Apakah melakukan aktivitas berat tepat setelah makan bisa menyebabkan usus buntu?

Dilihat 1,95 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Seringkali kita mendengar jika seseorang makan jambu klutuk beserta biji atau makan cabai bersama biji dapat menyebabkan penyakit usus buntu. 


Benarkah demikian? Usus buntu, sesuai dengan namanya pasti sudah bisa ditebak ya, usus ini merupakan saluran usus yang ujungnya benar-benar buntu. Usus buntu sendiri adalah organ berbentuk kantong kecil dan tipis berukuran 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar yang letaknya berada di bagian perut kanan bawah. 


Seperti organ-organ tubuh yang lain, appendiks atau usus buntu ini dapat mengalami kerusakan ataupun ganguan serangan penyakit. Hal ini yang sering kali kita kenal dengan nama Penyakit Radang Usus Buntu


Jadi, sangat masuk akal apabila dikatakan mengkonsumsi jambu klutuk atau cabai beserta bijinya dapat menyebabkan penyakit usus buntu, karena biji-biji tersebut seringkali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran usus buntu sebagai benda asing, sehingga apabila dibiarkan terus-menerus dapat berkembang sebagai infeksi dan menimbulkan peradangan.

 

Gejala awal yang ditunjukkan oleh penyakit ini biasanya mirip dengan penyakit ringan lainnya, seperti demam atau sakit perut biasa, oleh karenanya seringkali diabaikan atau dianggap penyakit lain. Padahal jika tidak segera ditangani usus buntu akan pecah dan dapat berakibat fatal bagi sistem pencernaan.


Lalu bagaimana mengenali ciri-ciri usus buntu? Rasa sakitnya bagaimana sih? Apakah melakukan aktivitas berat tepat setelah makan bisa menyebabkan usus buntu? Nah, untuk lebih jelasnya simak ya uraian di bawah ini..




Penyakit Radang Usus Buntu


Penyakit radang usus buntu atau yang biasa disebut dengan Appendicitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun ada beberapa faktor pencetus lain, di antaranya adalah faktor penyumbatan appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras, pembesaran jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, dan masuknya benda asing dalam tubuh. 


Namun, penyumbatan oleh tinja/feces merupakan penyebab utama yang paling sering ditemukan pada penderita usus buntu. Tinja/feces sangat mudah sekali tercemari oleh bakteri/kuman, sehingga penyumbatan tinja pada appendiks menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak, menimbulkan infeksi lalu berakibat terjadinya peradangan usus buntu. 


Apabila peradangan dibiarkan, maka dapat terjadi pembusukan yang menghasilkan cairan bernanah dan jika tidak segera diobati, usus buntu akan pecah dan nanah yang berisi bakteri tersebut dapat menyebar ke rongga perut, sehingga area yang terkena infeksi akan semakin meluas.


Radang usus buntu atau apendisitis terbagi menjadi dua tipe, yaitu usus buntu akut dan usus buntu kronis.


1. Usus Buntu akut


Apendisitis akut terjadi ketika usus buntu tersumbat oleh feses, benda asing, ataupun oleh pembengkakan usus buntu akibat infeksi. Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, sakit ketika berjalan, dan diare. Namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang biasa, demam ringan atau mual-muntah saja.



2. Usus Buntu kronis


Tidak seperti usus buntu akut, usus buntu kronis terkadang memiliki gejala yang lebih ringan sehingga membuatnya sulit terdeteksi dan akhirnya tidak tertangani dengan baik. Penderita usus buntu kronis juga dapat mengalami sakit perut - diiringi oleh mual, diare atau demam- namun biasanya lebih ringan dan samar, sehingga terkadang membuat penyakit ini salah didiagnosis dan dianggap penyakit lain. 


Usus buntu kronis biasanya terjadi karena adanya sumbatan usus buntu sebagian dan atau berulang, biasanya berlangsung lama dapat terjadi dalam hitungan minggu atau tahunan.



Ciri-ciri Usus Buntu





Penyakit usus buntu biasanya diawali dengan rasa sakit perut yang bermula di perut bagian tengah. Pada awalnya, rasa sakit itu akan datang dan pergi. Namun, selang waktu beberapa jam kemudian, rasa sakit biasanya akan berpindah ke bagian perut kanan bawah (tempat usus buntu berada) dengan disertai rasa sakit yang terus-menerus. 


Berikut ini adalah ciri-ciri usus buntu yang kerap kali dialami penderita pada tahap awal:


  • Demam dan menggigil – Gejala umum yang terjadi pada awal penyakit usus buntu adalah munculnya demam. Biasanya demam disertai dengan rasa sakit tak tertahankan didaerah perut.
  • Merasakan nyeri ketika sedang batuk, berjalan atau melakukan gerakan lain yang mengguncang tubuh.
  • Nyeri pada pusar - Rasa sakit ini terjadi pada tahapan awal penyakit usus buntu, kondisi ini bisa semakin memburuk , yaitu timbul rasa sakit yang berpindah pindah didaerah sisi kanan bawah perut. 
  • Merasakan sakit yang semakin parah – Jika kondisi penyakit semakin serius, maka rasa sakit yang terjadi akan terasa lebih sering (selama beberapa jam) dan jauh lebih sakit. 
  • Hilangnya nafsu makan – Apabila gejala seperti ini muncul, cobalah untuk mengonsumsi makanan yang lunak, dan paksakan diri Anda untuk terus makan. Anda bisa juga mengkonsumsi obat untuk menambah nafsu makan.
  • Mual dan muntah - Hal ini disebabkan oleh terganggunya pencernaan karena terhalang oleh pembengkakan usus buntu, sehingga hasil pencernaan menumpuk dan sulit terbuang dengan sempurna. Karena itu, tubuh akan merasa mual. 
  • Konstipasi/Diare - Dalam banyak kasus usus buntu, sakit perut yang parah biasanya disertai dengan diare dan mengandung lendir. Hal ini disebabkan karena feses yang harusnya keluar mengalami hambatan, sehingga feses keluar sedikit demi sedikit dalam bentuk cair 
  • Perut kembung dan sulit buang gas 
  • Nyeri perut - Untuk mengecek apakah anda memiliki usus buntu, tekan perut bagian bawah sebelah kanan, kemudian lepaskan dengan cepat. Jika Anda mengalami rasa sakit saat tekanan dilepas, maka itu merupakan gejala usus buntu. 
  • Pembengkakan pada perut - Pembengkakan pada bagian usus buntu tentu saja akan berdampak pada pembengkakan di bagian perut, disertai rasa sakit. 
  • Sakit saat Buang air kecil 
  • Sulit buang air besar - Kesulitan dalam membuang air besar disebabkan oleh tersumbatnya usus dan terhambatnya aliran feses dari usus menuju anus. Hal ini akan menimbulkan rasa nyeri ketika akan melakukan buang air besar, dan menjadi keras terkadang disertai dengan pendarahan.
  • Nyeri punggung - Rasa sakit pada bagian perut akan membuat tubuh terasa pegal dan berefek pada bagian tulang belakang atau punggung, akan terasa sakit dan nyeri. 

Apakah melakukan aktivitas berat tepat setelah makan bisa menyebabkan usus buntu?




Penyebab radang usus buntu yang paling umum adalah adanya penghambat/kotoran/benda asing atau cacing yang terselip/tersasar masuk ke saluran appendiks yang akhirnya membuat usus buntu mulai membengkak, terinfeksi, lalu meradang. 


Usus buntu tidak disebabkan oleh beratnya aktivitas yang dilakukan setelah makan, namun jenis makanan yang dikonsumsi lah yang dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit usus buntu. 


Jenis makanan tersebut di antaranya:


  • Mengonsumsi makanan yang mengandung rasa pedas, asam. 
  • Makanan yang mengandung vetsin dan kandungan garam yang tinggi (mi instant, penyedap rasa dan bumbu instant lainnya).
  • Daging instan.
  • Makanan yang prosesnya dibakar langsung, seperti sate.
  • Biji dari buah (seperti jambu klutuk) atau biji cabe.
  • Pola makan yang buruk, sering menunda lapar terlalu lama atau seringkali susah buang air besar 

Jadi, sungguh kurang tepat ya jika timbul persepsi bahwa melakukan aktivitas berat tepat setelah makan bisa menyebabkan usus buntu.



Penanganan Usus Buntu


Setelah mengetahui ciri-ciri usus buntu yang umum dialami oleh penderita, maka jika Anda megalami gejala seperti diatas, sebaiknya Anda segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Semakin dini ditangani, maka akan semakin baik. 


Setelah pemeriksaan fisik dilakukan, biasaya dokter akan menyarankan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan CT Scan untuk mendapatkan gambaran apendiks secara akurat. Jika hasil diagnosis positif, maka tindakan standar untuk menangani penyakit ini adalah melakukan operasi. Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, luka operasi harus dirawat untuk menghindari kemungkinan terjadinya infeksi dan diberi antibiotik selama 7-10 hari.




Demikianlah informasi yang dapat disampaikan seputar penyakit usus buntu. Sekali lagi, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, jadi mulailah dengan hal yang paling mudah yang dapat anda lakukan, yaitu menjaga pola makan. Semoga bermanfaat!



Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang