Apakah kelainan bipolar adalah alasan yang masuk akal untuk menjadi seorang pengangguran?

Dilihat 194 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya menderita menderita gangguan bipolar dan pengagguran dan dalam jaminan sosial. Kenapa? Ketika saya sedang tidak kambuh, saya adalah seseorang yang cerdas, bertanggung jawab, pekerja keras dan penuh perhatian. Sebelum saya mulai menderita gangguan bipola pada usia 20an, saya merupakan mahasiwa yang cemerlang dan saya dapat belajar dengan baik, mendapatan pekerjaan, berpartisipasi dalam eskrakurikuler, dan masih dapat meluangkan waktu untuk bersama dengan teman - teman.


Sekarang, tanpa obat - obatan, saya akan baik - baik saja selama beberapa minggu. Bahkan, saya menjadi karyawan teladan selama beberapa waktu. Setelah itu saya mulai menjadi manik. Selama satu minggu saya dapat menjadi sangat produktif, tapi kemudian saya mulai menyalahkan semua orang yang saya temui: rekan kerja, bos, pelanggan, klien, anggota keluarga, teman - teman. Saya selalu berpikira bahwa saya benar dan tidak pernah mengakui kesalahan yang saya perbuat. Saya mulai menjadi ceroboh lalu saya mulai hancur. 


Depresi saya bersifat fisik- saya hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Segalanya terlihat berkabut. Waktu saya dalam merespon sesuatu sangat lambat - saya sama sekali tidak bisa mengikuti suatu percakapan dan saya membutuhkan waktu beberapa lama untuk menangkan apa yang baru saja dikatakan oleh seseorang dan mulai melakukan sesuatu terkait hal itu (termasuk menyingkir dari jalan)


Saya memiliki masalah bahkan dalam membuat keputusan yang sangat dasar (misalnya, pergi ke kamar mandi atau membawa piring ke dapur) dan selalu terpaku pada satu tempat. Saya terus - menerus kehilangan pekerjaan. Untuk suatu alasan: Saya menyakiti atasan saya dan juga diri saya sendiri. Saya menjadi tidak kompeten dalam pekerjaan saya. Minggu - minggu baik yang saya lewati tidak bisa membayar waktu - waktu yang buruk. Lalu saya mulai mengkonsumsi obat - obatan. 


Suasana hati saya mulai membaik, tapi masalah - masalah yang sama masih tetap ada (terutama soal kehilangan pekerjaan). Lalu saya menemukan obat yang benar - benar "bekerja". Bekerja yang saya maksud adalah saya tidak memasuki fase manik dan saya tidak menjadi depresi. Dan itu merupakan hal yang luar biasa. 


Sayangnya, salah satu obat yang saya konsumsi memiliki efek samping yang cukup berbahaya. Ingatan saya menjadi buruk. Saya tidak dapat mengingat berbagai hal yang mendasar (no hp, barang mana yang harus saya ambil di kulkas dan mana yang di lemari) - tidak selalu demikian, tapi hal tersebtu cukup sering terjadi sehingga saya menjadi tidak dapat diandalkan.


Saya mencoba untuk kembali bekerja lagi tapi saya dipecat ketika pelatihan karena saya bahkan tidak dapat melakukan hal yang sangat dasar. Kadang saya kesulitan untuk menemukan cara untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Saya mulai melihat suatu tugas sebagai rangkaian langkah - langkah yang tiada akhir dan menjadi kelelahan di tengah prosesnya.

Ketrampilan penalaran saya sangat buruk. Saya kesuitan membaca sesuatu yang panjang (ironisnya, saya masih bisa menulis, tapi ketika saya berusaha untuk membaca apa yang saya tulis, saya harus beristirahat, karena saya dengan cepat berhenti menyerap informasi, bahkan meskipun saya sendiri yang menuliskannya).

Ini pasti karena obat yang saya konsumsi. Saya harus berhenti mengkonsusi obat - obat tersebut untuk sementara karena kondisi medis lainnya. Memori, ketrampilan kognitif, dan kemampuan membaca saya kembali lagi. Tapi suasana hati saya memburuk dan saya menjadi sulit untuk mengendalikan diri.


Saya tidak dapat bekerja penuh waktu. Tidak ada yang menginginkan saya sebagai karyawan mereka, bahkan untuk melakukan hal - hal yang sederhana. Saya bekerja pada satu tempat selama semingu dan bekerja di tempat lain seminggu berikutnya dan saya melakukannya ketika saya mampu, tapi tidak secara konsisten.

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang