Apakah Israel menerima LGBT?

Dilihat 222 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Israel merupakan negara yang ramah terhadap, meskpi begitu ada tapinya. Israel merupakan negara yang ramah terhadap LGBT karena Tel Aviv merupakan kota yang liberal, terbuka dan beragam, sangat ramah terhadap gay, dijalankan oleh pemerintah kota yang sangat ramah terhadap gay dan berulang kali muncul dalam daftar, "tujuan pariwisata terbaik bagi LGBT" atau "kota gay terbaik".


Militer Israel sangat terbuka terhadap LGBT: seseorang bisa masuk militer apapun orientasi seksualnya dalam pos militer manapun,
tidak ada diskriminasi, mereka hanya dinilai berdasarkan performa. Memang terdapat beberapa insiden, tapi sistem secara aktif berusaha untuk mencegah diskriminasi terhadap individu LGBT. Kadang orang LGBT sendiri yang menimbulkan masalah, tapi semua diatasi dengan baik.


Pendekatan dalam sistem adalah bahwa LGBT bukan merupakan suatu masalah. Pasangan LGBT dapat melangsungkan pernikahan di luar negeri dan pernikahan ini diakui oleh negara. Pasangan LGBT dapat mengadopsi anak dari luar negera dan mereka akan diakui sebagai orang tua di Israel.


Pasangan LGBT yang menikah / pasangan yang sudah lama bersama memiliki "hampir semua" hak yang dimiliki oleh pasangan heteroseksual (pajak, dsb), meski begitu tidak semuanya. Sebagian orang Israel mungkin tidak sopan atau tidak peka terhadap LGBT dan menggunakan bahasa yang agak kasar, meski begitu, mereka tetap pro LGBT, tapi mereka tidak mengungkapkannya dengan baik. Tidak ada aturan yang melarang menjadi gay, berbicara tentang gay, mengajaran tentang gay, menyanyikan lagu gay, dll. Kebebasan berbicara hampir sama seperti di Amerika.

Tapi..

Tidak ada pernikahan LGBT di Israel: Pernikahan, perceraian, dan pemakaman sangat terkait erat dengan institusi agama  yang merupakan bagian dari pemerintahan jika tidak makan Israel akan menjadi sekuler. 30 - 40% penduduknya religius. Komunitas dan orang - orangnya mengurus urusannya masing - masing, jadi jarang terjadi percekcokan. Agama Yahudi bukan tentang dakwah atau menyelamatkan jiwa lain, jadi jarang ada orang yang religius yang berkomentar atau menjelek-jelekkan LGBT. 


Terdapat satu atau dua organisasi anti-gay yang vokal. Semakin periferal kota - kotanya dan semakin religius orang -  orang yang tinggal di sana, semakin mereka tidak bisa menerima jika ada orang yang menunjukkan keintiman di depan publik atau menggunakan pakaian yang provokatif, hal yang sama juga berlaku bagi pasangan heteroseksual. Poinnya adalah, hukum tidak berlaku sama di semua kota. Kebebasan berbicara bukan merupakan hal yang mutlak, Terdapat aturan yang tidak jelas tentang melukai perasaan publik atau kelompok agama - ini jarang terjadi.


Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang