Apakah seorang ayah harus berhenti memeluk puterinya ketika dia masuk pubertas?

Dilihat 263 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya rasa penting untuk dicatat bahwa pertanyaannya adalah mengenai seorang ayah tidak memeluk puterinya setelah pubertas karena takut mengenai bagaimana hal tersebut akan diterima, sederhananya, bahasa tubuh melambangkan rasa sayang dan / atau dukungan. Harap diingat saya tidak menyebutkan atau menyinggung mengenai para pria yang berlaku tidak sopan kepada puteri mereka dalam jawaban saya karena itu di luar hal yang ditanyakan.


Dalam pertanyaan ini, seorang ayah khawatir karena tingkah laku dari sekelompok pria di masa lalu, bukan karena mereka adalah salah satu dari pria - pria tersebut. Tidak, tidak, tidak, dan tidak. Saya mau cerita (Maaf Yah, saya akan menceritakan sesuatu tanpa persetujuanmu. Tapi saya pikir kamu tidak masalah dengan hal ini). 


Saya tumbuh dengan ayah saya berada jauh dari saya. Dia ada di militer dan sering dinas ke luar. DIa juga cenderung jarang berada di rumah meskipun sedang tidak bertugas. Dan dia seorang pecandu alkohol. Seorang pecandu alkohol aktif, ya, tapi tetap seorang pecandu. Dan sebagai seorang pecandu alkohol aktif, dia akan minum minuman keras setiap sore. Dan dia bukan orang yang penuh kasih saya. Dia agak canggung dalam hal itu dan minum alkohol tidak membantu. Jangan salah, saya tetap menganggap ayah saya pahlawan. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan seseorang dan akan memberikan baju - bajunya tanpa diminta. Tapi dia tidak pernah memberikan pelukan dan ciuman. Dan hal ini menyakitkan.


Tidak lama setelah itu, dia keluar dari militer dan sering berada di rumah. Dia masih suka minum alkohol tapi mulai agak melunak, paling tidak menjadi lebih penuh kasih sayang seara verbal (dia lebih mudah mengatakan "aku menyayangimu"). Tidak lama setelah itu orang tuaku bercerai dan keluarga kamu mengalami goncangan di tengah - tengah keadaan yang bahagia.

Beberapa tahun kemudian. Ayah saya ditangkap karena berkendara sehabis meminum alkohol, dia kemudian berhenti minum minuman keras dan berubah menjadi seseorang yang berbeda. Dia tetap orang yang "akan melakukan apapun demi membantu orang lain", tapi dia juga lebih "hadir". Dan salah satu hal pertama yang dia sadari adalah bahwa dia mengabaikan kami secara emosional. 


Ayah saya menjadi lebih suka memeluk dan mencium, dan ya, saat ini saya menangis memikirkan hal itu. Dia tidak lagi mengucapkan selamat tidur tanpa pelukan dan ciuman di pipin. Ketika kamu melakukan sesuatu, kamu akan mendapatkan sebuah pelukan hangat dan kata - kata "Aku bangga padamu". Dan selama 15 tahun terakhir, tidak ada satu pun telpon yang berakhir tanpa kata "Aku menyayangimu".


Peluklah anak - anakmu. Ciumlah mereka. Biarkan mereka tahu apa yang kamu rasakan kepada mereka. Ekspresikan rasa sayangmu dalam cara yang bisa mereka rasakan. Saat ini setiap pelukan dari ayah saya terasa sangat berharga. Kami sangat sering melakukannnya, karena bahkan saat ini, kami masih harus memperbaiki banyak hal.


Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang