Apakah ldr itu sehat?

Dilihat 5,2 rb • Ditanyakan hampir 3 tahun lalu
1 Jawaban 1

Saya selalu sangat skeptis terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mencari generalisasi dari hal-hal atau konsep yang melibatkan orang-orang. Apa yang tampak sehat bagi saya mungkin tak sehat bagi anda; anda bisa berargumen bahwa masih ada jawaban yang mungkin cocok untuk mayoritas, tapi siapa yang mendefinisikan mayoritas?


Bisa dibilang, inilah pengalaman saya, yang, saya rasa, secara keseluruhan mungkin cukup unik. Saya sekarang telah bersama kekasih saya selama lebih dari empat tahun, dan kami telah tinggal bersama selama dua tahun terakhir ini. Kami masih merindukan satu sama lain setiap hari ketika kami tidak bersama, dan kami masih ingin menghabiskan setiap menit bersama-sama. Sebelum dua tahun terakhir ini, kami saling bertemu sekali setahun dengan rata-rata kurang dari sepuluh hari. Saya tinggal di India, dia di Wisconsin. Kami bertemu secara online murni kebetulan dari rangkaian peristiwa di Facebook hampir tujuh tahun yang lalu. Bukan cinta pada "pandangan" pertama, tapi mungkin anda mendefinisikannya demikian. Kami bertemu, memulai chatting on dan off, saling berbagi kisah hidup secara perlahan, dan suatu saat, mulai dekat. Selama periode ini, kita tak pernah bertemu melihat fisik satu sama lain. Setelah beberapa saat, kami mulai melakukan chatting melalui Skype dan saling melihat dalam video, namun itu merupakan substitusi yang kurang baik bagi interaksi nyata.


Jauh di lubuk hati, tentu saja, kami menyadari bahwa kami telah memulai berbagi lebih banyak ketimbang yang kami lakukan dengan siapapun, dan kami mencapai titik dimana jika salah satu dari kami berkencan dengan orang lain akan tampak tidak nyaman. Tapi masih, saya benci memikirkan hubungan jarak-jauh, khususnya dengan seseorang yang saya tak pernah menghabiskan waktu bersama dengannya secara fisik (bukan karena saya memiliki keberatan, tapi karena itu merupakan tingkat keintiman yang benar-benar saya inginkan dan saya tahu saya tak akan mendapatkannya); namun alternatifnya juga sama konyolnya. Kami berdua benar-benar menyukai satu sama lain dan untuk menyangkalnya sungguh tak masuk akal, karena pembicaraan kami jauh melebihi dua orang sahabat yang sedang berbicara.


Jadi, saya menahan sakit dan mengajaknya menggunakan Gchat. Ia berkata iya. Dan begitulah, kami berkencan! Musim panas itu, ia menghabiskan semua uang yang ia miliki untuk terbang ke India dan bersama saya selama seminggu, meskipun ia tak pernah bepergian keluar negara asalnya sendiri selama hidupnya. Itu menyeramkan bagi kami berdua, tapi itu juga hal yang paling luar biasa yang pernah dilakukan seseorang untuk saya, dan hal itu menegaskan kembali semuanya tentang yang kami rasakan terhadap satu sama lain dan cukup menyegel hubungan kami berdua. Setelah itu, saya bertemu dengannya lagi satu tahun kemudian ketika saya terbang ke Amerika Serikat. Kami saling bertemu sekali tiap enam bulan untuk tahun berikutnya, yang mendorong saya untuk pindah ke Amerika Serikat dan tinggal bersama, seperti yang kami lakukan sekarang.


Saya masih belum menjawab pertanyaan anda - Apakah long distance relationship itu sehat?

Sebagaimana saya memberi petunjuk sebelumnya, itu sepenuhnya tergantung pada orang-orang yang terlibat. Bagi kami, kami berdua begitu dekat meski sebelum mulai berkencan sehingga kita tak bisa melihat adanya opsi lain. Saat itu terasa luar biasa, tak bisa dipercaya begitu sulit untuk melanjutkan dalam waktu lama tanpa melihat satu sama lain, dan berurusan dengan perbedaan waktu yang nyaris dua belas-jam dalam hidup kami. Ada banyak (tapi tak terlalu banyak) malam-malam dimana saya meluangkan waktu untuk membuatnya nyaman ketika ia menangisi jarak ini, dan banyak lagi malam-malam dimana saya benar-benar frustrasi melihat betapa kecilnya yang bisa saya lakukan demi kebaikan kami berdua. Jika anda tidak dalam pola pikir yang benar, hal tersebut bisa menghancurkan sebuah hubungan tak peduli seberapa kuatnya, karena jika anda tak mampu mengelola emosi anda, anda akan menyalurkannya ke jalan yang salah dan mencari perkelahian tanpa adanya pemenang.


Anda harus memastikan bahwa anda jangan pernah membiarkan frustasi atau kekecewaan atas ketidakmampuan bersama satu sama lain menyebabkan keretakan dalam hubungan anda. Yang sama pentingnya adalah memiliki seorang pasangan yang bisa mendukung anda dan memberi anda kekuatan dan kenyamanan ketika anda kewalahan. Tapi masih, dan yang jauh, paling penting adalah ini: Harus ada tujuan akhir. Jika anda tidak tahu kemana ujung dari bagian long-distance itu (meski jika perkiraan kasarnya saja), ada sumber frustrasi yang hanya akan terbangun, besar dan semakin besar hingga anda tak bisa melampauinya. Bagi kami, saya tahu saya harus pindah ke Amerika untuk gelar Master saya. Saya tak tahu dimana, tapi saya tahu saya akan pindah. Itu memberi kami sesuatu untuk melihat ke depan, sebuah jawaban untuk "kapan"; itu adalah suatu penghiburan yang sangat kecil ketika masih butuh waktu bertahun-tahun di malam saat kami hanya ingin bersama melebihi apapun, namun saya masih memikirkan tanpa adanya hal itu, akan sangat luar biasa lebih sulit untuk bertahan.


Untuk itu, saya punya contoh nyata lainnya. Salah satu teman terbaik saya sedang menjalani long-distance relationship dengan seorang gadis. Mereka bertemu di kehidupan nyata disini di Amerika dan menghabiskan musim panas bersama, sebelum sang gadis pindah kembali ke rumahnya di Eropa. Mereka saling bertemu beberapa kali dalam setahun, dan sang gadis bahkan kembali ke Amerika selama satu semester dalam sebuah program pertukaran. Mereka bersama untuk beberapa tahun, tapi suatu saat, mereka putus. Keduanya tak bisa mengemas hidupnya dan pindah melintasi dunia, dan suatu saat, tak peduli betapa mereka saling mencintai, itu berakhir. Frustrasi menjadi berlebihan, dan menguasai hubungan mereka. Tak ada jaminan bahwa mereka akan bertahan misalkan mereka hidup bersama dalam satu tempat sejak awal, sama seperti tak ada jaminan bahwa kekasih saya dan saya tak akan putus misalnya kami selalu berada di tempat yang sama.


Begitu banyak faktor-faktor yang menentukan bagaimana sebuah hubungan akan mendidih cepat dan kotor; tapi jarak menambah lapisan kompleksitas lain dalam persamaannya, dan jika anda tidak mampu menghadapi dan menjawab pertanyaan yang saya sebutkan di atas, akan sangat, sangat sulit untuk melanjutkan, tak peduli seberapa besar anda saling menyukai. Saya harap itu semacam menjawab pertanyaan anda. :)

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang