Apakah Indonesia harus mengadopsi sistem Kewarganegaraan ganda?

Dilihat 2,32 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Selain wilayah, hal utama yang dibutuhkan untuk membentuk negara adalah warga negara. Berbeda dengan penduduk, warga negara adalah orang-orang yang secara hukum menjadi bagian dari negara tersebut. Seseorang yang menyandang status warga negara tertentu harus melaksanakan kewajiban dan berhak mendapatkan hak yang telah diatur oleh negara itu. 


Nah, untuk menjadi warga negara tergantung dengan asas kewarganegaraan apa yang dianut oleh negaramu. Pada umumnya, negara akan mengharuskan warganya untuk memiliki satu kewarganegaraan. Tetapi ada juga negara yang memperbolehkan warganya untuk memiliki kewarganegaraan ganda


warga negara asing


Berapa Jenis Asas Kewarganegaraan di Dunia?

 

Ada 2 jenis asas kewarganegaraan yang dianut oleh negara-negara di dunia, antara lain

:

  • Ius Soli 

Ius Soli merupakan asas kewarganegaraan yang ditetapkan berdasarkan wilayah tempat bayi lahir. Misalkan saja seorang anak yang memiliki orangtua dari negara China namun dia lahir di Kanada, maka anak yang lahir tersebut menjadi warga negara Kanada.  

Ada beberapa negara yang memperketat peraturan ini. Paling tidak harus ada satu orang tua yang memiliki izin tinggal di negara tersebut. Hal ini untuk menghindari seseorang yang bepergian untuk mendapatkan kewarganegaraan bagi sang anak. 


Contoh negara di dunia yang menerapkan asas ius soli untuk menentukan kewarganegaraan penduduknya yaitu:

 

Argentina 

- Meksiko

- Brasil

- Kanada

- Amerika Serikat

- Venezuela

- Peru

- Chili



  • Ius Sanguinis 

Ius Sanguinis yaitu jenis asas kewarganegaraan yang menentukan kewarganegaraan penduduknya berdasar hubungan darah dengan orangtuanya. Misalkan saja seorang bayi lahir di negara Indonesia dari pasangan berkewarganegaraan Belanda. Bayi ini dilahirkan di Indonesia karena orangtuanya bekerja di negara itu. Karena negara kita menganut asas ius sanguinis, maka bayi itu dianggap berkewarganegaraan Belanda. 


Negara-negara yang menerapkan ius sanguinis kebanyakan adalah negara dengan masa lalu bersejarah. Perjalanan yang panjang tersebut membuat kita lebih berhati-hati mempercayai orang lain. 


Contoh negara lain yang juga menerapkan asas ini yaitu:


- Indonesia

- Turki

- India

- Belanda

- Yunani

- Republik Rakyat Cina (RRC)

- Jepang

- Spanyol

- Korea Selatan

- Italia

- Polandia

- Malaysia

- Brunei Darussalam


asas kewarganegaraan dunia

Kewarganegaraan Ganda di Indonesia


Sayangnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak mengizinkan warga negaranya menganut kewarganegaraan ganda di negaranya. Menurut saya, tentu saja Indonesia butuh sistem itu! 


Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata apa yang saya rasakan mengenai hal ini. Bisa dibilang punya paspor Indonesia bagi orang yang tinggal di luar negeri itu tidak ada gunanya. Coba bayangkan kalau kamu harus pergi ke Paris dari London untuk keperluan bisnis yang mendadak dan ternyata kamu harus mengajukan visa tidak minggu sebelumnya dan itu pun belum tentu disetujui. 


Dan kamu harus membayar 60 poundsterling setiap kali kamu harus singgah ke suatu negara?


Dari sudut pandang keuangan/bisnis, ini merupakan hal yang menggelikan dan kebanyakan orang Indonesia akan mengganti kewarganegarannya demi menghindari hal tersebut. Mereka yang bisa mendapatkan kewarganegaraan kedua adalah orang-orang yang sangat ahli di bidangnya dan sudah memiliki karir yang sangat mapan, atau memiliki pasangan orang asing yang sudah memillih untuk menetap di sana. 


Dulu pada jaman Soeharto, banyak orang yang meminta status pengungsi, tapi sekarang sudah berbeda. Kita tidak lagi membicarakan si Tom, Dick, atau Harry yang lari dari daerah yang tidak dikenal, yang kita bicarakan saat ini adalah pengusaha yang kaya raya, para pengacara, dokter, sutradara, dan penemu yang memiliki keahlian yang dibutuhkan di luar negeri. 


Orang-orang tersebut merupakan orang kelas menengah yang memiliki keahlian tinggi dan sudah terlatih di luar negeri dan dapat berkontribusi untuk pengembangan Indonesia jadi seharusnya mereka diperbolehkan untuk mempertahankan kewarganegaraan Indonesianya.


asas kewarganegaraan indonesia


Dan kalau kita melihat dari seberapa terkenalnya Kongress Diaspora Indonesia, ada banyak mantan warga negara Indonesia yang sebenarnya sangat ingin kembali ke Indonesia untuk berkontribusi pada pengembangan ekonomi dan investasi. 


Di sini, kita sebagai orang Indonesia mungkin bertanya-tanya, "Kalau mereka benar-benar ingin berkontribusi pada Indonesia, kenapa mereka tidak tinggal saja di Indonesia dari awal?". 


Pertanyaan saya adalah, "Apakah kondisi ekonomi, bisnis, akademis di Indonesia saat ini mendukung untuk pengembangan keahlian orang-orang tersebut? Apakah Indonesia memiliki teknologi yang mendukung atau peralatan yang memadai untuk mendukung mereka? Apakah Sehat Sutardja atau Ken Kawan Soetanto dapat mencapai apa yang saat ini mereka capai seandainya mereka tetap tinggal di Indonesia?" 


Mungkin saja mereka bisa meraihya, tapi tingkat kesulitannya akan jauh lebih tinggi tanpa dukungan teknologi serta kondisi yang memadai.


Tinggal di luar negeri memungkinkan orang-orang  seperti mereka untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya : Kenapa mereka harus dihukum karena ingin pindah kembali dan kembali berhubungan dengan tanah airnya? 


Mengabaikan kekuatan dari orang rantau Indonesia bukan merupakan ide yang bagus. Ada 8-10 juta orang Indonesia (baik WNI maupun WNA) yang tinggal di luar negeri di seluruh belahan dunia, dan kita hanya mendapatkan kiriman uang sebesar 72 triliun. Ini merupakan angka yang menyedihkan kalau dibandingkan dengan Vietnam yang baru saja mulai mengerahkan jaringan diasporanya dan sudah berhasil menerima 100 triliun dalam setahun. 


Apa yang sebenarnya terjadi? Karena pemerintah Indonesia tidak menyadari berapa besar kehilangan mereka karena mengabaikan hal ini. 


Di Cina, 60-70% investasi asing datang dari orang Cina rantau, yang merupakan yang terbesar di dunia. Sekalipun Indonesia tidak mengadopsi sistem kewarganegaraan ganda, pemerintah harus mulai membuat pada orang Indonesia rantau untuk tertarik berinvestasi, tinggal, dan bekerja di dalam negeri atau bahkan bisa meningkatkan ekonomi negara. 


Ada banyak alasan lainya kenapa seharusnya Indonesia mengadopsi sistem kewarganegaraan ganda, tapi saya tidak akan menyebutkannya sekarang. Nasionalisme seharusnya bukan lagi menjadi hal yang perlu diperdebatkan di abad ke 21 ini. Ada orang-orang seperti saya yang memiliki kesempatan untuk tinggal di luar negeri dan mendapatkan pendidikan kelas dunia - tapi orang seperti sayalah yang pada akhirnya diusir karena pemerintah menolak untuk mengambil manfaat yang bisa diberikan oleh orang-orang yang tinggal di luar Indonesia (baik WNI maupun WNA).


kewarganegaraan ganda


Bagi kalian yang sangat peduli dengan hal ini, ada gerakan yang dalam dicoba untuk dilakukan untuk mendapatkan kewarganegaraan ganda.


Aturan kewarganegaraan sudah dimasukan ke dalam Prolegna 2015-2019, tapi ini saja tidak cukup. Kewarganegaraan ganda kelihatannya bukan menjadi prioritas bagi pemerintah, jadi kitalah yang harus berusahaan untuk mengubahnya. 


Ada orang-orang yang mendedikasikan waktu mereka untuk merekrut pengacara dan membuat rancangan aturan mengenai hal ini, orang yang jauh lebih berpengetahuan dari saya yang bisa kamu tanyakan mengenai hal ini.

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang