Bagaimana para pelacur melindungi dirinya dari kehamilan dan penyakit menular seksual sebelum adanya alat kontrasepsi?

Dilihat 540 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Di era modern ini untuk menekan jumlah populasi manusia yang semakin hari semakin bertambah, pemerintah di negara-negara dengan populasi yang banyak menetapkan peraturan khusus mengenai jumlah anak yang boleh dimiliki setiap pasangan. Salah satu negara yang menetapkan peraturan semacam itu adalah Indonesia. Untuk menekan pertumbuhan penduduk, pemerintah mengenalkan berbagai macam alat kontrasepsi yang aman seperti kondom, pil KB (Keluarga Berencana), alat kontrasepsi IUD (intrauterine device), dan lain-lain. 

Namun tahukah Anda, di negara-negara maju seperti Amerika, negara-begara Eropa, dan lain-lain, di mana hubungan seksual bisa dilakukan dengan bebas, selain untuk menekan kehamilan, alat kontrasepsi yang aman juga digunakan untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual yang bisa mengincar seseorang kapan saja, terutama bagi mereka yang suka bergonta-ganti pasangan. Dan tentunya bagi orang yang memiliki profesi yang mengharuskan pelakunya bergonta-ganti pasangan atau lebih dikenal dengan istilah pelacur atau pekerja prostitusi atau pekerja seks komersial, mereka amat perlu memperhatikan hal ini. 

Meski di Indonesia, profesi semacam ini dianggap tidak legal dan haram karena bertentangan dengan nilai agama dan norma yang berlaku, bukan berarti pekerja seks komersial sama sekali tidak ada di Indonesia.


Berhubungan dengan pertanyaan di atas, kali ini saya akan membahas mengenai alat kontrasepsi, khususnya alat kontrasepsi IUD yang cukup sering digunakan, tapi masih belum sebanyak kondom atau obat KB.



Alat Kontrasepsi yang Aman


Ada banyak alat kontrasepsi yang bisa digunakan baik untuk mencegah kehamilan maupun mencegah penularan penyakit menular seksual. Yang paling sering digunakan tentunya kondom, karena praktis, mudah ditemukan, dapat mencegah keduanya, dan setelah Anda menggunakannya, Anda tinggal membuangnya tanpa perlu repot. Namun bagi wanita, terutama pekerja seks komersial, penggunaan kondom bisa menjadi tidak begitu praktis. Alasannya karena ada saja pelanggan yang merasa tidak suka menggunakan kondom. Selain itu adanya resiko kebocoran kodom pun perlu diperhatikan. Sehingga, di samping menggunakan kondom, biasanya mereka akan mengkonsumsi pil KB atau menggunakan alat kontrasepsi IUD. Karena kelalaian atau kelupaan untuk meminum obat KB bisa terjadi, alat kontrasepsi IUD adalah opsi yang cukup aman karena alat kontrasepsi tersebut ditanam di dalam rahim. IUD atau intrauterine device adalah alat pencegah kehamilan berukuran kecil yang biasanya berbentuk seperti huruf 'T' terbuat dari tembaga atau levonorgestrel dan dimasukkan ke dalam rahim. 




IUD merupakan alat kontrasepsi yang reversibel dan dianggap sebagai cara mencegah kehamilan yang paling efektif sejauh ini. Biasanya dokter akan merekomendasikan metode ini untuk mencegah kehamilan, terutama bagi pasangan yang ingin menjaga jarak antar kehamilan. Sementara bagi pekerja prostitusi, cara ini merupakan cara yang paling praktis dan memiliki jangka waktu yang panjang, biasanya hingga lima tahun. Untuk pemasangan IUD, biasanya dokter mematok haraga mulai dari lima ratus hingga delapan ratus ribu rupiah. Jika membandiungkan harga dan jangka waktu pemakaian serta keefektifannya, cara ini bisa dibilang merupakan alternatif terbaik untuk mencegah kehamilan. Alat kontrasepsi ini akan dimasukkan ke rahim dan akan menutup saluran telur sehingga telur tidak bisa dibuahi.



Meski efektif, hal yang perlu diperhatikan untuk pemasangan IUD adalah hanya dokter yang bisa memasang dan melepas alat kontrasepsi ini. Juga perlu diketahui bahwa alat kontrasepsi IUD ini lebih direkomendasikan untuk wanita yang sudah pernah mengalami kehamilan. Karena jika dipasang pada wanita yang belum pernah hamil, ia akan mengalami rasa sakit setelah pemasangan. Selain itu, alat kontrasepsi yang juga disebut sebagai spiral ini memiliki beberapa kekurangan seperti ada resiko mengalami rasa sakit atau kejang-kejang pada organ reproduksi wanita selama tiga hingga lima hari setelah pemasangan, biasanya akan terjadi perubahan pola menstruasi setelah seseorang memasang IUD, ada resiko pendarahan pada dinding rahim karena alat kontrasepsi ini bersentuhan langsung dengan dinding rahim, ketika menstruasi darah yang keluar akan lebih banyak dan bisa menyebabkan anemia, cairan serviks juga bisa menjadi lebih kental, dan lain-lain.Tak semua wanita bisa menggunakan alat kontrasepsi jenis ini. 

IUD sangat tidak dianjurkan untuk penderita radang panggul, pengidap kanker serviks atau kanker payudara, dan juga pada orang yang sudah pernah menggunakan IUD namun mengalami masalah sebelumnya.


Anda juga perlu menemui dokter secara rutin untuk melakukan pengecekan pada IUD Anda. Pengecekan perlu dilakukan karena pada kasus tertentu, alat IUD ini bisa lepas dan jika hal ini terjadi, bisa terjadi perforasi pada dinding uterus. Pemasangan IUD ini sangat mempengaruhi siklus menstruasi, selain membuat darah yang keluar lebih banyak, tak jarang IUD menyebabkan rasa sakit atau nyeri haid yang dialami menjadi terasa lebih sakit daripada sebelum pemasangan IUD. Dan yang paling perlu diingat, meski efektif untuk mencegah kehamilan, alat kontrasepsi jenis ini TIDAK BISA mencegah penularan penyakit menular seksual. Sehingga, untuk mencegah penularan penyakit menular seksual, mereka akan membutuhkan alat-alat kontrasepsi lainnya yang membentuk pelindung seperti kondom.





Apa yang Digunakan oleh Para Pelacur Sebelum ada Alat Kontrasepsi?

 

Sehubungan dengan pertanyaan ini, bagaimana pekerja seks komersial di masa lalu dapat mencegah kehamilan tanpa adanya alat-alat kontrasepsi yang memadai? 


Pada zaman dulu ada yang namanya "trik-trik dagang" yang dilakukan oleh pelacur, begitu sebutannya, tapi hanya sedikit yang sangat efektif. 

Banyak wanita, khususnya para pelacur, menggunakan sedikit spons yang dicelupkan ke cuka atau sesuatu yang asam, kemudian berharap mampu menyerap sperma dan membunuhnya sebelum sampai ke uterus. 

Ada tulisan mengenai penggunaan pangkal buah lemon untuk semacam diafragma juga. Wanita melompat-lompat setelah seks, atau cukup mencuci sebisa mungkin, berharap itu akan membantu mencegah kehamilan - tapi kemungkinan berhasilnya kecil sekali. Seorang pelacur yang "terkena" (hamil) biasanya akan tinggal di rumah bordir, tidak diizinkan untuk melayani pelanggan di masa tua kehamilannya, dan anaknya akan dibesarkan di tempat itu, atau dikirim ke panti asuhan. Amat jarang di antara mereka yang berpikir mengenai pernikahan maupun membesarkan anak mereka.


Untuk penyakit menular seksual, para pelacur mencoba sangat berhati-hati. Tapi satu hal yang perlu dikhawatirkan tentang penyakit menular seksual adalah meski penyakit tersebut sudah sembuh pertama kali setelah seseorang tertular, orang itu masih tetap terinfeksi, namun biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda fisik. 

Jadi, banyak pelacur yang meminta untuk memeriksa pelanggannya dengan seksama, apakah ia mempunyai "luka" (sifilis) atau ruam, bahkan sampai mengajak pelanggan itu melakukan ritual pembersihan bagian itu, namun jika penyakitnya sudah berkembang melewati tahapan itu, sang pelanggan tetaplah terinfeksi, dan sang pelacur akan mendapatkan dosis obatnya. 


Oleh karena itu, pemeriksaan untuk penyakit menular seksual perlu dilakukan secara rutin bagi mereka. Di tahun 1700-an, faktanya, seorang pelacur yang menunjukkan tanda-tanda penyakit menular seksual seringkali dicemooh sebagai "kapal pengangkut bom", lalu kemudian dipukuli atau dibunuh. 


Sang germo tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan pembunuhan itu, karena merasa melindungi dan menjaga para pelanggannya adalah prioritas utama. Tidak bermaksud bercanda, tapi memang pada saat itu, pelanggan jauh lebih penting ketimbang satu nyawa pelacur. 


Miris sekali, wanita dihargai tidak lebih daripada sesuatu yang digunakan dan dilupakan.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang