Apakah ateisme melanggar Pancasila?

Dilihat 527 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Sebenarnya ini ambigu dan tidak didefinisikan dalam Pancasila itu sendiri. Sila pertama "Ketuhanan yang Maha Esa" seringkali diterjemahkan sebagai 'percayalah pada satu tuhan', namun arti sebenarnya adalah "percayalah kepada tuhan sebagaimana mestinya." Orang seringkali menyalahartikan Esa (sebagaimana mestinya) dengan Eka (tunggal). "Mempercayai tuhan sebagaimana mestinya" sebenarnya berarti anda bisa mempercayai tuhan manapun yang menurut anda benar. Ini makna lain dari Pluralisme. kata 'tuhan' disini digunakan karena mungkin, pada waktu itu, kebanyakan orang percaya pada tuhan (termasuk kepercayaan tradisional di Jawa). Seperti kata saya, masih tidak jelas apakah Ateisme diperbolehkan atau tidak. Bahkan, Buddhisme (yang sebenarnya adalah agama non-teis) menyatakan diri mereka sendiri sebagai agama monoteis saat memasuki Indonesia. Tidak diketahui apakah itu disebabkan oleh masalah budaya atau dilarang oleh hukum. Agama non-teis adalah agama yang tidak pernah mendiskusikan keberadaan tuhan. (Catatan: KBBI menggunakan arti yang telah diterjemahkan oleh banyak orang Indonesia, sehingga mengartikan 'Esa' sebagai 'satu'.) Mari kita diskusikan arti sebenarnya dalam bahasa Sansekerta, silahkan cari di Google untuk sumber yang lebih terpercaya. Saya mempelajari beberapa kosakata Sansekerta saat masih muda dan saya diajari bahwa Esa berarti "sebagaimana mestinya" dan Eka berarti "satu".  

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang