Bagaiman seseorang bisa mengetahui bahwa mereka seorang bipolar?

Dilihat 538 • Ditanyakan 12 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya tidak tahu saya menderita gangguan bipolar sampai saya menemui seorang dokter yang mendiagnosa saya terkena gangguan tersebut. Tapi, saya tahu bahwa saya benar - benar gila. Seperti kebanyakan orang - orang lainnya, depresi ignin bunuh dirilah yang membuat saya menemui dokter, tapi depresi yang saya alami, meskipun parah, hanya selingan dari serangan fase manik yang gila.


Kalau mengenang ke belakang, saya dapat mengingat fase - fase manik yang saya lalui bahwa ketika saya masih anak - anak. Ketika saya remaja, tingkat laku saya yang semakin aneh dianggap karena "hormon" remaja. Apapun yang saya dan teman 0- teman saya lakukan, saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dengan batasan yang sejauh mungkin. Ketika saya semakin dewasa, peristiwa - peristiwa yang saya alami menjadi semakin tidak terkendali karena saya mulai melewati kegilaan manik. Saya masih mengalami depresi yang mendala, tetapi seperti yang saya sebutnya sebelumnya, hal itu hanya berlangsung sementara dan saya dapat melewatinya dengan mudah.


Ketika saya berusia 22 tahun, setelah tiga tahun mengalami tingkah laku yang tidak terkendali, saya benar- benar keluar dari jalur. Saya mungkin tidak tahu bahwa saya mengalami depresi manik, tapi saya tahu ada sesuatu yang salah. Saya mengalami peristirwa kegilaan yang ringan selama beberapa tahun. Ketika saya mengendarai mobil, saya tahu saya memiliki kemampuan untuk mendeteksi keberadaan polisi sebelum mereka mendeteksi keberadaan saya. Jadi saya bisa berkendara dengan kecepatan 120 km/jam di jalanan yang pada tanpa takut di tilang.


Cara saya mengendarai mobil sangat gila sehingga setelah beberapa lama teman 0 teman saya menolak untuk naik mobil bersama saya. Saya tidak tahu kondisi saya disebut apa, tapi antara fase manik dan depresi tersebut, saya tahu ada sesuatu yang tidak wajar. Saya tahu tidak semua orang dapat melakukan sesuatu hanya dengan menjentikkan jarinya atau mengetahui apa yang ada dalam pikiran orang lain, tapi walaupun gila, hal tersebut sangat masuk akal, karena saya seseorang yang luar biasa dan ditakdirkan untuk melakukan hal - hal yang luar biasa.


Pada tahun kedua saya kuliah, setelah beberapa bulan melakukan hal - hal yang aneh dan berbahaya, tiba - tiba saya merasakan depresi yang dalam. Saya berhenti kuliah. Saya menjual mobil saya. Saya mulai memberikan barang - barang yang saya miliki. Saya membuat daftar musik yang saya ingin diputarkan pada saat pemakaman saya. Saya tidak bisa beranjak dari tempat tidur, bahkan untuk makan.


Pada suatu sore teman sekamar saya dan salah seorang teman yang baik memperagakan sesuatu yang disebut dengan intervensi. Mereka melakukannya karena meerka takut bahwa suatu hari mereka akan membuka pintu kamar dan menemukan saya sudah meninggal. Jadi, karena saya pulih dari depresi saya dan dapat membuat keputusan maka saya menemui seorang psikiater. 


Yang tidak saya ketahui adalah teman - teman dan keluarga saya merasa sangat lega. Ketika saya menjelaskan mengenai depresi saya ke dokter, saya sudah memasuki tahap hipermania. Dokter saya menyadari hal tersebut dan setelah melakukan pemeriksaan dengan hati - hati dan mencari tahu riwayat saya, dia mengambil kesimpulan bahwa saya mengalami depresi manik.


Saya tidak tahu apa yang dia harapkan dari saya, tapi reaksi saya adalah kelegaan yang sangat riang, "Maksud anda ada orang - orang yang juga merasakan dan bersikap seperti saya? Dan ada sebutan untuk hal ini? Dan saya bisa minum obat dan keluar dari kegilaan hidup saya?". Sebenarnya saya menangis mengetahui bahwa saya tidak sendiri dan saya bisa mendapatkan bantuan.


Jadi begitulah saya mengetahui bahwa saya seorang bipolar, yang merupakan istilah jaman sekarang. Cerita saya terjadi di tahun 1978. Mengetahui bahwa saya seorang bipolar jauh lebih mudah daripada menjalani hidup sebagai bipolar. Meskipun sekarang saya masing mengalami fase depresi dan manik, saya lebih mampun untuk mengendalikannya dibanding sebelumnya.


Kalau kamu curiga kamu adalah seorang bipolar, belum tentu kenyataannya seperti itu. Tapi tentunya ada sesuatu yang membuat kamu berpikir demikian. Sebaiknya kamu menemui dokter dan membicarakan mengenai kesehatan mentalmu. Saya merasa beban yang sangat berat terangkat dari bahu saya ketika saya bisa melabeli kondisi saya. Saya harap, apapun diagnosa terhadap kondisimu, kamu melihatnya secara positf sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang