Apakah diagnosa diri sendiri terhadap penyakit kejiwaan itu bisa diandalkan?

Dilihat 571 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Kesibukan sehari-hari manusia dengan banyaknya rutinitas dan tanggung jawab pekerjaan membuat kondisi psikologis seseorang seringkali merasa tertekan. Adanya tekanan dari tuntutan pekerjaan yang stimultan dan kondisi sosial yag tertutup secara bertahap akan mampu merubah kontrol emosi orang tersebut. Oleh karenanya setiap satu minggu sekali setiap pekerja wajib diberikan cuti mingguan sebagai upaya refreshing otak agar tidak gampang terkena ganguan psikologis yang bisa merugikan sesama.



Gangguan psikologis adalah gangguan yang terjadi dalam pola berpikir (cognitive), kemauan(volition), emosi (affective) dan juga perilaku (psychomotor). Dari berbagai penelitian dapat dikatakan bahwa Gangguan Psikologis adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Ganggguan psikologis yang diterima oleh setiap orang cenderung berbeda-beda, tergantung faktor apa yang paling mempengaruhi perubahan pola pikir orang tersebut.


Keabnormalan kondisi tersebut dibagi ke dalam dua golongan yaitu gangguan saraf (Neurosis) dan gangguan jiwa (Psikosis). Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang terpenting di antaranya adalah ketegangan (tension), rasa putus asa, murung, gelisah, cemas, perilaku kompulsif, histeria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran negatif dan sebagainya. Jika ditemukan adanya gejala keabnormalan terhadap seseorang maka sebaiknya dilakukan penanganan secara psikologis agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang merugikan.




Sebagai pengetahuan dasar, ada banyak sekali jenis gangguan dalam cara berpikir (cognitive) yang sering terjadi di masyarakat. Untuk memudahkan memahaminya para ahli mengelompokkan kognisi menjadi 6 bagian yaitu sensasi, persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi pikiran kesadaran. Masing-masing memiliki kelainan yang beraneka ragam.


Contoh gangguan kognisi pada persepsi yaitu merasa mendengar bisikan untuk melakukan sesuatu atau halusinasi melihat hantu, sementara orang lain yang normal tidak melihatnya. Orang yang mengidap gangguan ini seringkali merasa ketakutan atau bahkan melakukan tindakan yang berbahaya. Pada umumnya hal ini sering terjadi di tengah masyarakat, namun masyarakat tradisional mungkin menganggap hal ini sebagai gangguan setan. Tetapi sebenarnya ini adalah penyakit psikologis yang sedang menyerang persepsi seseorang.


Contoh gangguan kemauan yaitu pasien memiliki kemauan yang lemah susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku, pasien susah sekali bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan. Adanya gangguan kemauan ini sering kita temui di berbagai aspek masyarakat, gangguan ini membuat para peneritanya sering merasa sangat malas dan acuh terhadap lingkungan disekitarnya atau bahkan pada dirinya sendiri. Banyak sekali jenis gangguan kemauan ini mulai dari sering mencuri barang yang mempunyai arti simbolis sampai melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang diperintahkan.


Contoh gangguan emosi yaitu pasien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham kebesaran). Gangguan emosi seperti ini merupakan bentuk eksresi seseorang yang terlalu berlebihan sehingga tidak dapat dikendalika. Pasien sering merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya, titisan raja dan sebagainya. Tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tidak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.


Contoh gangguan psikomotor yaitu Hiperaktivitas, pasien melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke atas genteng, berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan gerakan aneh. Gangguan seperti ini juga merupakan penyakit psikologis yang cukup membahayakan jika dilihat berdasarkan gejala-gejala yang muncul.




Tingkat Efektifitas Hasil Diagnosa Pribadi Terhadap Kondisi Hasil Kejiwaan Diri Sendiri


Sebelum kita bisa mendiagnosa gejala penyakit psikologis, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab gangguan kepribadian tersebut. Kasus gangguan kepribadian umumnya dimulai pada usia remaja dan saat memasuki usia dewasa. Pada usia ini, manusia kerap kali mengalami kondisi mental yang labil dan cenderung mudah untuk terpancing emosi. Ada beberapa faktor yang diduga dapat memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, di antaranya:


  • Adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia di dalam otak.
  • Adanya riwayat gangguan kepribadian atau penyakit mental lainnya di dalam keluarga.
  • Menghabiskan masa kecil di dalam kehidupan keluarga yang kacau.
  • Perasaan diabaikan sejak kanak-kanak.
  • Mengalami pelecehan sejak kanak-kanak, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.
  • Tingkat pendidikan yang rendah.
  • Hidup di tengah-tengah keluarga berekonomi sulit.

Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian disebabkan oleh kombinasi dari situasi-situasi atau latar belakang kehidupan yang tidak menyenangkan dengan gen yang membentuk emosi seseorang yang diwariskan dari orang tuanya. Untuk mendiagnosis gangguan kepribadian, dokter mungkin akan menyarankan diadakannya evaluasi psikologis mengenai cara pasien berpikir dan bertindak, serta perasaan yang mereka rasakan. Keterangan mengenai hal ini bisa didapat dokter dengan cara bertanya langsung pada pasien atau melalui kuesioner.


Selain evaluasi psikologis, pemeriksaan fisik juga diperlukan untuk mengetahui apakah gangguan kepribadian pasien disebabkan oleh buruknya kesehatan fisik mereka. Dalam hal ini dokter mungkin akan menanyakan gejala-gejala apa saja yang dirasakan pasien atau melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Misalnya tes fungsi kelenjar tiroid untuk mengetahui apakah kelainan yang diderita disebabkan oleh hal tersebut. Dan satu hal yang tidak kalah penting adalah pemeriksaan kadar alkohol atau obat-obatan terlarang di dalam tubuh pasien. Sebab mungkin saja itulah yang memicu munculnya gejala-gejala gangguan kepribadian.


Akan tetapi Itu tak lebih dan tak kurang sama handalnya dengan didiagnosa oleh orang lain, termasuk seorang profesional. Oleh karena itu, yang menjadi faktor utama dalam mendapatkan diagnosa yang bermakna atau bermanfaat adalah individu yang melakukan diagnosanya, latar belakangnya, pengetahuannya, dan kemampuan pemahamannya. Memiliki sebuah gelar tidak serta merta membuat anda lebih cerdik daripada orang awam, serta para profesional selalu salah, sama seperti orang-orang awam.


Hal itu tidak berarti siapapun orangnya bisa memadai, atau bahwa profesional rata-rata itu sama seperti rata-rata orang awam. Karena diagnosa itu tidak konstruktif secara khusus diluar dari konteks pengaturan pengobatan yang didasari-asuransi, bagaimana anda melabeli diri anda sendiri atau menemukan diri anda diberi label, adalah sangat tidak penting jika dibandingkan dengan apakah anda mengusahakan sesuatu di kehidupan ini dan apakah anda memiliki pemahaman tentang implikasi serta dinamika usaha itu untuk merespon lebih tepat dalam menghadapi pengalaman hidup anda yang lebih baik. Meski hanya dengan pendidikan tingkat SMU (pada masa remaja saya), saya secara akurat mendiagnosa diri saya sendiri dengan penyakit jiwa dan fisik sekaligus. 


Mendiagnosa itu tidak penting, karena label-label dan kategori itu semaunya sendiri - yang penting adalah apa yang anda lakukan dengan konseptualisasi anda, dan membenarkan diagnosa anda sendiri itu dengan konsultan yang bisa diandalkan (contohnya dokter-dokter yang terlatih atau sangat berpengalaman) adalah sebuah langkah bagus yang diambil bahkan jika anda merasa percaya diri. Dan, meskipun jika anda bisa mendiagnosa diri anda sendiri dengan akurat, ada baiknya untuk memiliki seseorang yang tetap menjaga gambaran yang lebih besar di pikiran anda.


Mungkin anda melewatkan gejala-gejala, koneksi, atau nuansa yang akan membentuk diagnosanya atau prognosisnya. Banyak orang cukup baik melakukannya dengan buku pelajaran atau internet untuk suatu hal yang paling mereka khawatirkan dalam kehidupan, tapi kemampuan untuk meneliti dan mensintesa secara kritis tidak sama untuk semua kategori, jadi baik rata-rata individu dan otodidak bisa memiliki awal yang signifikan tapi mungkin masih ingin berkonsultasi ke dokter suatu saat nanti.



Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang