Apakah rasa sakit fibromyalgia akan berkurang setelah masa menopause?

Dilihat 545 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1


Istilah perimenopause memang masih terasa awam di telinga, tetapi setiap wanita pasti akan mengalaminya. Sebelum mencapai usia menopause, seorang wanita akan mengalami beberapa perubahan fisik dan gejala hormonal, termasuk menstruasi yang tidak teratur.  Pertanyaan yang terkadang  muncul adalah bagaimanakah kaitan Fibromyalgia dengan menopause dan apakah rasa sakit Fibromyalgia akan berkurang setelah masa menopause? Untuk mengetahui hal ini, yuk simak terus artikel di bawah ini!


Apa itu Fibromyalgia?


Fibromyalgia merupakan penyakit yang membuat penderitanya mengalami rasa sakit di sekujur tubuh. Kondisi yang bersifat kronis atau jangka panjang ini juga terkadang disebut dengan istilah sindrom fibromyalgia. Gejala umum fibromyalgia adalah menyebar, nyeri tubuh, jarak tidur dan kelelahan. Fibromyalgia menyebabkan nyeri otot dan kelelahan serta dapat meningkat menjadi kronis. Rasa sakit berasal dari satu lokasi, biasanya leher dan bahu kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kebanyakan pasien melaporkan merasa rasa sakit sepanjang waktu dan banyak yang menggambarkannya bahwa rasa nyeri hampir serupa dengan nyeriarthritis yang terjadi di dekat bahu, siku, pinggul dan lutut.



Apa itu Fibromyalgia? Fibromyalgia artinya sindrom yang menyebabkan nyeri kronis, kadang-kadang menyebabkan nyeri otot yang melemahkan dan kelelahan. Rasa sakit terjadi di daerah dimana otot menempel pada tulang atau ligamen dan mirip dengan rasa sakit pada radang sendi.  Sendi sendiri tidak terpengaruh, tidak cacat dan juga tidak memburuk seperti dalam kondisi arthritis. Fibromyalgia dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Tetapi penderita fibromyalgia umumnya berusia di antara 30-50 tahun dan wanita juga berpotensi lebih tinggi untuk terserang fibromyalgia dibandingkan dengan pria. Fibromyalgia adalah intoleransi terhadap stres dan rasa sakit yang mungkin disebabkan oleh faktor genetik.


Rasa sakit dapat bervariasi, tergantung pada waktu hari, perubahan cuaca, aktivitas fisik, dan adanya situasi stres; digambarkan sebagai rasa kaku, terbakar, radiasi, dan sakit. Rasa sakit ini sering terasa lebih intens setelah waktu tidur yang terganggu/tidak nyenyak. Keluhan utama lainnya adalah kelelahan, yang bagi beberapa pasien terasa lebih melemahkan daripada rasa sakit. Kelelahan dan gangguan tidur, pada kenyataannya, hampir universal pada pasien dengan fibromyalgia, dan jika gejala ini tidak hadir, maka beberapa ahli percaya bahwa dokter harus mencari diagnosis selain fibromyalgia. Antara seperempat dan sepertiga dari pasien umumnya mengalami depresi, dan gangguan mood dan konsentrasi. (Sampai dengan 46% dari pasien telah didiagnosis dengan depresi di masa lalu). Pasien Fibromyalgia juga rentan terhadap sakit kepala karena tegang atau migren. Gejala lain termasuk pusing, kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki, dan masalah pencernaan, termasuk sindrom iritasi usus besar dengan gas dan pergantian antaradiare dan sembelit. Beberapa pasien mengeluhkanfrekuensi buang air kecil yang lebih seringyang disebabkan oleh kejang kandung kemih. Gejala pada kaum wanita umumnya dirasakan sebagai nyeri pada saat menstruasi.


Kaitan Fibromyalgia dengan menopause




Perimenopause adalah masa di mana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama dua hingga delapan tahun, ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause. Gejala ini alamiah, karena merupakan tanda dan proses berhentinya masa reproduksi.
Pada periode ini, umumnya tingkat produksi hormon estrogen dan progesteron berfluktuasi, naik dan turun tak beraturan. Siklus menstruasi pun bisa tiba-tiba memanjang atau memendek. Biasanya, masa perimenopause ini terjadi di usia 40-an, tapi banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usianya masih di pertengahan 30-an. Salah satu tanda dan gejala perimenopause adalah   Gangguan tidur dan hot flashes. Sekitar 75-85 persen wanita mengalami hot flashes selama perimenopause. Hot flashes adalah gelombang panas tubuh yang datang tiba-tiba, akibat perubahan kadar estrogen yang menyerang tubuh bagian atas dan muka. Serangan ini ditandai dengan munculnya kulit yang memerah di sekitar muka, leher dan dada bagian atas, detak jantung yang kencang, badan bagian atas berkeringat, termasuk gangguan tidur. Selama menopause, ada penuruna signifikan pada level estrogen dan progesteron yang menyebabkan rasa kepanasan saat tidur dan gangguan tidur.


Ada 3 cara menopause dapat mempengaruhi tidur. Pertama, mempengaruhi mood dan insomnia. Kedua, gangguan pernafasan saat tidur. Ketiga, meningkatnya perkembangan fibromyalgia, yakni rasa sakit di sekujur tubuh. Kondisi ini bersifat jangka panjang. Karena susah tidur di malam hari, wanita yang menopause lebih memilih tidur siang. Sehingga akan mempengaruhi level energi, emosi, dan berat badan. Beberapa wanita mengalami depresi, tetapi perubahan psikologis ini akibat terjadinya gangguan tidur. Beberapa ahli percaya bahwa pola tidur yang terganggu mungkin menjadi faktor pencetus asli untuk banyak kasus nyeri fibromyalgia.


Apakah Gangguan Tidur Penyebab Fibromyalgia?


Beberapa ahli percaya bahwa pola tidur yang terganggu mungkin menjadi faktor pencetus asli untuk banyak kasus nyeri fibromyalgia.  Terganggunya pola tidur seseorang tampaknya memicu faktor dalam sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan peradangan dan nyeri. Beberapa dokter masih percaya bahwa fibromyalgia artinya bukan penyakit fisik. Apa itu fibromyalgia ? Fibromyalgia terjadi  hasil dari gangguan emosional sehingga terdapat hubungan antara gangguan psikologis.  Kelelahan, kelesuan, konsentrasi yang buruk, defisit memori, agitasi, dan gangguan tidur semua bisa menjadi manifestasi fibromyalgia. Ketika seseorang telah  melewati masa menopause maka  rasa sakit pada penderia fibromyalgia relative berkurang selama penderian  menjaga tingkat stress.  Ada beberapa bukti bahwa orang dengan fibromyalgia memiliki respon yang lebih rentan stres dalam menghadapi konflik dan permasalahan sehari-hari daripada mereka tanpa gangguan tersebut. Sejumlah relaksasi dan teknik pengurangan stres telah terbukti membantu dalam mengelola rasa sakit kronis.  Membangun rutinitas tidur yang teratur  sangatlah  penting, terutama karena banyak penyakit sakit diperparah oleh terganggunya pola tidur. Pasien yang tidak mendapatkan waktu tidur secara konsisten  memiliki potensi kesembuhan fibromyalgia yang rendah. Perubahan jam kerja misalnya, sangat berpengaruh pada pasien fibromyalgia.



Menopause memang akan merubah kehidupan wanita dengan beberapa resiko masalah kesehatan. Sehingga sangatlah  penting bagi semua wanita untuk mengatasi semua gejala menopause hingga tahap itu belum terjadi. Dokter rheumatologis  memberikan dua pendapat  yaitu : ya dan tidak bahwa, rasa sakit fibromyalgia akan berkurang setelah masa menopause. Dokter  mengatakan bahwa beberapa  pasien dengan keluhan  fibromyalgia pada wanita  menopause akan  menjadi lebih parah dalam beberapa kasus karena kurangnya estrogen (dan hormon lainnya) yang membantu dalam mencegah rasa sakit. Rasa sakit  menjadi parah karena pergeseran hormon. Namun seseorang yang  melewati masa menopause akan mengalami berkurangnya  tingkat rasa sakit akibat fibromyalgia, selama mereka menjaga tingkat stress. Tetap sehat, makan makanan yang baik, tidur cukup dan yang paling penting, olahraga itu sangatlah penting baik untuk menopause dan fibromyalgia.


Membiasakan gaya hidup sehat yang aman sangat membantu untuk mengurangi masalah resiko kesehatan. Gaya hidup sehat, seperti tidur cukup, olahraga dan menjaga diet seha rendah lemak dan tinggi serat sangatlah penting baik untuk menopause yang pada akhirnya dapat mengurang rasa sakit fibromyalgia setelah masa menopause.

Baca pula tautan berikut : Apakah ada vitamin yang membantu fibromyalgia?

dan Apa obat terbaik untuk fibromyalgia?

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang