Apakah cerpen persahabatan yang paling bagus?

Dilihat 541 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Ini cerpen persahabatan yang saya sukai 



Aturannya sederhana: kamu bisa melakukan apa saja yang ingin kamu lakukan, tapi PEREMPUAN TIDAK DIPERBOLEHKAN. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang merupakan bagian dari asrama Sunshine, asrama khusus laki - laki. Meskipun terpisah dari bangunan asrama utama, aturan yang sama tetap berlaku dan pemilik asrama selalu membuat burung - burung kecil memberinya makanan yang cukup untuk membuat seekor sapi gemuk tetap gemuk. 


Hari itu adalah hari rabu yang luar biasa dan Sujoy, sangat bersemangat ingin membawa pacarnya ke kamar. Dia tahu dia akan menghadapi risiko yang besar, tapi dia tidak bisa lagi menahan diri untuk berhubungan intim dengannya. Selain itu, dia juga sangat percaya dengan Rahul dan Partha, teman sekamarnya dan sahabat baiknya - saudaranya!

Priyanka tiba pukul 11, dan ketika dia sampai, semua rencana dijalankan. Rahul pergi ke bawah untuk mengunci gerbang utama sementara Partha menutup jendela dari dalam dan menutup semua tirai. Mereka mematikan lampu di kamar dan duduk dalam gelap. Mereka duduk dengan hati hati dan penuh perhatian. Berjaga - jaga. Waspada. Sujoy dan Priyanka mengunci diri di dalam kamara mereka dan sudah melepaskan pakaiannya. Sudah tujuh bulan sejak Sujoy mengajak Priyanka berkencan, dengan desakan dari teman - temannya yang menyakinkannya bahwa dia memiliki perasaan kepada Priyanka dan tidak menyadarinya. "Perasaan apa?" dia dulu berkata. Dan sekarang mereka ada di situ,

Pasangan itu sedang berhubungan ketika tiba - tiba terdengan sudah pintu depan digedor dan seseorang mengancam akan mendobraknya sampai terbuka, memecahkan kesunyian di asrama. Pasangan tersebut membeku. Sujoy berhenti dan terduduk lemas. Mereka berhenti dari 100 ke 0 dari waktu kurang dari 1 detik. Luar biasa. Sial, kata Sujoy. "Buka pintunya" teriak seorang pria. "Buka pintu ini sekarang" terdengan suara Sadha, mata - mata pemilik asrama. Dia seorang laki - laki berusia 22 tahun. Sujoy bersiap bangun dari tempat tidur. Tapi Priyanka menahan tangannya, "Jangan pergi" bisiknya. "Kita akan hancur", jawab Sujoy, suaranya bergetar.

Jutaan pikiran beterbangan di otaknya. Dia memikirkan berbagai pilihan. Apakah dia akan bersikap tenang atau mencari cara untu lari? Tapi dia tidak mungkin meninggalkan Priyanka. Dia seharusnya berada di kampus. Pihak yang berwenang pasti akan menelepon orang tuanya. Oh Tuhan! Kacau sekali!. "Sadhan? Itu kamu?" tiba - tiba terdengar suara Rahul di ruangan. Perlahan dia berjalan ke bawah. "Iya, sekarang buka pintu ini!" teriak Sadhan. "Ada apa? Kenapa kamu kelihatan gelisah?" tanya Rahul. "Ada perempuan di asramamu", kata Sadhan. "Perempuan?". Suara Rahul terdegan tidak percaya. "Tidak ada perempuan di sini. Hanya aku, Partha dan Sujoy"."Buka pintunya dan biarkan aku masuk". kata Sadhan mendesak. "Ok, ok!Tenanglah!" kata Rahul sambil meraba - raba mencari pasak di kegelapan. Segera, pintunya terbuka dengan kasar dan hampir membuat Rahul terguling.

Sinar senter menerangi tangga melewati pintu yang terbuka. "Kenapa di sini gela sekali?", kata Sadhan dengan tegar, berusaha menyesuaikan penglihatannya dalam gelap. "Mati listrik", kata Partha dari lantai atas. "Ini sudah beberapa jam". Sadhan memperlihatkan muka bertanya - tanya dan terlihat seperti lumpuh sebelah. "Tapi lampu di luar hidup". Rahul melingkari bahunya dan melindunginya dengan kedua tangannya. "Kami tidak terlihat seperti orang gila yang duduk di kegelapan kan? " Partha menjawab sementara Sadhan menaiki tangga yang diikuti oleh Rahul.

Rahul menaikan alis dan melihat ke Partha seolah berkata, "apa yang kau lakukan?". Partha berkedip perlahan. Aku tahu! Rahul menangkap maksudnya dan tersenyum. Di dalam asrama sama sekali tidak ada lampu yang menyala. Seluruh lampu masuk dari luar dan berakhir di bawah tangga. Kegelapan meliputi tiga orang itu ketika mereka memasuki asrama. "Sial, aku tidak bisa melihat Sepertinya kalian mematikan sekringnya! Dimana kota sekringnya?"."Di lantai atas di teras" kata Partha dengan tenang. "Ayo" kata Rahul tersenyum. Saat itu semuanya menjadi jelas. Sujoy dan Priyanka yang berada di dalam ruangan mendengarkan dengan seksama percakapan di luar juga bersiap - siap. 


Ketika mereka bertiga naik ke lantain atas, langkah kaki dan suara mereka menghilang.  Sujoy, dengan keahliannya sebagai seorang ahli bedah membuka pasak dan membuka pintu. "Aku menyayangimu, Priyanka", dia berkata."Sekarang lari! Larilah yang kencang! Larilah ke hutan..". "Ya.. ya.. aku tahu" kata Priyanka bersiap - siap. Dia mengambil sepatunya yang ada di kamar Sujoy dan berjalan di tangga, berlari dari keributan yang ada.  


"Dasar Sadhan bodoh", kata Rahul. "Jadi, kenapa kau mengatakannya?" tanya Partha.  "Ya, kenapa kamu mengatakannya? Dia hampir menghancurkan kita" kata Sujoy. Rahul tertawa, "Dia tidak bertanya kenapa semua jendela terkunci". Dan mereka semua tertawa terbahak - bahak.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang