Apakah salah bagi sebuah perusahaan secara etis untuk menggandakan paten obat dan menyediakan obat yang lebih murah bagi masyarakat?

Dilihat 1,08 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Maafkan saya jika saya kedengaran berargumen di kedua sisi sekaligus. Saya memang memiliki opini yang beragam tentang masalah ini.


1.    Pemilihan kata orang itu –baik dalam bentuk press release atau diskusi panel- terasa keterlaluan. Sudah terindikasi dalam benak sebagian orang bahwa hal itu cukup lazim di negara maju. Didandani seperti kisah kemanusiaan, sebenarnya itu samaran dari bagaimana mengesalkannya jika sistem layanan kesehatan yang dilindungi paten milik mereka menjadi rusak. Jika mendukung pandangannya, ada fakta-fakta pendukung yang sangat relevan seperti “dia berdoa kepada Krishna, Rama, dan Dewa-Dewa Hindu lainnya untuk pertolongan.”


2.    Mengesampingkan pemilihan kata, apakah pandangan orang itu sudah tepat? Bayangkan jika Dekkers membangun sebuah hotel bintang 5 yang mewah. Dekkers lalu membebankan premi yang berat kepada tamunya untuk menutupi biaya konstruksi, perawatan (dan marketing?), dan mendapat untung yang lumayan. Chai-wala di lingkungan tinggal anda yang ramah mendirikan kedai di bagian halaman yang tidak terpakai dan menjual teh 1/30 dari harga aslinya. Apakah si chai-wala itu dibenarkan saat berargumen bahwa tanahnya tidak terpakai dan tamu hotel tidak akan pernah jadi pelanggannya? “Tapi,” kata anda, “Kita tidak membicarakan soal chai. Ini adalah obat penyelamat nyawa.” Maaf, tetapi bukan itu yang dilihat Dekkers. Itu hanya sekedar bisnis. Bonus yang ia dapat tidak terkait pada berapa banyak nyawa yang ia selamatkan. Rezim paten yang diterima ‘secara internasional’ juga tidak memberi perbedaan antara Twinings dan Nexavar. Dari pandangannya mencuri obat-obatan jelas ilegal, tidak bermoral dan tidak etis.


3.    Legalitas dari hal tersebut. Banyak negara berargumen soal ini selama tiga dekade sebelum mendirikan GATT dan kemudian WTO. Isu kekayaan intelektual dalam bioteknologi dan farmasi merupakan yang paling  sering dipertengkarkan dan banyak dari isu ini yang tidak terpecahkan. Setiap negara punya sistemnya sendiri, dengan kerangka keseluruhan sesuai saran dari WTO. Lisensi wajib dari Nexavar sah-sah saja dibawah hukum tertentu.


4.    Lupakan WTO. Apakah ini akan menyakiti India? Tahu kan, sanksi, investasi asing berkurang, kehilangan reputasi dan semacamnya? Pandangan personal saya adalah “Ppfffftttt”. Hubungan internasional dan perdagangan tidak bekerja seperti itu. Jika Eropa punya cara untuk menggencet India sampai menyerah dalam isu ini, Eropa pasti sudah melakukannya. Tapi tidak kan, jadi Eropa akan merasa cukup dengan mendapat sedikit kelonggaran di tempat lain. Bayer dan Novartis harus mencari jalan keluar dalam melakukan bisnis sambil tetap menghormati hukum di negara tujuan. Jika tidak, akan ada orang lain yang melakukannya. Seperti Natco.


5.    Baiklah. Tapi apakah itu salah secara moral? Ya, tetapi tidak dalam cara yang dipercayai banyak orang. Apakah ini soal menjatuhkan perusahaan raksasa lintah darat sehingga jutawaan nyawa dapat diselamatkan? Atau apakah ini soal menghancurkan sebuah perusahaan asing sehingga ada perusahan lokal yang bisa diuntungkan? Bahkan dengan harga 1.6 lakhs Rupee, obat ini tidak terjangkau oleh kebanyakan orang India, jadi argumen soal menyelamatkan jutaan nyawa tidak ada gunanya. Fakta yang memang kita miliki adalah bahwa keuntungan bersih Natco Pharma di kuartal ketiga melonjak hingga 32% pada ₹30 crore. Ini sebelum keuntungan yang diharapkan dari Nexavar mulai bertambah. Kita membutuhkan pemeriksaan rinci dari kerangka hukumnya sehingga bisa menguntungkan orang-orang yang memang seharusnya mendapatkannya.


6.    Mengenai rezim paten pada umumnya. Argumen yang mendukung perlindungan paten, khususnya dalam obat-obatan, bersifat menggoda. Dibutuhkan miliaran dolar untuk mengembangkan obat-obatan. Sangat sedikit diantaranya yang sukses. Dunia akan jauh lebih memburuk secara keseluruhan. Jika perusahaan-perusahaan itu tidak yakin bisa meraup keuntungan, mereka tidak akan punya insentif untuk mengembangkan obat. Tetapi kenyataannya adalah justru rezim paten-lah yang membuat harga pengembangan obat jadi tinggi. Hal ini mengeliminasi semua kemungkinan untuk menyatukan pengetahuan, dan menghasilkan eksperimen mahal yang diduplikasi di seluruh dunia. Hal ini juga telah menyimpangkan pasar bebas dan membuat kesalahan alokasi dari dana riset dan pengembangan kesehatan. Sudah waktunya untuk menyingkap hal ini.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang