Apakah efek dari perebutan Masjidil haram terhadap Arab Saudi?

Dilihat 916 • Ditanyakan hampir 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Perebutan masjidil haram memiliki dampak yang besar. Kejadian itu adalah salah satu dari tiga kejadian di tahun 1979 yang membuat Arab Saudi bergerak mundur, melepaskan kebebasan sipil yang saat itu mulai berkembang. Perebutan masjidil haram dilakukan oleh kelompok fundamentalis agama yang ekstrim, menantang legitimasi dari aturan keluarga dan pemerintah.


Tahun 1979 merupakan tahun yang buruk bagi Arab Saudi. Tahun itu dimulai dengan revolusi Iran yang melakukan pengejaran Shah di negara tersebut pada bulan Januari yang akhirnya berujuang pada kepulangan dairi Ayatollah Komeini di bulan Februari, diikuti oleh pendirian republik Islam di bulan Maret. 


TIba -tiba, Arab Saudi bukan hanya menjadi pelindung dari agama Islam, namun juga menjadi sebuah negara Islam. Revolusi IRan membuat kerusuhan di negara - negara teluk, termasuk negara dengan mayoritas aliran Syiah di Arab Saudi.Hal tersebut memicu antipati Wahhabi kepada Syiah.

Pemerintah Arab Saudi menjadi cemas. Pada bulan Oktober, pemerintah menjadi semakin cemas dengan pengambilalihan  kedutaan Amerika di Tehra dan perebutan para diplomat yang bekerja di sana. Amerika tidak terlalu merespon, sehingga pemerinta Arab Saudi mulai meragukan bahwa pelindung utama mereka, Amerika, dapat diandalkan untuk melindungi kerajaan mereka jika doringan dari dari Iran. Perebutan Masjidil Haram terjadi di tanggal 20 November.


Pemimpi dari perebutan tersebut, Juhayman Al-Qtaibi, beradal dari keluarga yang terpandang. Kakeknya pernah ikut berperang melawan Ibn Saud dalam perang untuk menciptakan Kerajaan Arab. Dia sendiri merupakan murid dari mufti Arab Saudi, Absul Aziz Bin Baz. Dia memilik banyak teman dan rekan ideologis di Ulama Arab. Penentangannya terhadap berbagai hal yang orang Arab konservatif perbolehkan - pendidikan bagi perempuan, TV, hubungan dekat dengan negara barat - bergaung di beberapa tempat. Meskipun pada awalnya pemerintah mencoba menyembunyikan atau mengecilkan masalah perebutan Masjidil Haram, namun masalah tersebut terlalu besar untuk diabaikan.


Fahd, however, had a problem. His behavior as a young man in Europe was notorious, if not riotous and licentious. He was seen by many as the "playboy prince." He didn't have much of a religious leg to stand on and anything he said or did was in danger of being undercut by recalling his past (and maybe current) indiscretions. In order to get a handle on things, Fahd found himself having to agree with the religious conservatives on many issues, even though they went against the liberalization trend that had been government policy. 


Namun Fahd memiliki masalah. Kelakuannya sebagai seorang pemuda di Eropa sangat buruk dan tidak bermoral. Banyak orang melihatnya sebagai "Pengarang yang
playboy". Dia tidak memiliki fondasi agama yang kuat dan segal hal yang dikatakannya berisiko dilemahkan mengingat masa lalu nya yang buruk. Untuk menangani masalah yang ada, Fahd merasa harus setuju dengan kaum konserfatif dalam berbagai hal, meskipun mereka menentang berbagai tren kebebasan yang mulai dijalankan oleh pemerintah.


Otoritas beragama mendapatkan kekuatan dengan harga mahkota dan mereka tidak malu menggunakannya. Berdasarkan keterangan di Wikipedia mengenai perebutan Masjidil Haram: Namuan raja Arab Khaled tidak bereaksi terhadapat kerusuhan yang terjadi dengan menindah para penganut beragama yang fanatik, tapi dengan memberikan ulama dan pada penganut beragama konservatif kekuatan selama beberapa dekade. 


Dia memiliki kepercayaan bahwa, "Solusi dari gejolak beragama sangat mudah - lebih banyak keyakinan".Pertama - tama foto perempuan di majalah dilarang, lalu di televisi. Bioskop dan toko musik ditutup. Kurikulum sekolah diubah agar dapat mengandung lebih banyak pelajaran tentang agama, menghapus pelajaran - pelajaran seperti sejarah non Islam. Pemisahan jenis kelamin diperluas "sampai ke kedai kopi yang paling sederhana".


Polisi agama menjadi semakin tegas. Arab Saudi mengalami kemunduran dalam segi perkembangan sosial dan politik. Baru pada tahun 2000an, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota - dan selanjutnya Raja - Abdullah terjadi perbaikan di berbagai bidang. Pada beberapa area terjadi kemajuan yang pesat. Raja Abdullah memberikan kesempatan berpolitik bagi wanita; dia menghapuskan kebijakan mengenai pendidikan bagi perempuan yang dibuat pada pemerintahan sebelumnya; membatasi fungsi dari polisi agama, dll.


Efeknya, perebutan Masjidil Haram membawa Arab Saudi melewati 30 tahun tanpa pengembangan sosial. Pada akhirnya, hal tersebut dijadikan permainan oleh kamu beragama fanatik, dimana Al-Qaeda menyerang kerajaan, untuk membatasi aspek beraga dan politik di Arab yang paling koservatif.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang