Apakah saya boleh menerima suntik rabies satu minggu setelah gigitan anjing?

Dilihat 1,93 rb • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1

Kita pasti sudah sering sekali mendengar tentang penyakit rabies atau yang lebih dikenal dengan penyakit anjing gila. Rabies adalah suatu penyakit yang bersifat zoonotik dimana penyakit ini ditularkan oleh hewan kepada manusia melalui  gigitan hewan seperti kucing, anjing, kera, rakun dan kelelawar. Penyakit ini merupakan salah satu jenis penyakit infeksi akut yang menyerang susunan saraf yang disebabkan oleh virus rabies.

Tak salah jika penyakit ini dianggap penyakit yang berbahaya dan dapat mematikan jika tak segera ditangani. Di Indonesia sendiri, terdapat 70 ribu kasus gigitan hewan rabies pada tahun 2013. Pada tahun 2016 sendiri terdapat 270 kasus dan satu orang meninggal dunia. Kebanyakan kasus rabies ini disebabkan oleh anjing. Mengingat banyaknya kasus rabies ini, penting bagi kita semua untuk lebih tanggap terhadap penyakit ini agar hal yang serupa tidak terjadi pada orang-orang disekitar kita. Di sini akan saya membantu anda dengan memberikan sedikit penjelasan mengenai seluk beluk penyakit rabies sampai dengan obat rabies.


galena hewan penyebar rabies



Penyebab Penyakit Rabies

Rabies adalah penyakit oleh virus yang bisa dicegah dengan memberikan suntik vaksin. Penyakit ini terjadi di lebih dari 150 negara dan teritori. Penyakit rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses melalui hewan yang telah terinfeksi oleh penyakit ini. Anjing adalah sumber utama dari sebagian besar kematian yang berhubungan dengan rabies, dan berkontribusi sebesar 99% dari semua transmisi rabies ke manusia. Meskipun kasus yang sering ditemukan dalam disebabkan oleh gigitan hewan,  namun faktor utama dalam penyebaran penyakit ini adalah air liur dari hewan tersebut. Menghindari gigitan saja tidak menjamin bahwa anda bisa aman dari rabies. Seseorang dapat terjangkit rabies jika air liur dari hewan yang telah terjangkit virus rabies masuk ke dalam tubuh. Tidak hanya melalui gigitan, bahkan melalui kuku yang sebelumnya telah dijilat oleh hewan tersebut bisa menjadi penyebab penyakit rabies.

Di Indonesia, 98 persen kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan 2 persen ditularkan melalui gigitan kucing dan kera. Di Indonesia juga, rabies pada hewan sudah ditemukan sejak tahun 1884. Sedangkan kasus rabies pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat.

galena penyebaran rabies di Indonesia



Gejala Terjadinya Rabies


Masa inkubasi untuk rabies biasanya berkisar sekitar 1-3 bulan, namun bisa bervariasi dari kurang dari 1 minggu hingga lebih 1 tahun, tergantung dari faktor lain seperti lokasi gigitan rabies dan viral load rabies. Pada kasus yang jarang terjadi, masa inkubasi virus bisa saja terjadi dalam waktu 4 hari.

Setelah tergigit hewan berpenyakit rabies, virus akan berkembang biak di dalam tubuh inang. Selanjutnya virus-virus tersebut akan menuju ujung saraf dan berlanjut menuju saraf tulang belakang serta otak yang mana perkembangbiakan terjadi dengan sangat cepat dan kemudian, virus rabies tersebut menyebar ke paru-paru, kelenjar air liur, hati, ginjal, dan organ-organ lainnya.

galena gejala rabies


Gejala awal dari rabies adalah demam dan seringkali rasa sakit atau rasa kesemutan, menusuk-nusuk, atau rasa terbakar (paraesthasia) pada lokasi gigitan. Seiring dengan menyebarnya virus ke sistem syaraf pusat, inflamasi yang progresif dan fatal mulai terjadi pada otak dan saraf tulang belakang. Infeksi ini akan berlanjut menjai dua tipe. Penderita yang terkena rabies ganas akan menampilkan gejala hiperaktif, perilaku yang gelisah, hydrophobia (rasa takut pada air) dan terkadang aerophobia (rasa takut untuk terbang). Setelah beberapa hari, cardiorespiratory arrest terjadi dan akhirnya menyebabkan kematian. 30% dari kasus rabies pada manusia disebabkan oleh rabies paralitik. Tipe rabies ini lebih tidak tampak dan terjadi pada periode yang lebih lama dari rabies ganas. Otot manusia akan lumpuh secara perlahan, dimulai dari lokasi gigitan atau goresan. Penderita akan mulai menderita koma secara perlahan dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Tipe paralitik sering salah didiagnosis sehingga kasus ini tidak banyak tercatat.


Cara Mengobati Rabies

Kita dapat mengeliminasi kemungkinan terkena rabies dengan memberikan vaksin pada anjing. Infeksi rabies telah menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahunnya, terutama di Asia dan Afrika. 40% penduduk yang digigit oleh hewan yang dicurigai terkena rabies adalah anak-anak di bawah 15 tahun. Anda bisa melakukan tindakan pertama dengan cara membersihkan luka dengan air dan sabun sesaat setelah terkena gigitan hewan yang dicurigai terjangkit rabies. Selanjutnya bersihkan luka dengan menggunakan antiseptik atau alkohol, jangan tutup luka dengan menggunakan perban atau plester, biarkan luka tetap terbuka. Setelah itu, segera pergi ke rumah sakit atau klinik untuk mendapatkan penangan lebih lanjut dari dokter. Jika rabies yang menjangkiti seseorang masih berada pada tahap awal atau sebelum gejala muncul,  dokter akan melakukan pengobatan yang disebut profilaksis pasca pajanan yang terbukti sangat efektif dalam menangkal gejala rabies. Melalui profilaksis pasca pajanan, dokter akan membersihkan bagian tubuh yang terinfeksi, serta memberikan serangkaian vaksinasi untuk mencegah virus menyebar ke otak dan sistem saraf. Pada sebagian kasus, dokter juga akan memberikan serum anti rabies.

galena suntik vaksin rabies


Seperti yang telah disebutkan diatas, vaksin merupakan obat rabies yang paling utama. Setiap tahunnya, lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia mendapatkan vaksin setelah gigitan. Suntik vaksin ini diprediksi telah mencegah ratusan ribu kematian akibat rabies. Suntik vaksin rabies yang dipergunakan pun berbagai macam. Hal ini disebabkan karena cara memproduksinya yang berbeda-beda, karena media pengembang biakkannya pun yang berbeda. Vaksin rabies ini pun tidak bisa diberikan kepada semua orang. Ada beberapa kondisi khusus dimana orang tersebut baru bisa diberi vaksin, seperti;

  • Hanya untuk korban gigitan atau cakaran binatang yang sudah pasti atau dicurigai menderita penyakit rabies.
  • Hanya untuk mereka yang akan bepergian atau yang tinggal didaerah yang menjadi daerah endemik penyakit rabies, sehingga sangat besar resiko dan kemungkinan orang akan tertular virus rabies ini.
  • Hanya untuk mereka  yang berhubungan dan merawat pasien rabies dirumah sakit, atau tenaga kesehatan yang bekerja di laboratorium yang memeriksa spesimen pasien rabies.
  • Hanya untuk mereka yang pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan, misalnya dokter hewan, perawat binatang di kebon binatang atau tempat konservasi alam dan binatang, petugas pemadam kebakaran, tentara dan para penjelajah alam dan gua alam.



Mitos Dan Fakta Tentang Rabies
Seringkali kita dengar beberapa hal mengenai penyakit rabies yang banyak disekitar kita yang sebenarnya belum jelas kebenarannya. Nah, berikut merupakan mitos tentang penyakit rabies yang sering kita dengar beserta bagaimana fakta yang sebenarnya.

  1. Mitos : Hewan peilharaan yang digigit hewan terinfeksi lainnya tidak menunjukkan gejala rabies hingga infeksi menjalar ke otak.
    Fakta : Rabies memiliki masa inkubasi mulai dari 10 hari sampai lebih dari dua bulan. Waktu yang dibutuhkan infeksi untuk menjalar ke otak, jaringan otot, saraf peripheral atau sistem saraf pusat bergantung dari tingkat parahanya gigitan serta lokasi dari gigitan. Jika hewan yang terinfeksi menggigit peliharaan anda, mungkin hewan kesayangan Anda sudah mengidap rabies bahkan sebelum gejalanya muncul.

  2. Mitos : Satu-satunya cara untuk terinfeksi rabies adalah digigit binatang yang terinfeksi.
    Fakta : Hewan peliharaan anda bisa beresiko terkena terinfeksi hanya dengan kontak melalui air liur dengan hewan yang terinfeksi. Rabies bisa disalurkan dengan mudah melalui air liur pada cakar hewan terinfeksi saat mereka cakar mereka mengenai goresan atau luka terbuka.

  3. Mitos : Rabies hanya bisa ditularkan oleh anjing liar di negara industrial.
    Fakta : Hewan yang sudah jinak dan belum divaksinasi memiliki resiko yang sama dengan anjing dalam hal penyebaran virus rabies.

  4. Mitos : Busa pada mulut adalah satu-satunya cara bagi pemilik untuk mengetahui bahwa hewan mereka terkena rabies.
    Fakta : Mulut yang berbusa adalah gejala tahap akhir pada penderita rabies. Hewan yang terinfeksi juga mungkin menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan, tidak mau makan, kejang-kejang, mengalami disorientasi dan mendadak lumpuh pada kaki belakang.

  5. Mitos : Vaksinasi rabies sungguh menyakitkan dan memiliki efek samping. Fakta : Vaksin untuk rabies bisa dilakukan dengan cepat, sama seperti suntikan yang lain. Hewan peliharaan Anda mungkin akan menunjukkan sedikit efek samping dari suntikan seperti rasa kantuk dan lelah. Namun ini tentu jauh lebih baik daripada kematian yang akan terjadi akibat rabies.

Itulah penjelasan singkat mengenai penyakit rabies dan bagaimana cara penanganannya. Yang terpenting adalah anda tetap tenang dan melakukan beberapa pertolongan pertama saat terkena gigitan hewan rabies. Kenali gejala hewan peliharaan anda dan jangan lupa untuk memberi vaksin rabies kepada hewan tersebut. Jika anda menemukan kucing atau anjing disekitar anda yang dicurigai terjangkit rabies, segera hubungi pihak yang berkompeten untuk segera ditindak lanjuti.




Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang