Apakah Islam di Indonesia berbeda dengan mayoritas negara muslim lain? Jika ya mengapa?

Dilihat 338 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Agama Islam sama saja dimana-mana. Muslim Indonesia membaca Al-Quran yang sama, solat lima waktu, puasa ramadhan, dan merayakan lebaran seperti semua muslim didunia. Namun ada perbedaan dalam menafsirkan apa yang tertulis dalam Quran dan hal-hal lain mengenai Islam seperti sekolah agama yang beragam (mazhab/madhhab). Muslim Indonesia kebanyakan mengikuti ajaran Shafi'i sedangkan didaerah lain belum tentu.

Ini artikel dari Wikipedia yang bisa membantu lebih mengenai madhhab https://en.m.wikipedia.org/wiki/Madhhab. Namun madhhab yang diikuti oleh muslim Indonesia, aku percaya kalau geografi dan keberagaman memiliki peran penting dalam membentuk karakter muslim Indonesia. Serta penyebaran Islam dipulau jawa pada abad 14 yang disebar oleh "wali" (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wali_Sanga) yang membawa pengaruh sufisme dalam ajaran mereka.

Muslim Indonesia lebih toleran terhadap agama lain dibanging muslim dinegara lain seperti timur tengah. Hal ini terjadi karena wali mengadaptasi bukan menentang budaya lokal yang memiliki akar ajaran Hindu dan atau animisme dan dinamisme serta menggunakan akar itu untuk mengajarkan Islam ke rakyat jelata.

Itulah mengapa pada proklamasi 1945, para pemimpin Indonesia menyadari pentingnya "bhineka tunggal ika", dan mengubah pembukaan UUD 45 untuk menghindari berat sebelah. Versi komplit dari pernyataan diatas adalah "Piagam Jakarta" yang berisi ... percaya kepada tuhan, dengan mematuhi hukum Islam, dan agama Islam, seiringan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan Indonesia, dan demokrasi melalui pemilihan, keadilan sosial.

Patut dicatat bahwa M. Hatta wakil proklamator kemerdekaan dan wapres pertama Indonesia, Muslim yang taat menyetujui perubahan Piagam Jakarta yang diusulkan oleh A.A. Maramis, seorang Katolik yang sudah berdiskusi dengan anggota BPUPKI salah satunya adalah Ki Bagus Hadikusumo pemimpin Muhammadiyah.

Ini adalah contoh toleransi dan moderasi yang masih berlaku pada muslim Indonesia. Tapi, adalah benar jika ada beberapa ormas yang tidak sependapat dengan pemikiran diatas. Mereka memiliki agendanya sendiri untuk "memurnikan Islam" di Indonesia - lumrah karena panutan mereka berasal dari kalangan garis keras.

Mereka juga dikenal menerima bantuan finansial dari pengaruh "wahabbi". Bahkan ada organisasi yang ingin menciptakan kekalifahan pan ASEAN dan mecoba membuat Indonesia menjadi negara Islam. Untungnya toleransi masih berlaku disini. Meski para garis keras mendapat banyak simpati pada pemilu setelah reformasi 1998 tapi mereka cepat kehilangan dukungan karena blunder politik. Mereka mencoba memprotes kebijakan publik yang malah membuat mereka kehilangan muka dan dinilai negatif oleh msayarakat: mereka sama korupnya dengan politisi ditambah pula rasis, rusuh, xenofobia, dan tak segan menghalalkan segara cara.

Akhirnya, mayoritas muslim Indonesia hidup sama seperti cara proklamator sejak dahulu sesuai dengan semboyan "bhineka tunggal ika" . Ini bukanlah hal yang mulus-mulus terus, Indonesia juga punya masalah lain seperti diskriminasi dan pelecehan minoritas. Secara keseluruhan Indonesia berhasil maju dan terus maju untuk tetap ada dan berkarya.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang