Bagaimana perbedaan yang akan timbul jika sejarah Islam tidak dicatat melainkan hanya melalui pengajian atau pembacaan?

Dilihat 208 • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1

Rasa syukur dan do’a untuk meminta jawaban saya atas pertanyaan anda yang cukup rumit. Saya akan menjawab pertanyaan ini : Apakah ada perbedaan yang terjadi pada sejarah Islam jika Qur’an tak pernah ditulis dan tetap menjadi hafalan?

Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat asumsi. “Sejarah Islam” yang anda maksud adalah masa lalu dimana Qur’an telah disusun dalam bentuk tertulis. Sedangkan yang anda maksud dengan “perbedaan”, mempunyai arti dua hal; Satu : Islam tidak akan menyebar ke Spanyol, India, dan Sumatra jika Qur’an tidak tersusun dalam bentuk tertulis dan, Dua: Wajah Islam saat ini akan menjadi berbeda dari yang kita kenal sekarang, apabila Qur’an tidak muncul sebagai “Kitab yang kita baca” dan hanya muncul sebagai hafalan maupun puji-pujian. Yang anda maksud dengan “ditulis”, berarti adalah kompilasi dari surat-surat dan juz yang telah terungkap di masa pemerintahan Khalifah Ustman dan diawalinya sebuah standar salinan dari Qur’an untuk dipergunakan oleh semua umat di seluruh dunia. Kompilasi ini masih dipergunakan hingga saat ini. Jadi, saya menyimpulkan dari pertanyaan anda dan asumsi-asumsi saya, bahwa anda menanyakan bagaimana dunia Islam saat ini jika Qur’an bukanlah kitab yang dapat dibaca dan dipahami semua orang, tetapi justru merupakan koleksi dari puji-pujian dan mantra dan lafal yang bermelodi? Semoga saya benar.

Mari kembali ke jaman dimana Muslim menguasai lebih dari separuh dunia dan mengumpulkan pajak dari hampir seluruh golongan agama yang tinggal di negara Islam, semuanya memahami Qur’an layaknya sebuah “Manual Wajib”. Faktanya, kebanyakan pendudukan yang dilakukan saat itu merupakan komando langsung dari pemimpin-pemimpin Arab yang paham dengan Qur’an. Mereka bahkan tak perlu membacanya sesering mungkin, mereka justru hidup dengan cara Qur’an. Anda lihat disini, Qur’an bukanlah kitab yang “dibaca” layaknya literatur. Qur’an adalah sebuah manual petunjuk bagi perjalanan manusia untuk menuju Pencerahan Ilahi.

Kembali ke pertanyaan anda, jika kita menganggap Qur’an hanya sebagai sebuah hafalan saja, situasinya akan jadi seperti ini : kita akan melafalkan surat-surat Qur’an lima kali sehari, bersujud dan bangkit lagi di hadapan Tuhan yang tak dikenal dan masing-masing menjalankan hidupnya melakukan korupsi dan pencurian dan menyakiti orang lain serta melakukan tipu muslihat kepada semua orang. Kita akan melafalkan kata-kata dari Qur’an, melakukan tindak kriminal mengerikan seperti menghilangkan nyawa dan kehormatan atau sesama jenis dan menyalahkan Tuhan, yang menurunkan Qur’an sehingga kita berbuat seperti itu. Atau bahkan lebih buruk lagi, kita menghilangkan nyawa dan kehormatan dengan nama Qur’an dan Tuhan yang telah menurunkannya. Kita akan membuat seluruh akademi dan universitas dimana orang-orang akan mengirim anak-anak mereka yang pintar untuk belajar “melafal” Qur’an dengan suara yang merdu. Kemudian menyelenggarakan kompetisi nasional dan internasional “Bacaan Qur’an” dan memberi penghargaan berupa sejumlah uang kepada mereka para pembaca yang kaya, yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang mereka katakan!

Kita akan membuat masjid besar dimana lafal yang indah dari Qur’an dimainkan setiap hari saat orang-orang meminta kepada Ilahi dan berdoa. Kita tidak akan berjuang dan berusaha mencapai tujuan kita, karena telah puas dengan berdoa di masjid dimana lafal yang ajaib sedang dimainkan. Kita akan menerima para preman dan pencuri serta penjahat sebagai pemimpin kita, terpesona dengan kemewahan mereka, tanpa mengetahui siapa pemimpin yang ditunjuk Ilahi agar memberi kebaikan bagi kemanusiaan.

Jadi, secara sederhana, sejarah Islam yang penuh kemenangan akan digantikan dengan kondisi buruk yang terjadi saat ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Mayoritas muslim melakukan ibadah wajib dan jelas sekali tidak mentaati perintah dasar dari Qur’an.

ISIS – Teringat sesuatu? (Entah ditanamkan atau tidak, mereka mengklaim tindakannya sesuai dengan Qur’an !!) Sebagian besar akademi menyatakan mengajarkan Qur’an, mengajarkan bacaan! Tanpa pemahaman. Lihat saja di masjid manapun! Lihat politisi dan monarki dari mayoritas negara-negara muslim.

Syukurlah, kita memiliki Qur’an dalam bentuk yang bisa dibaca sejak jaman dahulu dan kita akan terus berpegang padanya sampai akhir......spekulasi yang tidak diperhitungkan; milik anda atau saya!

Terjawab 12 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang