Bagaimana bisa nama-nama di India dan Indonesia berhubungan?

Dilihat 1,71 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Hidnduisme dan Mahayana Buddhisme datang di Indonesia pada abad ke-4 dan ke-5, saat perdagangan dengan India meningkat dibawah kerajaan Pallava India selatan. Dari abad ke-7, Kerajaan angkatan laut Sriwijaya berkembang sebagai hasil dari perdagangan dan pengaruh Hinduisme dan Buddhisme yang diimpor bersamaan. Diantara abad ke-8 dan ke-10, bidang pertanian kerajaan Sailendra Buddha dan Mataram Hindu berkembang dan menurun ke pedalaman Jawa, meninggalkan monumen agama seperti Candi Borobudur dari Sailendra dan Candi Prambanan dari Mataram. Kejaraan Majapahit Hindu ditemukan di Jawa Timur di akhir abad ke-13, dan dibawah Gajah Mada, pengaruhnya menyebar sangat luas di Indonesia. Secara membudaya, Indonesia pada periode ini menjadi lebih dekat dengan India. Bisa dibilang kalau kejaraan India selatan punya kebudayaan dan keagamaan yang dekat hubungannya dengan Indonesia dan seluruh Indo-China modern.

Nama Indonesia sendiri diperoleh dari bahasa Yunani Indós dan nèsos, yang artinya "pulau". Nama ini ditanggali pada abad ke-18, jauh sebelum pembentukkan kemerdekaan Indonesia. Di tahun 1850, George Windsor Earl, seorang etnologis (ahli bangsa-bangsa) dari Inggris, mengusulkan islitah Indunesian — dan, pilihannya, Malayunesian — untuk pulau yang tidak berpenduduk pada "Kepulauan India atau Kepulauan Malayan". Dalam publikasi yang sama, murid Earl, James Richardson Logan, menggunakan Indonesia sebagai sinonim untuk Kepulauan India. Namun, akademik Belanda menulis dalam publikasi India Timur yang enggan menggunakan Indonesia. Sebagai gantinya, mereka menggunakan Istilah Kepulauan Malay (Maleische Archipel); Belanda Timur India (Nederlandsch Oost Indië), populernya Indië; Timur (de Oost); dan Insulinde

Setelah tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum di lingkungan akademik diluar Belanda, dan kelompok nasionalis Indonesia mengadopsinya untuk mengekspresikan politik. Adolf Bastian, dari University of Berlin, mempopulerkan nama itu lewat bukunya "Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archpels", 1884–1894. Sarjana Indonesia pertama yang menggunakan nama itu adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), ketika ia memancangkan pers biro di Belanda dengan nama "Indonesisch Pers-bureau" di tahun 1913.

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang