Bagaimana penyakit celiac berevolusi dalam masyarakat, yang secara historis bergantung pada penggunaan gandum untuk mengatasi kelaparan?

Dilihat 662 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Ada beberapa permasalahan disini, yang pertama kita ketahui bersama bahwa evolusi tidak bisa melindungi diri kita dari segala penyakit, jika memang bisa maka tidak akan ada lagi penyakit. Yang kedua adalah perubahan lingkungan terjadi jauh lebih cepat ketimbang perubahan genetik, dan akan selalu ada orang-orang dengan varian gen (alel) yang membuat mereka terlindungi dari tekanan lingkungan tersebut; sedangkan sisanya tidak begitu beruntung, dan akan meresponnya dengan terkena penyakit. Akan tetapi, evolusi (sebuah perubahan pada frekuensi alel di sebuah populasi tertentu) akan terjadi hanya jika penyakitnya menimpa sejumlah anak-anak yang terpengaruh. Dalam kasus ini, jika orang dengan penyakit celiac kalah jumlah dengan orang yang tak terkena penyakitnya, maka varian gen yang terpengaruh oleh penyakit itu akan menurun dalam sebuah populasi; jika tidak, maka mereka akan terus ada dalam frekuensi yang lebih besar maupun kecil.


Penyakit celiac adalah kelainan kekebalan tubuh yang terjadi dalam merespon gluten, dan ada alel yang terpengaruh oleh penyakitnya, namun alel-alel ini (varian spesifik dari gen-gen HLA-DQA1 dan HLA-DQB1, yang merupakan kode untuk protein-protein permukaan kekebalan tubuh yang membantu mendeteksi protein asing semacam bakteri dan virus) ada di 30% dari populasi dan hanya 3% orang dengan varian ini yang akan terus mengembangkan penyakitnya. Sebagai tambahan, relasi tingkat pertama dari orang-orang dengan penyakit celiac ini memiliki peningkatan risiko terkena penyakitnya hanya 15%. Dan juga, prevalensi penyakit celiac telah meningkat sebanyak 4 kali lipat pada beberapa dekade terakhir, bahkan konsumsi gandum pun menurun. Tentu saja, ini bukan akibat perubahan genetik, karena hal ini tidak terjadi dalam beberapa dekade.

Jadi jelas ada faktor-faktor lingkungan yang sangat besar, dan belum jelas mana yang benar-benar relevan terhadap penyakit celiac. Gandum telah berubah dalam beberapa dekade terakhir, telah banyak hibridisasi yang mengubah tanaman itu sendiri dan oleh karenanya berpotensi timbul imunogenisitas dari gluten itu sendiri, dan juga gandum diolah dengan cara yang berbeda-beda, bahan kimia yang berbeda, proses ragi yang berbeda, dll.


Hipotesa lainnya adalah "hipotesa higiens", yang menyatakan terlalu bersihnya saat masa awal bayi dan masa kanak-kanak, menyebabkan kurang terpaparnya sang anak merupakan faktor yang berkontribusi pada perkembangan normal sistem kekebalan tubuh. Dalam mendukung hipotesa ini, alergi dan kelainan kekebalan tubuh lainnya juga telah meningkat di beberapa dekade terakhir.


Kesimpulannya, celiac adalah penyakit yang rumit dan ada faktor genetik dan perubahan lingkungan yang saling mempengaruhi. Namun alel HLA sangat prevalen dalam populasi umum, sudah jelas bahwa ini adalah alel "bagus" yang terpilih oleh evolusi sejak jauh sebelum orang-orang menanam gandum, dan hal itu berperan sangat penting dalam fungsi kekebalan tubuh yang sehat. Jadi evolusi bukanlah pihak yang harus disalahkan disini, tapi sepertinya perubahan mendadak dalam tekanan lingkungan yang berasal dari tanamannya sendiri, cara pengolahannya, dan bagaimana cara hidup kita.

Terjawab hampir 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang