Apakah pengujian untuk tipe virus Human Papiloma (resiko rendah dan tinggi) bisa digunakan untuk menggantikan pap smear yang digunakan untuk mengujik kanker serviks?

Dilihat 532 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Tidak, tidak bisa. Sebagian besar, semua virus memasukkan DNA-nya sendiri (atau RNA yang ditulis kembali) ke gen manusia dengan cara acak. Acak artinya kita tidak bisa memprediksi akibatnya, dan hasilnya bisa menjadi bersifat kanker, tak peduli jenis HPV apa yang dihadapi.


Virus juga bermutasi dengan sangat cepat, dan perangkat yang menggambarkan satu virus dengan yang lainnya tidak sepenuhnya berdasarkan kode genetik virus itu, tapi pada beberapa protein kapsid dan keberadaan antibodi dll. Persentase yang sangat besar dari (yang aktif seksual) populasi memiliki virus HPV, tapi hanya sebagian kecil yang memilikinya kemudian berujung kanker.


Histologi adalah standar emas terkini untuk mengidentifikasi jalur sel yang berisiko kanker saat virus tersebut memutasi inangnya. Ada beberapa mutasi yang berbeda yang harus terjadi pada sebuah sel untuk menjadi sel kanker. Bahkan disebutkan bahwa histologi dianggap secara luas sebagai sedikitnya lebih merupakan sebuah kesenian ketimbang sebuah sains (ada referensinya), sampel dari sel serviks diperlukan untuk menguji lebih lanjut untu menyingkirkan kanker serviks.Bisa jadi gen chip microarray atau cDNA transkripsional yang berjenis microarray mengindikasikan potensi risiko kanker lebih baik daripada histologi dan konfirmasi antibodi HPV, namun itu tidak menghalangi dibutuhkannya Pap Smear.


Menurut studi tahun 2003-2005 yang dilakukan Datta et. al, prevalensi HPV berdasar kelompok umur adalah 35% pada usia 14-19 tahun, 29% pada usia 20-20 tahun, 13% pada usia 30-39 tahun, 11% pada usia 40-49 tahun, dan 6,3% pada usia 50-65 tahun.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang