Ayah saya sedang berada di unit perawatan intensif (ICU). Apa yang harus saya lakukan?

Dilihat 564 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Saya turut berduka bagi anda semua, ayah anda, anda sendiri, ibu anda, saudara dan suami anda. Keadaan ayah anda sangat tidak biasa dan rumit bagi seseorang yang mengalami serangan jantung, sehingga penuh dengan masalah. Dokter seperti apa yang memimpin perawatan ayah anda, dokter khusus untuk perawatan intensif atau campuran dokter biasa seperti ahli jantung, ahli anestesi, internis, ahli syaraf dan semacamnya yang sering bingung soal siapa yang memimpin di kebanyakan rumah sakit (seringkali lebih kecil)? Saya akan mencoba merespon pertanyaan anda dan detail yang telah anda tambahkan secara teknis, dan dari titik pandang emosional dimana saya telah berada di kedua sisi situasi tersebut. Anda tidak menyebutkan beliau mendapat CPR, jadi saya pikir dia tidak mengalami serangan jantung yang menyebabkan dia jatuh. Biasanya orang yang terkena serangan jantung tidak tumbang. Bisa saja beliau jatuh karena kejang; aneh jika sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Jelas sesuatu yang harus diperiksa ahli syaraf; bisa saja epilepsi tahap lanjut, stroke, atau masalah otak lainnya. Setelah kebanyakan Acute Myrocardial Infractions kebanyakan orang tidak butuh bantuan pernapasan (diberi selang) dan tidak akan terlalu gelisah. Artinya apapun yang menyebabkan terjadinya kegagalan pernapasan (biasanya Pulmonary edema, shock kardiogenik atau setelah serangan jantung) telah diatasi, dan secara mental akan selalu siaga selama beberapa saat, bahkan saat pasien masih diberi selang, atau mendapat bantuan pernapasan, dan setelahnya dapat dilepaskan dari bantuan tersebut. Membiasakan pasien lepas dari ventilator terkadang bisa sangat sulit. Saya menganggap bagian tersebut sebagai seni dari kedokteran. Setelah menjalani Tracheotomy melalui pipa pernapasan yang dimasukkan ke saluran tenggorokannya, kerusakan mekanis dari pita suaranya dapat dicegah, dan yang terpenting menurunkan tindakan bernapas yang harus dia lakukan (dengan otot-ototnya sendiri) saat bernapas dengan spontan, dan memudahkan ia untuk disapih dari bantuan pernapasan.


Memberi seseorang tracheotomy yang lebih awal jika tidak ada tanda-tanda bisa lepas dari bantuan pernapasan dianggap sebagai praktek kesehatan yang bagus untuk alasan-alasan berikut. Kita harus terus membangunkan selama diberi bantuan pernapasan, sebagai langkah persiapan untuk melepaskan mereka dari ventilator, orang-orang yang terkena shock, mengalami kerusakan otak untuk alasan apapun seringkali kebingungan, tapi kebanyakan yang terkena serangan jantung tanpa kerusakan otak karena kekurangan oksigen tidak. Kebingungan beliau karena terjatuh telungkup, saya rasa harus dikonsultasikan dengan ahli syaraf, yang kemungkinan besar akan melakukan CT scan untuk mengukur trauma kerusakan otak sehingga orang akan tahu apa masalah yang mendasarinya.  Saya sarankan anda dan keluarga untuk meninjau bersama informasi medis dan perawatan yang telah diberikan, dan setelah membaca respon saya, membuat daftar tentang apa yang ingin anda ketahui lebih jauh dan menjadwalkan pertemuan lagi dengan dokter perawatan intensif yang memimpin, mereka mungkin dapat menjelaskan lebih baik setelah beberapa hari kemudian, mungkin setelah melakukan pengamatan ekstra dan melihat kemajuan yang ada, serta menjawab pertanyaan yang anda pikirkan.


Untuk masalah hadir di sisi ayah anda atau tidak, selama beliau tidak gelisah dan bingung, dapat dipertanyakan apa arti kehadiran anda bagi beliau. Namun, menempatkan ibu anda di sisi beliau saat perawat mencoba membangunkan ia bisa menjadi berguna. Bagi anda dan saudara anda, bahkan saat ayah tidak sadar, keberadaan anda justru berguna bagi kedamaian pikiran anda, dan jelas terlihat mendukung ibu anda meskipun anda tidak bisa berkontribusi secara aktif pada perawatan ayah anda. Sedikit tergantung masalah apakah anda harus berada di sana setiap saat, hal ini, seperti yang selalu saya katakan pada keluarga pasien-pasien saya, bergantung kepada anda. Saya biasanya menyarankan mereka untuk bergiliran menunggui pasien, jadi saat ia bangun akan ada keluarga yang bersamanya. Meskipun anda sangat ingin bersama dengan beliau setiap saat, anda tidak bisa terus-terusan melakukannya, anda akan stres dan lelah dengan cepat jika anda tidak mengurus diri anda sendiri, dan anda harus beristirahat serta tetap waspada. Jadi, salah satu saja anak yang menunggui adalah yang terbaik bagi ayah anda. Suami baru anda nampaknya juga berpikir sama, saya rasa ia belum berpikir banyak tentang adanya orang yang sangat sakit didekatnya, mungkin tidak siap untuk menerimanya, dan mungkin telah mencapai batasan emosionalnya setelah mendampingi anda dan ayah anda selama dua hari berturut-turut, dan mungkin membutuhkan normalisasi dengan kembali bekerja. Bagaimanapun juga, kita semua adalah manusia, tidak terbuat dari baja, jadi emosi kita bisa terpicu dengan keadaan yang mengancam serta tidak terduga ini.


Anda sendiri harus memutuskan untuk tetap tinggal atau kembali bekerja dan sering berkunjung (tidak saya sarankan jika jarak rumah anda dari RS lebih lama dari durasi kunjungan harian yang anda rasa harus dilakukan). Anda harus mendiskusikan ini dengan suami, tanpa menyalahkan dirinya yang pulang. Jangan memulai diskusi dengan menumpahkan frustasi, ketakutan, kemarahan anda (“kenapa sih harus ayahku yang sakit parah, kenapa tidak orang lain”) kepadanya, karena anda tahu ia tak bisa mencegahnya. Bertahun-tahun lalu saya kehilangan bayi perempuan saya setelah dua minggu yang menegangkan, melelahkan dan menguras emosi di unit perawatan intensif anak-anak. Setelahnya saya bekerja lebih keras (salah satunya dengan mengawasi unit perawatan intensif), yang saya rasa untuk mengompensasi kehilangan saya dan istri. Saya berharap dengan pengalaman saya yang sudah berada di kedua sisi, mungkin pemikiran saya dapat membantu anda. Semoga anda tetap kuat dan semoga semua membaik!



Terjawab 12 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang