Apakah rokok elektrik akan membuat ketagihan?

Dilihat 353 • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1



Rokok elektronik atau yang disebut dengan rokok elektrik sedang menjadi fenomena baru bagi masyarakat Indonesia. Banyak yang beralih ke rokok elektrik karena cara merokok seperti ini lebih aman dan terlihat lebih trendi, tanpa mengurangi kenikmatan dari merokok. Namun beberapa pihak telah mengungkapkan bahaya rokok elektrik ternyata sama seperti rokok pada umumnya.

Rokok elektrik diklaim sebagai rokok yang lebih sehat dan ramah lingkungan dibandingkan dengan rokok biasa, bahkan tidak menimbulkan bau. Rokok elektrik tidak membakar tembakau, seperti rokok pada umumnya. Rokok ini membakar cairan menggunakan baterai dan uapnya masuk ke paru-paru pemakai. Kandungan rokok elektrik juga menggunakan nikotin yang sama seperti rokok pada umumnya.

Namun banyak juga yang bilang bahwa rokok eletrik itu tidak membuat kecanduan dan bahkan membantu orang untuk meninggalkan kebiasaan lamanya. Tapi apakah hal itu benar? Disini akan dibahas tentang rokok elektrik dan apakah rokok elektrik itu membuat candu atau tidak.



Penjelasan Mengenai Rokok dan Nikotin

Nikotin bisa menimbulkan kecanduan. Seperti juga mengkonsumsi antidepresan dengan alkohol – anda beresiko lebih tinggi untuk menjadi tergantung kepada pil tersebut, atau alkohol, atau kedua-duanya.

Nikotin sendiri, tanpa zat lain, tidak terlalu adiktif. Itu bisa menjelaskan kenapa begitu banyak orang yang berhenti merokok dengan bantuan rokok elektrik, dan memilih untuk menggunakan rokok elektrik karena lebih membantu daripada alternatif lainnya.





Pengobatan berbasis nikotin diizinkan pada orang yang tidak pernah merokok untuk membantu pengobatan penyakit kognitif atau lainnya. Pengobatan tersebut biasanya berlangsung selama sekitar enam bulan. Dan pasien tidak menunjukkan gejala ketagihan setelah berakhirnya pengobatan.

Mungkin yang paling mengejutkan adalah, dalam sejumlah penelitian, nikotin dalam kandungan rokok elektrik tidak mengakibatkan kecanduan atau ketagihan ketika digunakan untuk pengobatan. Penemuan ini berlawanan dengan reputasi nikotin sebagai salah satu zat paling adiktif, tapi reputasi tersebut dibangun oleh mitos. Tembakau mungkin sama adiktifnya dengan heroin, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang. Tapi, hal ini sulit diuji oleh para peneliti. Penelitian yang sama menemukan bahwa asap tembakau juga berperan dalam kecanduan nikotin. Pada tahun 2005, para peneliti di University of California, Irvine, menemukan bahwa binatang mengkonsumsi kombinasi nikotin dan acetaldehida, senyawa kimia organik yang ditemukan dalam tembakau, secara signifikan lebih banyak daripada masing-masing zat kimia tersebut. Pada tahun 2009, sebuah tim dari Perancis menemukan bahwa mengkombinasikan nikotin dengan campuran lima zat kimia lain yang ada dalam tembakau – anabasin, nornikotin, anatabin, kotinin dan miosmin – secara signifikan meningkatkan hiperaktivitas dibandingkan dengan nikotin saja.


Hal ini bukan berarti bahwa orang yang tidak pernah merokok boleh mencoba rokok elektronik begitu saja. Tidak ada jaminan bahwa rokok elektronik tidak akan menimbulkan kecanduan. Bagian terbesar dari “kecanduan” tersebut mungkin ditimbulkan oleh “kebiasaan” – sama seperti rokok tembakau. NRT hanya mendapatkan tingkat “kesukesan” satu digit – dan semuanya mengandung nikotin. Tidak seperti rokok elektronik, mereka tidak memperhatikan sisi kebiasaan – sudah jelas bahwa berhenti merokok bukan hanya tentang “setan” nikotin, suatu zat normal yang juga ditemukan pada tomat, kentang dan telur.




Terus terang, dengan ribuan zat yang ada pada asap rokok, bagaimana orang bisa yakin bahwa “hanya” nikotin saja “satu-satunya” zat yang bertanggung jawab pada kecanduan rokok. Jadi jika anda tidak mau mengambil resiko sama sekali dengan kecanduan rokok dan nikotin, disarankan anda tetap menghindari rokok elektrik maupun rokok konvensional. Lebih baik aman dari pada menyesal, bukan?

Terjawab 10 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang