Bagaimana cara mengategorikan sayap kiri dan kanan dalam dunia partai politik Indonesia?

Dilihat 18,1 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Ada banyak partai politik di Indonesia jika dibandingkan dengan negara demokrasi lainnya. Salah satu peran partai politik yang penting adalah sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat atau sebagai sarana komunikasi politik. Mereka bertugas untuk menyalurkan pemikiran, pendapat, dan aspirasi masyarakat dan menata sedemikian rupa agar semua pihak dapat menerima keuntungannya. Di era modern ini, jika seseorang berpendapat akan sangat mudah sekali hilang tanpa bekas apabila tidak dikumpulkan dengan pendapat-pendapat yang sama. Oleh karena itu, partai politiklah yang akan menampung pendapat dan aspirasi masyarakat yang sesuai dengan keyakinan mereka, lalu menyampaikannya pada pemerintah seperti bagaimana untuk meningkatkan ekonomi negara.


Peran partai politik lainnya adalah sebagai media sosialisasi dan partisipasi politik. Keberadaan partai politik ini membuat warga Indonesia lebih sadar dan melek mengenai dunia politik di Indonesia. Sehingga dalam prosesnya, partai politik ini juga berperan sebagai wadah bagi masyarakat dan mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan regulasi dan kebijakan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan juga mempengaruhi proses pemilihan umum yang dilakukan oleh rakyat. Di Indonesia sendiri, kita lebih sering mengelompokkan partai politik dalam dua jenis yakni sayap kiri dan sayap kanan.


Di bawah ini saya akan menjelaskan dua perspektif, secara teoritis dan praktis, mengenai pengelompokan partai politik di indonesia.




Pengelompokan Partai Politik di Indonesia



Mari mulai dari perspektif teoritisnya. Beberapa partai politik di Indonesia dibangun atas dasar sayap kiri atau sayap kanan. Namun pada realitanya, saya menemukan bahwa sebuah partai ada yang sedikit bertumpu pada sayap kiri dan juga kanan. Sulit untuk mengklasifikasikan mereka, tapi mari melihat pada definisi Amerika Serikat.


Sayap-Kiri: perdagangan yang adil, egaliter, persamaan hak dan kewajiban, regulasi ekonomi, perpajakan yang ketat, masyarakat beretika, inklusif, dan sekuler.


Sayap-Kanan: perdagangan bebas, meritokrasi, kekayaan, de-regulasi ekonomi, perpajakan longgar, masyarakat bermoral, eksklusif, dan religius.


Lalu aplikasikan prinsip yang sama pada Indonesia.




Mari kita awali dengan sayap-kiri terlebih dahulu. Politik sayap-kiri adalah posisi politik atau kegiatan yang mengakui atau mendukung persamaan sosial dan egaliterianisme, seringkali dalam oposisi terhadap hirarki dan kesenjangan sosial. Kebanyakan sekuler. Prinsip ini selaras dengan Komunisme, Sosialisme, dan terlebih lagi, Marhaenisme. Partai politik di Indonesia yang sesuai dengan deskripsi ini adalah PDI-P, Hanura, Gerindra (awalnya berdiri pada sayap ini, namun kemudian bercampur karena bergabung dengan oposisi), dan semacamnya seperti Partai Buruh, PNBK, PNI Marhaen, dll.


Dan kemudian sayap-kanan. Politik sayap-kanan adalah posisi politik atau kegiatan yang memandang beberapa bentuk stratifikasi sosial atau kesenjangan sosial sebagai hal yang tak terhindarkan, alami, normal, atau diinginkan. Kebanyakan religius. Prinsip ini sesuai dengan beberapa partai Islam dan ironisnya, Partai Demokrat (di Indonesia partai demokrasi itu tengah-kanan ketimbang kiri). Yang beroperasi pada titik jauh sebelah kanan, saya rasa hanya PKS dan PBB. Sisanya lebih ke tengah-agak-kanan, seperti PKB dan PAN.


Tapi apakah itu yang sebenarnya terjadi? Tidak juga. 

Mengapa? 


Mari saya jelaskan dari perspektif praktis, Pemilihan Umum di Indonesia bekerja secara berbeda. Dalam sebuah demokrasi yang matang, setidaknya ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memberikan suara untuk seorang kandidat, yaitu:

  1. Ideologi
  2. Misi dan rencana
  3. Kepribadian (terkadang ditambah "faktor x" seperti ras atau agama)

Ya. Dengan urutan seperti itu. Ketika para kandidat presiden Amerika Serikat berdebat, ideologi (Demokrat melawan Republik) selalu menjadi yang pertama. Selalu saja Merah melawan Biru yang mencoba mencekik satu sama lain. Lantas kemudian masing-masing kandidat menjual rencana jangka pendek dan jangka panjang mereka, dan bagian terakhir untuk dipertimbangkan yakni kepribadian dari masing-masing kandidatnya serta riwayat hidupnya.


Namun di Indonesia berbeda. 


Urutannya benar-benar berbeda semuanya. Orang Indonesia cenderung berpikir dari bawah ke atas. Jadi yang pertama adalah kepribadiannya, lalu "apa rencananya", dan terakhir ideologinya. Ini sebabnya sulit untuk mengklasifikasikan partai-partai Indonesia ke sayap-kiri atau sayap-kanan karena mereka terus mengubah pendiriannya berdasarkan apa yang diinginkan para pemilik suara, karena para pemilih itu (kecuali fanatik PKS) tidak begitu peduli tentang ideologi partainya selama kandidatnya terlihat menjanjikan ("pencitraan"). 


Sebagai contoh, saya pernah sekali mendukung kedua orang ini. Gubernur Jakarta, Ahok, pernah berdampingan dengan Jokowi dan didukung oleh partai sayap-kiri, PDI-P. Orang yang di sayap kanan adalah walikota Bandung, Ridwan Kamil, dulu didukung oleh PKS, partai sayap-kanan. Ya. Saya mendukung kedua orang itu dalam tahun yang berurutan.




Bagaimana mungkin pada dua pemilihan umum di tahun 2012 dan 2013, banyak orang mendukung partai sayap-kiri dan kemudian satu tahun setelahnya mereka mendukung partai sayap-kanan? 


Jawabannya adalah karena mereka tak peduli. Mereka tak peduli karena mereka hanya melihat kandidatnya. Orang Indonesia tidak peduli jika Pria A datang dari kiri atau kanan, selama ia tampak mampu, tampak ramah dan jujur, serta cukup atraktif. Hal ini menjelaskan mengapa di Indonesia, partai-partai itu tidak bersikap sebagaimana mereka mestinya.


Partai politik di Indonesia bertindak lebih seperti sebuah perangkat untuk membagi kekuasaan, ketimbang perangkat untuk berjuang demi sebuah idealisme. Sebagai contoh, PDI-P adalah parati sayap-kiri yang seharusnya berjuang untuk persamaan hak dan kewajiban, memberikan fasilitas yang lebih baik bagi kaum miskin, rencana ekonomi nasionalis, "berdikari" atau mengurangi impor barang, membatasi hak-hak pemberi kerja, dll. Namun lihat apa yang telah dilakukan oleh perwakilannya, Jokowi misalnya:

  • Menaikkan tarif transportasi publik untuk kelas bawah
  • Mengimpor binatang ternak dari Australia
  • Membuka pintu lebar-lebar bagi investor asing
  • dll

Hmm, itu tidak tampak seperti kebijakan sayap-kiri sama sekali.


Sementara itu, Partai Demokrat (PD) adalah partai sayap-kanan ekonomi liberal yang seharusnya menyelenggarakan pasar perdagangan bebas, memberi jaminan pada bisnis yang jatuh (ingat kasus Century?), memudahkan penyelenggaraan bisnis, dan menarik investasi asing.. Namun lihatlah apa yang telah dilakukan perwakilannya, Susilo Bambang Yudhoyono:

  • Uang gratis bagi kaum miskin!
  • Bukannya pasar perdagangan bebas, tapi membatasi impor
  • Menghentikan ekspor bahan mentah, menyelenggarakan proses
  • dll

Dan itu juga tak kelihatan seperti sayap-kanan juga! 


Ini semua terjadi karena partai politik Indonesia tidak memiliki idealisme. Semua keputusan di tangan mereka sendiri, dan terkadang itu adalah sebuah ajang popularitas. 




Dan, sekarang, ijinkan saya untuk mengakhiri. Sekarang bayangkan jika hal yang sama terjadi di Amerika Serikat. Bayangkan jika tiba-tiba Demokrat menyetujui peraturan diharuskannya setiap anak membaca Injil setiap pagi hari. Atau tiba-tiba, Republik menaikkan penghasilan minimum dua kali lipat dari yang sekarang. Amerika akan kacau. Tidak, itu tak akan terjadi di Amerika Serikat. Tapi di budaya Indonesia, itu mungkin terjadi. Itulah mengapa politisi di Indonesia bisa berpindah partai tiga atau empat kali sepanjang karirnya (seperti halnya berpindah pekerjaan). 


Partai sekuler seperti PDI-P bisa menghentikan penjualan alkohol karena itu "bertentangan dengan nilai Islam". Juga dimungkinkan bagi partai seperti Gerindra untuk bergabung dengan PDI-P (sayap-kiri) dalam pemilihan umum di Jakarta tahun 2012, meski Gerindra juga bergabung dengan PKS (sayap-kanan) di Bandung tahun 2013.


Apakah Gerindra adalah kiri atau kanan? Tergantung. Di Jakarta, kiri. Di Bandung, kanan. Dan, saudaraku, itulah mengapa di Indonesia, menjadi kiri atau kanan hanyalah sebuah teori. Orang-orang hanya akan memberikan suaranya pada kandidatnya, tak mempedulikan peran partai politik di belakang mereka. Ya, kecuali mungkin orang-orang murni PKS.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang