Bagaimana pemanasan global dan peningkatan ketinggian air bisa berefek pada Indonesia?

Dilihat 329 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Kesimpulan: Indonesia berada dalam masalah. Sekelilingnya akan terancam oleh naiknya tinggi laut, produksi makanan juga terancam oleh pergantian cuaca dan naiknya tinggi laut, ekonominya terancam, Kota besar di utara akan beresiko banjir dan harus mengganti pembangkit listrik yang mahal dan besar untuk mengurangi emisi. Sepertinya aka nada kelaparan di beberapa decade ke depan karena pergantian iklim dan akan susah untuk menyeimbangkan kekuatan persaingan.


Emisi:

Hal pertama yang harus dipikirkan yaitu Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah gas rumah kaca terbanyak, setelah AS dan China sampai baru-baru ini. Emisi CO2 di Indonesia naik drastic dari 95 juta ton di 1980 sampai sekitar 330 juta ton di 2006. Yang berhubungan adalah emisi Indonesia sebagian besar karena program penebangan hutan yang besar-besaran, yang berkurang dari 65% ditebang sampai 48% hanya dalam 16 tahun.


Dampak kehutanan

Dampak perrtama dari pergantian iklim di Indonesia sudah menjadi fokus global untuk membuatnya mengganti praktek penebangan, dan sudah menghasilkan. Penebangan sudah melambat walaupun masih terjadi. Sama seperti, membakar hutan untuk membuat lahan baru untuk penanaman pohon palem sudah menjadi perhatian internasional, sebagian karena alasan perubahan iklim, sebagian karena pembakaran tahunan yang melemparkan asap ke semua daerah, membuat kualitas udara menjadi buruk di Malaysia, Singapura dan sebagian besar Indonesia sendiri. Penundaan selama dua tahun ada di tahun 2011, tapi 2013 mempertunjukkan kabut paling buruk selama sedekade.


Dampak tenaga

Tetapi, sementara Indonesia sedang memperbaiki rekor penebangan hutan, emisi naik dengan cepat di sector lain.

Emisi sekarang dari sector tenaga tercatat 9 % dari total emisi Indonesia. Hasil dari pertumbuhan ekonomu dan industri, emisi dari industri, transprtasi, dan tenaga listrik juga meningkat. Di perkirakan kalau emisi ini akan terus bertambah dan menjadi tiga kali lipat di beberapa tahun ke depan, naik dari 275 juta ton emisi CO2 di 2003 sampai kira-kira 716 juta ton emisi CO2 di 2030.

Ini adalah ciri dari negara berkembang, yang mana mementingkan masalah populasinya miskin daripada masalah seperti polusi dan pergantian iklim. Dan menjadi lebih buruk karena Indonesia negara kepulauan dengan 17,500 pulau, 6,000 yang ditinggali. Pulau lebih mahal untuk dihubungkan dengan jaringan transmisi dan distribusi, dan kebanyakan pulai bergantung pada minyak. Jaringannya sangat tidak stabil dengan mati listrik bahkan di daerah yang sudah berkembang juga sering.


Di sisi lain, diperparah oleh kekompleksan geografi, tanpa kelistrikan yang tersedia, dan keseganan untuk bergantung pada penurunan suplai minyak domestic yang membahanbakari generator off-grid di 6,000 pulau yang berpenduduk, negara sudah terkena kekurangan suplai tenaga yang kritis. Walaupun menjadi negara ekonomi terbesar di asia tenggara, tapi memiliki tenaga listrik yang paling rendah di regionalnya. Dilema ini ditegaskan oleh ramalan yang menyebutkan kalau antara 2009 dan 2019, permintaan listrik negara akan naik dengan rata-rata 9% per tahun dan mencapai 328.3 terrawatt per jam di 2020—lebih dari dua kali tahun lalu 162.4 terrawatt per jam

Sekarang ini, tenaga listrik sangat negatif dari perspektif karbon. Sebagaimana ini menunjukkan, Indonesia mendapatkan 95% listriknya dari bahan bakar fosil, dengan setengahnya dari pembuat minyak.

Jadi dampak terbesar keduanya dari pergantian iklim di Indonesia akan menjadi jaringan tenaga yang susah dan mahal untuk diganti, sesuatu yang sudah dilakukan. Memberikan listrik ke tempat miskin d Indonesia dan menstabilkan jaringan akan sangat menghasilkan secara ekonomi, tapi masih jauh untuk membawa para petani keluar dari kemiskinan.

Ini tidak akan gampang untuk mengeluarkan zat karbon di kelistrikan Indonesia. Potensi angina sangatlah rendah, tapi tenaga matahari akan sangat bagus.


Tantangan di sini adalah kalau jaringan dekarbonasi yang efektif dan ekonomis berdasarkan tenaga yang diperbarui membutuhkan tenaga tersebut dengan angin kencang, matahari, dan air berperan di sini, bersama dengan tahapan bentuk lain seperti generator pasang surut dan biomasa. Juga membutuhkan jaringan geografis yang stabil dan besar untuk bisa memindahkan listrik dari titik generator ke titik pemakaian dan mengurangi variasi stokastik.

Tenaga air adalah hal yang bagus di Indonesia, tapi memiliki kepedulian.

Menurut Jakarta post, tempatnya memiliki potensi total 12,800megawatt, walaupun disediakan dari kementrian tenaga dan sumber daya mineral mengatakan Indonesia memiliki kapasitas seluruhnya 75,670 megawatt dari tenaga air. Saat ini, tenaga air dicatat hanya 5,705 megawatt.

Laporan PLN melaporkan tekanan Indonesia baru-baru ini di tenaga air. Di tahun lalu sendiri, negara sudah memajukan dalam proyek-proyek yang termasuk 1.030megawatt di cisokan, proyek 88megawatt di provinsi Aceh, 187megawatt di Jatiluhur, dan 90megawatt di Karebbe.

Ini artnya surya dan air bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan elektrifikasi transportasi juga memungkinkan dengan kapasitas generator yang dimiliki. Tetapi, akan di tantang oleh kekurangannya bentuk utama ketiga dari generator listrik yang bisa diperbarui untuk menyeimbangkan jaringan.


Masalah utama yang lain dari pemakaian air di khatulistiwa, tempat berhutan tidak carbon neutral. Wadduk menenggelamkan sebagian besar daerah hutan dan pohonnya meluruh secara anaerobic, melepaskan karbon daripada dimakan ulang oleh tumbuhan lain. Pembangkit tenaga air di daerah sedang ke sub-arktik lebih carbon neutral. Memungkinkan mengurangi dampak ini dengan pembangkit di sungai, tapi ini dalam skala yang lebih kecil dan tidak bisa bertindak sebagai penyimpanan air pasif, kunci mekanisme dalam menyeimbangkan jaringan.


Dampak cuaca

Indonesia sudah cukup panas dan akan terus bertambah panas, tidak mengejutkan. Tidak akan mengalami cuaca ekstrim yang dialami Australia tetapi.

Apa yang akan menjadi tantangan adalah pola presipitasi. Seluruhnya, diperkirakan akan naik presipitasi tahunan 2% sampai 3%. Lebih lagi hujan akan lebih rendah di selatan dan tinggi di utara. Akhirnya, usim hujan diperkirakan akan memendek. Kombinasi dari tiga ini artinya bagian utara dari Indonesia akan mengalami volume presipitasi lebih tinggi di jangka waktu pendek daripada vegetasi dan infrastruktur teradaptasi, menghasilkan banjir besar karena hujan berlebihan.

Contoh, banjir Jakarta di Februari 2007 berefek pada 80 wilayah dan menyebabkan macet total di kota yang terkena. Lebih dari 70,000 rumah memiliki tinggi air 5-10cm, dan kira-kira 420,000 sampai 440,000 orang dipindahkan dari rumah mereka.

Sebagaimana dengan negara lain, 100 tahun banjir menjadi 10 tahun dan 500 tahun banjir menjadi 20 tahun. Infrastruktur di bagian utara tidak didesain untuk ini dank an ada penghancuran substansial dan adaptasi mahal.


Dampak naiknya tinggi laut

Indonesia memiliki masalah dengan naiknya tinggi laut. Median proyeksi peningkatan satu meter dari 2100 akan menghasilkan hilangnya teritori dan kerusakan ekonomi yang signifikan.

Bahkan kenaikan air laut yang sedang akan berakhir dengan dampak sosio-ekonomi dan fisik yang signifikan karena kebanyakan populasi Indonesia, infrastruktur, dan lahan agraris yang subur terletak di daerah pesisir. Sekitar 60 % dari penduduk Indonesia hidup di kota pesisir rendah seperti Jakarta dan Surabaya, dan akhirnya orang-orang akan terdampak dengan kuat oleh naiknya tinggi laut. Naiknya air laut, bersama dengan wilayah teluk yang tenggelam, akan mendapatkan dampak besar di infrastruktur dan bisnis.

Akan bertambah buruk. Tidak hanya kebanyakan populasi Indonesia dan daerah agraris akan terancam, definisi Indonesia juga akan terancam.


Seperti yang dikatakan tadi, lingkungan pesisir di Indonesia terdiri dari banyak pulau tersebar dalam teritorinya. Diperkirakan kalau 1 meter kenaikan laut akan banjir sekitar 105,000 ha dari darah pesisir ini, termasuk pulau kecil. Laporan juga mengindikasikan kalau Indonesia bisa kehilangan 2,000 pulau kecil dan di 2030 termasuk naiknya air laut karena pergantian iklim. Kehilangan pulau kecil bisa merusak eritori Indonesia dengan serius karna banyak kejadian dimana pulau-pulau kecil menandakan batas negara. Studi mengindikasikan kalau setidaknya 8 dari 92 pulau terluar yang mengonstitusi garus batas teritori llaut Indonesia sangat rawan karena naiknya laut.

Kenaikan juga bisa mengurangi kehidupan dan kebun di pesisir. Kenaikan air laut kemungkinan besar akan berefek ke produksi ikan dan udang, dengan perkiraan kehilangan 7,000 ton, setimbang dengan 0.5 juta US$, di Karawang dan Subang. Citarum juga diperkirakan kehilangan 15,000 ton ikan dan udang. Efek keseluruhannya dari naiknya laut akan berujung pada kurangnya potensi pemasukan. Contoh, diprediksi kalau Subang sendiri, 43,000 pekerja kebun akan kehilangan pekerjaannya. Juga, lebih dari 81,000 petani musti mencari sumber penghasilan lain karena banjir di sawah dari naiknya laut.

Tambahan, Pergantian cuaca sudah berdampak pada petani padi dengan naiknya pokok yang bisa diprediksi panen tiga kali setahun sekarang berbeda karena pola pergantian cuaca.


Petani yang merawat sawah sekarang bingung tentang panen yang tidak biasa. Parto, petani padi jawa, berkata “panen jadi aneh (…) biasanya panen dua sampai tiga kali setahun, tapi tergantung cuaca. Kkami harus nunggu untuk kondisi yang benar tapi sekarang sudah tidak bisa diprediksi.”

Kombinasi dari dampak ke produksi makanan bisa berarti kelaparan menyapu di beberapa bagian signifikan di Indonesia.


Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang