Apakah depresi dapat menyebabkan kematian ?

Dilihat 297 • Ditanyakan 8 bulan lalu
1 Jawaban 1



Depresi adalah gangguan mental yang setiap orang berpotensi mengalaminya. Ilmu kedokteran mendefinisikan depresi sebagai penyakit suasana hati yang melebihi keadaan sedih atau duka cita dan bertahan lama. Keadaan depresi bukan berarti sekedar memiliki hari yang buruk yang membuat anda sedih atau berada dalam kondisi hati yang tidak baik, yang bisa hilang begitu saja dengan makan es krim, atau curhat pada sahabat. Depresi bagi para penderitanya, ibarat berjalan dalam air, terus menerus tanpa ada waktu untuk beristirahat, dan pada akhirnya, yang ingin penderitanya lakukan hanyalah 'tenggelam' agar penderitaan mereka segera berakhir.


Selain itu depresi juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. Banyak orang kerap salah kaprah dengan depresi yang dianggap serupa dengan stres, padahal keduanya berbeda. Stres bersifat temporer, sedangkan depresi bersifat kambuhan, dan bahkan dapat berpengaruh pada kesehatan jiwa jika tidak segera diatasi.


Dalam kosakata sehari-hari, kata depresi bisa jadi sebuah kata yang sudah tidak asing didengar. Mungkin dengan mudah kata tersebut disebut saat sedang berbincang. Namun, apakah anda sudah paham betul apa itu depresi? Sebab, bisa jadi tanpa disadari anda sedang mengalaminya dan bila tidak waspada, depresi berat dapat berujung pada kematian! Menakutkan sekali bukan?

Nah, di bawah ini akan saya uraikan mengenai fakta tentang depresi dan bagaimana depresi berat dapat berakhir pada kematian. Bagi anda yang ingin mengetahui tentang depresi lebih jauh, wajib membaca artikel ini sampai tuntas!



Depresi Berat Mematikan




Depresi bekerja lambat seperti racun. Depresi akan membunuh anda secara perlahan-lahan. Ini adalah penyakit gangguan mood yang menyebabkan perasaan terus-menerus sedih, serta kehilangan minat dan motivasi hidup. Penyakit ini melemahkan anda dari dalam dan ketika sampai puncaknya, penderita depresi cenderung berpikir untuk bunuh diri, hal inilah yang menyebabkan kematian. Meninggal karena depresi itu tidaklah mudah. Meskipun memang depresi mampu melemahkan daya tahan tubuh, tapi kasus meninggal karena depresi itu sendiri belum pernah ditemukan. Contoh paling mudah, seorang penderita depresi kehilangan nafsu makan hingga terserang maag akut, dan penyakit inilah yang kemudian akan merenggut nyawanya.

Depresinya itu sendiri tidak membunuh, tetapi mengarahkan penderitanya ke perasaan sangat ingin mengakhiri hidupnya.


Sayangnya, depresi masih belum dianggap sebagai masalah serius dan obat depresi masih belum dikenal dengan luas, terutama di Indonesia. Padahal, dampak dari depresi sangat berbahaya sekali. Depresi bisa membunuh dengan sangat cepat tanpa disadari. Ketika seseorang sudah merasa depresi karena hidupnya tidak berarti lagi hal itulah yang akan menyebabkan kematian dengan cara percobaan bunuh diri (sekitar 5-15% penderita depresi berkecenderungan bunuh diri). Sebaliknya, seseorang yang depresi pun bisa dengan mudah melakukan aksi kriminal yang merugikan orang lain.


Karena itu, depresi tak semestinya disepelekan. Apabila anda melihat seseorang mengalami depresi cobalah untuk mengerti dan ajak berbicara. Atau Anda sendiri mulai merasakan tanda-tanda depresi, sebelum berada di tingkat depresi berat, segeralah bangkit dan atasi gangguan depresi ini.



Fakta Tentang Depresi




Berikut adalah fakta penting yang mengejutkan tentang depresi yang harus anda ketahui!

  • Lebih dari 50-75% dari semua orang yang bunuh diri memiliki latar belakang menderita depresi berat.
  • Di Amerika Serikat, 5 juta orang penduduknya menderita depresi setiap tahun, dan 5-8% penduduk Amerika yang berusia 18 tahun lebih mengalami depresi, oleh karenanya lebih banyak orang Amerika menderita depresi daripada penyakit jantung koroner, kanker, dan HIV/AIDS.
  • Menghabiskan waktu terlalu banyak di situs-situs media sosial diasosiakan dengan depresi, terutama pada remaja. Para pecandu internet memiliki sedikit interaksi langsung dalam kehidupan nyata, yang membuat mereka memiliki pandangan yang tak realistis terhadap dunia. Tahun 2010, sebuah penelitian menemukan sekitar 1,2% orang yang berusia 16-51 tahun yang menghabiskan jumlah waktu yang besar di dunia maya memiliki tingkat kemungkinan mengalami depresi yang lebih tinggi.
  • Berakhirnya sebuah tayangan atau film bisa menyebabkan depresi - Ketika berakhirnya sesuatu yang penting, seperti serial TV, film, atau bahkan renovasi rumah, hal ini bisa memicu terjadinya depresi. Pada tahun 2009, para penggemar film Avatar melaporkan mereka merasa depresi bahkan memiliki kecenderungan bunuh diri karena dunia fiksi di dalam film tersebut tidak nyata. Reaksi yang sama juga terjadi terhadap film terakhir dari seri Harry Potter.  Emily Moyer-Guse, Ph.D, asisten profesor komunikasi di Ohio State University di Columbus, AS, mengatakan, hal ini karena para penggemar "larut dalam narasi dan melupakan kehidupan nyata dan masalah mereka sendiri." 
  • Mengonsumsi terlalu banyak obat depresi atau antidepresan tidak baik bagi kesehatan tubuh dan tidak menjamin menyembuhkan depresi sepenuhnya! Sebagian orang menyangka bahwa depresi dapat disembuhkan sepenuhnya oleh obat-obat depresi atau antidepresan. Padahal obat-obatan adalah produk kimia, yang apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan bisa memberikan efek negatif pada tubuh manusia, terutama ginjal, empedu, dan hati.
  • Beberapa seleb mancanegara juga ditemukan bunuh diri karena mengalami depresi! Beberapa di antara nama-nama itu adalah Robin Williams, Heath Ledger, Tommy Page, dan masih banyak lagi. Rata-rata para seleb ini bunuh diri karena depresi, padahal sisi luar kehidupannya tampak baik-baik saja bahkan sedang menuai sukses dan pujian dari banyak orang. 

Yang harus anda ingat, sebenarnya depresi adalah penyakit kejiwaan yang paling dapat diobati. Karena sekitar 80-90% orang yang menderita depresi namun merespon positif terhadap pengobatan, hampir semuanya dapat diobati dan mereka dapat terbebas dari depresi. Asalkan, penderita atau orang terdekat harus dapat mengenali tanda-tanda depresi yang ditunjukkan dan cepat tanggap menanggapinya! (Baca: Apakah depresi menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) seseorang?)


Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang