkan.
Setelah dua tahun berjibaku melawan penyakit, akhirnya Emi boleh menghela napas lega. Ia berhasil melawan kanker limfoma dan hidupnya kembali normal.
Butuh waktu tujuh bulan bagi Emi untuk beristirahat sepenuhnya. Kala itu ia mengaku tak mau dijenguk banyak orang. Alasannya, ia capai ketika setiap orang yang menjenguknya bertanya apa penyebab sakitnya Emi.
"Saya tidak mau ditengok. Setiap kali orang menanyakan penyebab sakitnya, saya capai menjawab. Bahkan saya pura-pura tidur ketika saudara datang," ujarnya.
Kendati sudah bebas dari jeratan kanker limfoma, saat ini Emi masih melakukan kontrol secara rutin. Setiap tahun ia selalu memeriksakan kondisinya. Ia takut sewaktu-waktu penyakit itu bisa datang dan menghampirinya lagi.
"Masih takut kalau demam. Kambuh lagi tidak ya. Saya kadang masih merasa takut," kata Emi. Untuk memastikan bahwa sel kanker tidak tumbuh lagi, biasanya mantan pasien harus melakukan pengecekan secara berkala.


Selain kisah Ibu Emi yang menginspirasi banyak pula tokoh-tokoh dan selebritis penyintas kanker payudara dan yang paling terkenal adalah Kylie Minogue. 




Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang