Apakah lupus menimbulkan rasa gatal?

Dilihat 11,7 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Penyakit Lupus adalah penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru sehingga mulai menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Walaupun penyakit lupus menular tidak pernah ditemukan, tidak sedikit pengidap penyakit ini tidak dapat tertolong lagi.



Menurut data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI), jumlah penderita lupus di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 12.700 jiwa. Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 13.300 jiwa pada tahun 2013. Di Dunia, terdeteksi penyandang penyakit lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.


Penyebabnya pun masih misterius di kalangan medis kecuali penyakit lupus yang diakibatkan oleh obat. Para pakar menduga bahwa ada beberapa faktor genetika yang dapat mempertinggi risiko seseorang terkena lupus. Namun Faktor-faktor lingkungan juga punya andil dalam memicu penyebab penyakit ini.



Apa sajakah gejala-gejala lupus?



Gejalanya kerap mirip dengan penyakit lain sehingga sulit untuk didiagnosis. Gejala lupus sangat beragam. Ada yang ringan dan ada yang bahkan mengancam jiwa. Penyakit ini memang tidak menular, tapi bisa berbahaya dan bahkan berpotensi mematikan.


Gejala lupus yang umum dijumpai adalah:

  • Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan   pencernaan.
  • Sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
  • Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut ruam kupu-kupu (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
  • Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit Lupus
  • Rambut yang sering rontok.

Berikut ini akan kita bahas jenis-jenis penyakit Lupus. Penyakit lupus terbagi dalam beberapa tipe, antara lain:

  •     Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE).
  •     Lupus eritematosus diskoid (discoid lupus erythematosus/DLE).
  •     Lupus akibat penggunaan obat.

Penyakit Lupus SLE adalah jenis lupus yang paling sering dirujuk masyarakat umum sebagai penyakit lupus. SLE dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan sampai parah. Gejala SLE juga dapat datang dengan tiba-tiba atau berkembang secara perlahan-lahan dan dapat bertahan lama atau bersifat lebih sementara sebelum akhirnya kambuh lagi.


Banyak yang hanya merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama atau bahkan tidak sama sekali sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Gejala-gejala ringan SLE, terutama rasa nyeri dan lelah berkepanjangan, dapat menghambat rutinitas kehidupan. Karena itu para penderita SLE bisa merasa tertekan, depresi, dan cemas meski hanya mengalami gejala ringan. 

Penyakit lupus DLE adalah jenis lupus yang hanya menyerang kulit disebut lupus eritematosus diskoid (discoid lupus erythematosus/DLE). Meski umumnya berdampak pada kulit saja, jenis lupus ini juga dapat menyerang jaringan serta organ tubuh yang lain.


DLE biasanya dapat dikendalikan dengan menghindari paparan sinar matahari langsung dan obat-obatan. Gejala lupus DLE di antaranya:

  • Rambut rontok.
  • Pitak permanen.
  • Ruam merah dan bulat seperti sisik pada kulit yang terkadang akan menebal dan menjadi bekas luka.

Yang terakhir adalah penyakit Lupus akibat penggunaan obat. Efek samping obat pasti berbeda-beda pada tiap orang. Terdapat lebih dari 100 jenis obat yang dapat menyebabkan efek samping yang mirip dengan gejala lupus pada orang-orang tertentu.
Gejala lupus akibat obat umumnya akan hilang jika Anda berhenti mengonsumsi obat tersebut sehingga Anda tidak perlu menjalani pengobatan khusus. Tetapi jangan lupa untuk selalu berkonsultasi kepada dokter sebelum Anda memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat dengan resep dokter.



Apakah lupus menyebabkan gatal?


Tentu saja. Dari penjelasan gejala lupus diatas, penyakit lupus ditandai dengan gatal-gatal disekitar area tubuh. Biasanya gatal-gatal menyerang area-area seperti telapak tangan, telapak kaki, dan belakang telinga yang menyebar hingga ke wajah. Gatal-gatal ini akan meninggalkan ruam-ruam kemerahan atau kalau pada wajah sebutannya adalah Butterfly Rash atau ruam-ruam berbentuk kupu-kupu.




Bagaimanakah penanganan untuk menyembuhkan penyakit lupus?


Pada dasarnya, ada dua kategori obat yang dapat digunakan dalam pengobatan lupus, yaitu golongan kortikosteroid dan golongan selain kortikosteroid. Golongan kortikosteroid merupakan obat utama penyakit lupus. Untuk kelainan kulit diberikan dalam bentuk topikal (salep, krem, atau cairan). Untuk lupus ringan digunakan kortikosteroid dalam bentuk tablet dosis rendah. Bila lupus sudah dalam kondisi berat, digunakan kortikosteroid dalam bentuk tablet atau suntikan dosis tinggi.


Obat golongan selain kortikosteroid biasanya merupakan pelengkap obat kortikosteroid. Di antara obat golongan ini adalah antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk mengatasi keluhan nyeri dan bengkak sendi; obat antimalaria (kloroquin/resochin, dihidroksi kloroquin/plaquenil) untuk mengatasi gejala penyakit pada kulit, rambut, nyeri otot dan sendi, bahkan untuk odapus (Orang Dengan Lupus) dengan gejala ringan; dan obat imunosupresif macam siklofostamid untuk kondisi yang disertai gangguan ginjal, azatioprin yang merupakan obat pendamping kortikosteroid agar kebutuhan kortikosteroid dapat dikurangi, dan klorambusil.


Berikut ini obat-obatan yang sering dipakai odapus (Orang Dengan Lupus) untuk mengatasi keluhan-keluhannya antara lain:

  • ASPIRIN: mengurangi rasa nyeri, anti peradangan. Namun ada yang lambungnya tidak tahan aspirin.
  •  ACETAMINOPHEN: mengurangi nyeri. parasetamol, panadol, dumin. Tidak mengurangi reaksi inflamasi.
  • NSAIDs: Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs, yang berfungsi menekan reaksi inflamasi dan khususnya bermanfaat mengurangi nyeri dan kaku sendi. Contoh: ibuprofen, naproxen.
  • OBAT MALARIA: terbukti bermanfaat untuk pengobatan penyakit lupus, mencegah kambuh, mengurangi kerusakan organ tubuh dan sekarang terbukti mengurangi angka kematian. Ini adalah hasil penelitian Grupo Latino Americano de Estudio de Lupus yang melibatkan 480 orang denganh lupus. Pada penelitian tersebut didapatkan angka kematian 11.5% untuk yg tidak minum obat malaria,  dibandingkan 4.4% yang mengkonsumsi obat antimalaria.
  • Odapus kadang memerlukan obat anti pembekuan. Misalnya pada pasien dengan DVT (deep vein thrombophlebitis) atau bekuan di pembuluh balik (vena)  yang sering ditemukan di betis, atau pasien dengan APS (antiphospholipid syndrome) dengan gejala  sakit kepala, keguguran berulang yang memerlukan pengobatan dengan injeksi heparin melalui infus, yang dilanjutkan dengan tablet warfarin (simarc) ataupun simarc tambah aspirin. Pemberian warfarin perlu pemantauan INR (International Normalized Ratio) atau waktu pembekuan darah secara berkala.
  •  Antibodi monoklonal, bekerja terhadap CD20 yang ada di limfosit B. Obat ini sudah lama dipakai untuk pengobatan kanker kelenjar getah bening. Walaupun ada laporan beberapa pasien lupus membaik dengan rituximab, namun belum didukung bukti kuat yang berdasarkan penelitian, kecuali untuk lupus sistemik yang disertai gejala trombosit amat rendah, yang tidak responsif dengan pengobatan, steroid, immunoglobulin intravena dan ada kontra indikasi untuk splenektomi.
  • BELIMUMAB (Benlysta). Antibodi monoklonal Belimumab ini telah disetujui FDA untuk pengobatan lupus. Obat ini bermanfaat pada sekitar 30% odapus dan  kurang bermanfaat untuk  masyarakat Afrika dan Amerika. Belimumab belum terbukti untuk pengobatan lupus ginjal

Saat ini, harapan hidup para penderita lupus sudah semakin baik. Apalagi, saat ini sudah ada obat baru yang disebut Lymphostat-B. Obat yang diperkenalkan dalam kongres internasional lupus di New York, beberapa waktu lalu, ini dapat memulihkan aktivitas auto-imun menjadi normal.

Sekian penjelasan dari kami dan semoga bermanfaat.



Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang