Apakah paradoks obesitas?

Dilihat 1,18 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Itu benar-benar paradoks yang sangat menyedihkan; mereka yang berisiko kelaparan paling besar adalah keluarga-keluarga yang paling rentan terhadap obesitas akibat pemilihan makanan yang kurang baik. Mengapa keluarga yang kelaparan berisiko paling besar untuk obesitas? Ada beberapa faktor yang berperan, menurut analisa tren oleh Family and Consumer Sciences pada tahun 2002. Salah satu faktornya adalah bahwa biasanya sumber makanan keluarga-keluarga kelaparan ini seringkali menyusut di penghujung bulan, mengakibatkan makin kurang bergizi, namun makanan menjadi lebih enak di awal bulan.


Pola "foya-foya dan pembatasan" ini mengganggu proses metabolisme dan membuat isyarat kenyang dalam internal tubuh terlewatkan, yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan berat badan. Dengan tambahan keluarga yang tak memiliki jaminan makanan, berpenghasilan-rendah seringkali merasa frustrasi ketika memilih dan menyiapkan makanan yang sehat, meskipun bisa diakses. Karena kurangnya edukasi, banyak perilaku foya-foya terjadi di restoran, dimana keluarga ini disuguhi porsi yang lebih besar makanan yang lebih berlemak, dan pilihan-pilihan inilah yang berkontribusi pada penambahan berat badan (Baker).


Faktor lainnya dalam keluarga berpenghasilan rendah yang menyebabkan risiko obesitas adalah peningkatan munculnya gurun makanan dan koneksinya terhadap obesitas. Menurut USDA, lebih dari 23 juta orang tinggal di wilayah gurun makanan, dan setidaknya satu mil, jika tidak lebih, jaraknya dari supermarket atau toko makanan. Dari 23 juta orang itu, setidaknya 13,5 juta dianggap berpenghasilan rendah. Yang cukup merusak, di dalam populasi ini tak memiliki akses ke makanan kaya gizi dan sehat seperti buah-buahan, sayuran, dan gandum dan alih-alih memilih makanan olahan yang tinggi kandungan garamnya, gula dan lemak, yang lebih jauh lagi meningkatkan peluang obesitas mereka.


Pasar yang biasanya ditemukan dalam suatu gurun makanan, ketika mereka memiliki buah segar dan sayuran segar, seringkali memiliki harga yang lebih mahal, lebih jauh lagi menjauhkan populasi berpenghasilan rendah dari pilihan-pilihan yang lebih baik (Cummings). Yang menyedihkan, sekarang ada bukti yang menunjukkan bahwa diantara orang-orang miskin, meskipun saat mereka ditawari makanan-makanan bergizi, berkualitas lebih tinggi, mereka menolak membelinya. Sebuah studi dalam jurnal Public Health and Nutrition menunjukkan apa yang meningkat itu menjadi jelas; meski diberi pilihan-pilihan yang lebih menyehatkan di supermarket, keluarga itu memilih junk food. Hasilnya, para penjual bahan makanan tak mau menyimpan bahan-bahan ini lebih banyak, dengan menyatakan bahwa tak ada permintaan untuk itu.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang