Bagaimana bisa beberapa orang-orang LGBT tidak menyadari bahwa mereka LGBT hingga mereka telah menjadi dewasa atau bahkan di kemudian hari pada hidup mereka?

Dilihat 519 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Saya sendiri bukan gay, saya tak punya cerita pribadi, tapi saya rasa beberapa hal berikut menjadi alasannya:

Masyarakat pada umumnya tidak mendukung hubungan LGBT. Meskipun ada peningkatan toleransi untuk jenis hubungan ini (setidaknya dibandingkan 30 tahun yang lalu), banyak orang yang tumbuh dan bergerak dalam masyarakat dimana hubungan heteroseksual itu didukung atau menjadi jenis bawaan dari hubungan yang intim. Hubungan-hubungan ini dipandang sebagai hubungan yang normal, dan diluar itu adalah sebuah penyimpangan, dan orang-orang yang tidak hetero dianggap aneh atau bertentangan.


Hal ini bisa membuat seseorang yang merasa mungkin dirinya gay menjadi sedikit lebih lama untuk "mengetahuinya". Keluarga-keluarga tidak mendukung hubungan semacam itu. Seorang anak yang memahami seksualitasnya dalam suatu keluarga yang tak mentolerir hubungan LGBT, dan mengajarkan bahwa hubungan semacam itu adalah sesuatu yang sangat dibenci, tak akan ingin mempercayai bahwa mereka bisa melakukan hal semacam itu. Mereka akan berpikir bahwa apa yang mereka rasakan tidak benar, dan akan mencoba untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka bukan LGBT supaya menjaga hubungan mereka dengan keluarga mereka.


Saya tak peduli siapa anda, ketika anda masih kecil, keluarga anda adalah dunia anda, anda peduli tentang apa yang mereka pikirkan, dan itu membentuk opini anda pada banyak hal sebagaimana anda tumbuh dewasa. Penyelewengan seksual di masa kanak-kanak bisa menimbulkan kebingungan. Bagi orang-orang yang menjadi subjek kekerasan seksual saat masih anak-anak, ada kebingungan dalam orientasi seksual mereka, apakah terhubung dengan Paman Fester yang membelai mereka sebagai anak-anak atau tidak. Mereka mungkin berpikir mereka adalah gay karena mereka bereaksi terhadap belaian itu, dan mereka tidak memahami bahwa reaksi mereka tidak terhubung pada seksualitas akhir mereka.


Lebih sulit membentuk hubungan kencan LGBT sebagai seorang remaja. Tidak banyak sekolah menengah atas dimana para remaja LGBT yang yakin dirinya adalah LGBT merasa nyaman berkencan satu sama lain di tempat terbuka sebagaimana pasangan hetero, dan tahun-tahun remaja adalah saat dimulainya hubungan kencan. Juga ada sedikit atau tidak ada sama sekali kelompok pendukung yang memberi saran remaja LGBT dalam permasalahan semacam itu atau memberikan konseling. Jadi, benar-benar tak ada cara bagi remaja LGBT untuk mengeksplor apakah mereka benar-benar "menjadi" atau "tidak menjadi", dan untuk menavigasi hubungan semacam itu. Kebanyakan menghabiskan tahun-tahun sekolah menengah atasnya dengan menyembunyikan atau mengingkarinya.


Seiring bertambahnya usia, anda semakin jujur pada diri anda. Semakin tua, anda menjadi lebih nyaman dengan diri anda sendiri, dan lebih yakin tipe orang seperti apa anda - orang dewasa usia 30 atau lebih akan mengatakan pada anda bahwa ada titik dalam masa dewasa dimana anda berhenti mempedulikan tentang apa yang dipikirkan orang lain, dan anda membuat keputusan bahwa anda akan menjadi diri anda sendiri. Remaja/pemuda-pemudi seringkali belum pada titik tersebut, jadi mereka masih akan mencoba untuk berpegang pada apapun ekspektasi dari keluarga mereka atau lingkaran sosial mereka. Jadi, sebagai contoh, mereka akan menikahi seseorang dan menekan orientasi seksual mereka karena itu adalah sebuah ekspektasi. Namun seiring bertambahnya usia, mereka akan memutuskan bahwa mereka tak bisa hidup seperti itu lagi, dan akan keluar dari hubungan itu.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang