Apakah Singapura terlalu steril?

Dilihat 364 • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1

Cara di mana kita memiliki budaya yang sangat bersemangat. 


1. Singlish. 

Perlu aku berkata lebih? Bahasa ini adalah bahasa oleh rakyat dan untuk rakyat. Campuran dari bahasa yang mulia dan membingungkan yaitu bahasa inggris, melayu dan hokkien, yang telah berevolusi menjadi hal yang lebih dari jumlah bagiannya. Sumber kebanggaan, yang juga menjadi titik utama perbedaan budaya Singapura denga negara-negara lain. 


2. Beberapa sekolah di Singapura, terutama sekolah sekunder, seperti sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas memiliki identitas sekolah yang sangat kuat dan tinggi. Stereotip berdasarkan dari setiap sekolah yang sering melemparkan sebuah pertanyaan satu sama lain, dan pertanyaannya adalah 'berasal dari sekolah mana?' selalu menjadi potensi bahan dasar utama untuk memulai percakapan dengan orang Singapura. 


3. Aktifnya Blogospehere, penuh dengan para politikus, seniman dan penulis. Anda tidak melihat hal ini, sisi Singapura, jika hanya membaca dari surat kabar milik negara. Beberapa contohnya: Kent Ridge Common (yang dijalani oleh mahasiswa NUS) dan Halaman di Publichouse. 


4. Berkembangnya tempat seni. 

Terdapat banyak musisi lokal yang perlahan-lahan yang mengembangkan reputasi mereka - mereka bukan orang yang memiliki jabatan sekarang dan juga bukan orang yang memiliki profil yang sangat tinggi, namun dalam beberapa tahun kedepan mereka akan memilikinya. Lihat saja Sam Willows, iNCH Chua, The Cashew Chemists, Aud dan Illi, hanya untuk beberapa nama. Orang Singapura mungkin saja akan segera bangga dengan musik lokal mereka sendiri yang akan berkembang beberapa tahun kemudian. 



Cara di mana saya pikir kita terlalu steril


1.Rendahnya prioritas utama pada karya seni (musik, drama, dan seterusnya), di kurikulum sekolah ditekankan untuk belajar matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ekonomi. Hasilnya, menjadi seorang artis atau pekerja seni secara naluriah ditolak untuk dijadikan pilihan suatu karir, bahkan jika mereka melihatnya itu sebagai potensi. 


2. Tekanan untuk menghafal di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. 

Saat mereka menginjak perguruan tinggi, tempat di mana mereka seharusnya berpikir kritis dan belajar secara independen, mereka tidak bisa berpikir, pikiran mereka terlalu kacau karena bertahun-tahun peraturan yang harus di ikuti ini akhirnya untuk mengambil keuntungan dari kebebasan akademik tingkat universitas 


3. Kurangnya kekuatan perdebatan dalam parlemen karena lemahnya oposisi. 

Cobalah untuk mencari hal ini di media daring dan dengan mudah akan menemukan artikel tentang debat parlemen tentang kebijakan pemerintah, mulai dari emosional dan tidak rasional jika kita yang berwawasan dan berpikir. Di parlemen itu sendiri, dan di negara pers, Anda akan terdesak untuk menemukan kelanjutan dari kritik serius tentang kebijakan pemerintah. Bahkan dengan kontroversial kebijakan seperti imigrasi, cpf, dll.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang