Apakah perempuan di Indonesia 100% setara dengan laki-laki di masyarakat, dan/atau di depan hukum?

Dilihat 352 • Ditanyakan 11 bulan lalu
1 Jawaban 1

Tidak ada hubungan antara kesetaraan agama dan jenis kelamin. Kecuali, ada hubungan yang lebih antara kebudayaan dan bagaimana mereka memperlakukan perempuan/laki-laki/orang-orang dari kelompok etnis lain. Sebelum kemerdekaan dan persatuan, budaya Indonesia di masing-masing suku sangat berbeda.Di Aceh dan Maluku ada pejuang perempuan yang mencoba untuk mendorong kekuatan kolonialisasi dari kerajaannya.


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Indonesia tidak pernah berpikir membutuhkan feminisme. Dalam kata lain, kami, orang Indonesia, tidak sadar kalau ada ketidaksetaraan antara bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan. Saya pikir, dari saya lahir, ada kesempatan yang sama untuk mendapatkan edukasi, pekerjaan, dan keuntungan dari pemerintah ke kedua jenis kelamin. Kecuali, perempuan secara fisik lebih lemah dan tidak melakukan kerjaan fisik. Mereka juga bisa hamil, jadi tempat kerja harus memperbolehkan mereka untuk cuti hamil jika dibutuhkan.


Perempuan di bagian pedesaan Indonesia kebanyakan pasif dalam hal kemasyarakatan. Untuk mencegah ini menjadi norma buda mereka sendiri, banyak hukum yang akhirnya dikenalkan untuk dengan tegas memberikan hak dan perlindungan ke perempuan. Mudah-mudahan, perempuan berambisi bisa meraih impiannya dan tidak diikat oleh norma budayanya.


Mengenai distribusi jenis kelamin di parlemen (DPR).

Semenjak korupsi merajalela, bahkan tidak ada satupun kampanye untuk menegakkan seorang individu untuk menjadi anggota DPR. Apa lagi kampanye untuk menegakkan perempuan yang memenuhi syarat untuk masuk. Ini menyebabkan semua kandidat legislatif kebanyakan laki-laki atau perempuan yang memiliki hubungan dengan mantan anggota laki-laki (anak perempuannya atau istrinya). Rancangan RUU untuk menegakkan partai politik untuk menaikkan perwakilan perempuan sampai 30% dari total yang dikenalkan dan diterapkan di 2004 voting nasional.


Mengenai rumah tangga

Kebanyakan perempuan sebelum 2000 memilih untuk tidak bekerja di perusahaan untuk menjadi ibu rumah tangga. Semenjak, normanya kalau suami sudah cukup untuk mencari nafkah dan ibu harus merawat anak. Saya dulunya mengagumi bagaimana hebatnya seorang ayah bekerja dengan kayu, memperbaiki rumah, dan mengorganisir acara sosial. Ini bisa disebut kalau seorang ibu memiliki 100% kesetaraan suara untuk menyuruh-nyuruh suaminya untuk melakukan sesuatu. Buat ini, perbaiki itu, ikuti ini, belikan aku itu, d.l.l. Ini juga digambarkan oleh pertelevisian Indonesia bagaimana istri atau perempuan secara umum memperlakukan suaminya. Bahkan juga ada akronim ISTI atau Ikatan Suami Takut Istri. Walaupun tidak semua rumah tangga melakukan ini


Mengenai pekerjaan

Anak pedesaan biasanya tidak mempedulikan edukasi (karena kurangnya kualitas guru), jadi laki-laki dan perempuan cenderung menjadi pekerja dengan skill rendah. Tetapi kebanyakan anak perkotaan melakukan edukasi dengan kompetitif. Ini membuat mereka mengisi pekerjaan di perusahaan besar. Setelah 2000, banyak perempuan dengan cepat mencari pekerjaan. Semenjak pernikahan prematur menjadi kurang. Juga, budaya pop dengan luas diadopsi oleh perempuan, jadi mereka lebih mau bekerja dan mendapat uang untuk terus mengikuti itu.


Lalu, apa yang menyebaabkan ketidaksetaraan pekerjaan untuk perempun? RUU dikenalkan di 2003 menyediakan banyak perlindungan untuk perempuan. Memperbolehkan mereka untuk mengambil cuti 2 hari penuh di periodenya dan 3 bulan cuti untuk melahirkan. Ini menyebabkan perusahaan lebih ingin mempekerjakan laki-laki daripada perempuan. Masalahnya ada di perusahaan dan bukan di RUU.


Mengenai hukum

Tidak ada hukum yang tegas yang mengandung perbedaan jenis kelamin untuk bersaksi kriminalitas. Tetapi, karenaa konsekuensi yang buruk dari keterlibatan dengan hukum (korban atau saksi), kebanyakan perempuan cenderung terintimidasi oleh tersangka dan menghindari langkah legal. Meski ini tergantung pada kemauan kuatperempuan. Ya, itu terjadi di semua negara.

____

Mengapa satu agama harus memerintahkan bagaimana kita memperlakukan perempuan? Saya merasa terganggu karena Indonesia menjadi contoh bagaimana mayoritas negara muslim memiliki kesamaan untuk perempuan dan laki-laki. Mengapa?? Karena lebih baik dari itu. Indonesia adalah contoh bagaimana negara yang berisi banyak etnis dan banyak agama harusnya memperlakukan masing-masing penduduknya setara.


Ok, saya akui itu hanya di dalam dokumen dan budaya, kita belum sampai sana. Tapi, setidaknya banyak orang sekarang demi mencapai potensi mereka sendiri dan ambisinya apapun etnis dan jenis kelamin. Di Indonesia, perempuan pernah jadi presiden, dan orang tionghoa(minoritas) menjadi gubernur. Siapa tahu nantinya orang kristen bisa jadi presiden.

Atau bahkan ‘presiden Ahok’ (China kristen)

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang